Penulis: Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. hafizhahullah
Fenomena hijrah yang kini semakin meluas menunjukkan, bahwa banyak hati mulai merindukan kebenaran. Kajian-kajian dipenuhi, grup dakwah semakin aktif, dan media sosial ramai dengan semangat untuk berubah. Namun, di balik semangat itu, muncul ujian yang tak kalah berat: sebagian orang yang baru ber-hijrah merasa lebih suci dan memandang rendah mereka yang belum berubah. Ini adalah jebakan kesombo-ngan yang justru merusak makna hijrah itu sendiri.
Sebab sejatinya, hijrah bukan hanya tentang perubahan penampilan, bacaan, atau lingkungan. Hijrah sejati mencakup perubahan sikap dan akhlak: cara bicara yang lebih lembut, pandangan yang lebih bijak terhadap sesama, serta adab yang mencerminkan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Tanpa itu, hijrah hanya menjadi tampilan luar tanpa makna yang sebenarnya. Di sinilah pentingnya memahami, bahwa hijrah harus menjadikan kita lebih merunduk, bukan meninggi.
A. Memahami Hakikat Hijrah
1. Hijrah adalah Proses, Bukan Titik Akhir
Hijrah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik awal dari sebuah perjuangan panjang. Ia bukan garis finis, tapi garis start yang menuntut kesungguhan agar terus memperbaiki diri. Banyak orang merasa cukup hanya dengan perubahan penampilan atau lingkungan, padahal hijrah sejati adalah perjalanan konsisten menuju kebaikan.
Dalam Al-Quran, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ١١٢
“Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan, begitu pula orang yang telah bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hūd [11]: 112)
Ayat ini menegaskan pentingnya istiqamah: konsisten dalam ketaatan, menjaga kemurnian akidah, menjalankan syariat dengan benar, serta memperbaiki akhlak dan adab dalam pergaulan. Maka hijrah bukan hanya soal berubah, tapi bertahan dalam perubahan itu dengan kedisiplinan dan ketulusan yang terus terjaga.
2. Hijrah dari Maksiat Menuju Taat
Hijrah yang sejati bukan sekadar berpindah tempat atau mengganti penampilan, melainkan perubahan arah hidup secara menyeluruh, dari kesyirikan menuju Tauhid, dari bid’ah menuju sunah, dari maksiat menuju ketaatan, dari akhlak yang tercela menuju akhlak yang mulia, dan dari kebodohan menuju ilmu. Ia adalah proses meninggalkan segala bentuk dosa demi meraih rida Allah dengan hati yang tunduk dan bersih, serta akhlak yang semakin terjaga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Seorang Muslim sejati ialah yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah sejati adalah yang meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.”
Hadis ini menegaskan, bahwa kemuliaan seorang Muslim tidak cukup hanya dilihat dari tampilan luar, tetapi dari sejauh mana ia mampu menahan diri untuk tidak menyakiti sesama. Maka, hijrah yang benar adalah hijrah dari segala bentuk larangan Allah Subhanahu wa ta’ala, baik dosa lisan (seperti gibah dan fitnah), maupun dosa perbuatan (seperti menzalimi dan mengambil hak orang lain). Hijrah sejati adalah ketika perubahan lahir sejalan dengan perbaikan batin, dari kecintaan pada dosa menuju kerinduan kepada ampunan dan kebaikan.
B. Bahaya Merasa Lebih Baik dari Orang Lain
Salah satu jebakan paling berbahaya setelah berhijrah adalah perasaan paling benar, paling suci, dan paling selamat dari dosa. Sebuah rasa yang sering kali tersembunyi di balik perubahan penampilan juga semangat dalam amal, namun justru beracun bagi hati. Padahal, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah banyaknya amal yang tampak, melainkan ketulusan dan kerendahan hati dalam menjalaninya.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Merendahkan saudaramu karena dosanya adalah kesalahan yang lebih besar dan lebih berat daripada dosa yang ia perbuat. Sebab dalam celaan itu tersembunyi kesombongan dalam ketaatan, merasa diri suci, rasa bangga terhadap amal, serta pengakuan tidak langsung bahwa dirimu bersih dari dosa.”Sungguh, bisa jadi, seorang pendosa yang menangis dalam penyesalan lebih dekat kepada rahmat Allah dibanding orang yang merasa sudah suci karena amalnya. Sebab, rintihan hati yang hancur, rasa hina di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala, dan kesadaran akan kelemahan diri jauh lebih berharga daripada bangga diri dalam ketaatan. Maka, berhati-hatilah, karena merasa paling benar bisa menjadi dosa yang lebih besar dari dosa orang yang sedang kau nilai.
C. Adab-Adab Setelah Hijrah
Hijrah bukan hanya perpindahan keyakinan dan perbaikan amal, tapi juga perubahan sikap dan akhlak da-lam berinteraksi. Banyak yang telah berubah penampilannya, tapi belum mengubah cara bicaranya. Banyak pula yang memperbaiki ibadahnya, tapi masih kasar kepada orang tua dan arogan kepada saudara. Maka, inilah adab-adab penting yang harus tumbuh bersama hijrah:
1. Tawadhu‘ (Rendah Hati)
Semakin dalam seseorang mengenal kebenaran, seharusnya ia semakin merunduk, bukan meninggi. Tawadhu‘ adalah ciri dari ilmu yang benar dan iman yang matang. Orang yang berhijrah perlu menjaga hati agar tidak merasa diri paling benar atau paling suci. Ia harus tetap mau belajar, menerima nasihat, juga membuka ruang untuk melihat bahwa dirinya pun bisa salah. Karena semakin seseorang merasa benar sendiri, semakin jauh ia dari bimbingan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Sebaliknya, ketika seseorang mulai merasa cukup dengan amalnya seolah dirinya telah memegang tiket Surga, maka di sanalah ujian tersembunyi itu bermula. Dari rasa cukup, tumbuh ujub; dari ujub, lahirlah kesombongan; dan dari kesombongan, muncullah penyakit hati yang lebih berbahaya daripada maksiat terang-terangan. Sebab, dosa yang diiringi tangis dan taubat masih menyisakan harapan, tetapi ketaatan yang dibalut bangga diri bisa menutup pintu ampunan tanpa disadari.
Orang yang benar-benar mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala justru paling dalam istighfarnya setelah beramal. Mereka sadar, bahwa salat mereka hanya terjadi karena diizinkan-Nya, amal mereka rapuh tanpa bimbingan-Nya, dan setiap sujud hanyalah tanda pengakuan bahwa mereka ini lemah.
2. Menjaga Lisan
Hijrah seharusnya memperhalus lisan, bukan justru membuatnya tajam dalam mencela. Jangan mudah membicarakan masa lalu orang lain, apalagi dengan nada merendahkan. Jangan pula merasa paling layak menggurui, padahal kita pun masih belajar. Lisan yang baik adalah lisan yang penuh doa, bukan tudingan, karena lisan adalah cermin dari hati, dan hijrah yang benar akan membersihkan keduanya.
Sungguh, jangan pernah meremehkan orang lain hanya karena dosanya, sebab engkau tak pernah tahu di mana posisi seseorang di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Air mata saudaramu yang jatuh dalam sunyi bisa lebih berat timba-ngannya daripada seluruh ibadahmu yang dibumbui dengan rasa cukup. Dosa yang membuatnya tunduk dan menangis bisa menjadi penyembuh bagi penyakit hatinya, sementara kesalehanmu yang dipenuhi rasa bangga bisa menjadi sebab kesesatan yang tak kau sadari.
Maka, jangan hakimi seseorang dari kejatuhannya, karena bisa jadi dari sanalah Allah Subhanahu wa ta’ala menumbuhkan kekuatan dan kemuliaannya. Jangan pula tergesa menilai siapa yang lebih dekat dengan rahmat Allah, sebab rintihan penyesalan si pendosa yang sadar bisa lebih indah daripada tasbih dari bibir yang merasa suci.
3. Ikhlas dan Konsisten
Hijrah tidak bertujuan untuk dinilai oleh manusia, tapi untuk mendekat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka, ikhlas menjadi fondasi utama. Jangan berhijrah hanya karena tren, lingkungan, atau ingin dianggap lebih baik. Dan setelah berhijrah, janganlah berhenti. Teruslah belajar, teruslah memperbaiki, dan bersabarlah dalam menjaga jalan ini. Karena istiqamah jauh lebih berat daripada memulai.
4. Menjaga Etika Sosial
Hijrah bukan berarti memutus hu-bungan, melainkan memperbaiki cara menjalin hubungan. Tetap hormati orang tua meski belum sejalan, tetap santun kepada tetangga meski berbeda pandangan, dan tetap ramah kepada masyarakat meski belum memahami apa yang kita pahami. Adab islami adalah dakwah yang paling nyata, ia berbicara lebih lantang dari sekadar ceramah.
Penutup
Hijrah bukan untuk dibanggakan, tapi dijaga sebagai amanah. Ia bukan alasan untuk merasa lebih baik, tapi panggilan untuk lebih banyak menunduk dan memperbaiki diri. Sebab yang Allah Subhanahu wa ta’ala lihat bukan sekadar perubahan tampilan, tapi hati yang lembut, sabar, dan penuh kasih.
Jangan sampai hijrah menjadikan kita tinggi hati terhadap mereka yang belum berubah. Bisa jadi, hati mereka lebih jernih di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka, jagalah hijrah dengan adab yang baik, lisan yang mendoakan, juga sikap yang merangkul. Karena kemuliaan sejati adalah kelembutan hati dan kejujuran di hadapan Rabb kita. Semoga hijrah kita diterima dan dijaga dari ujian merasa paling suci. Amin.
Dikutip dari:


