Penulis: Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. hafizhahullah
Pendahuluan
Beberapa waktu ke belakang, negeri kita diguncang kegaduhan. Apa yang semula dikira sekadar menyuarakan aspirasi, berubah menjadi kerusuhan. Api melahap sebagian fasilitas umum, kaca pecah berhamburan, toko dan rumah dijarah. Orang-orang berlarian bukan lagi untuk mencari kebenaran, melainkan demi menyelamatkan diri.
Di tengah hiruk pikuk seperti itu, ada saja yang terluka, ada yang kehilangan harta, dan ada pula yang kehilangan nyawa. Air mata keluarga bercampur dengan asap kebakaran. Bukan itu tujuan awal, tetapi begitulah fitnah bekerja. Ia mengubah niat baik menjadi kekacauan yang menelan banyak pihak.
Fitnah bukan hanya sekadar tudu-han dusta atau kabar bohong. Fitnah adalah saat akal sehat berhenti bekerja sementara emosi yang memimpin. Tangan bergerak sebelum akal sempat menimbang. Kebenaran menjadi samar, keadilan dituntut dengan cara yang zalim.
Media sosial hanya terus menambah keruh suasana. Kabar simpang siur beredar lebih cepat daripada cahaya. Ada foto yang dipasang tidak pada tempatnya. Ada video lama yang disulap seakanakan peristiwa baru. Ada berita dipelintir sehingga tampak lain dari kenyataan. Semua itu menyebar luas, membuat orang semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Beginilah fitnah mempermainkan manusia. Yang merasa berjuang, bisa jadi sedang merusak. Yang merasa membela kebenaran, bisa jadi sedang menebar kebohongan. Fitnah menjadikan orang lupa batas, lupa kepada Allah yang kelak meminta pertanggungjawaban.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan tentang masa-masa seperti ini, masa yang gelap bagaikan potongan-potongan malam. Beliau mengajarkan agar kita menahan lisan, menjaga diri, dan memperhatikan keselamatan iman serta keluarga. Sebab, dalam fitnah, hal yang paling pertama harus dijaga adalah hati agar tidak hanyut.
Diam dalam kebaikan sering lebih selamat daripada bicara yang menambah luka. Menjaga diri di rumah kadang lebih bijak daripada ikut arus keramaian yang berujung pada kebinasaan. Islam tidak mengajarkan kita lari dari tanggung jawab, tetapi menegaskan agar jangan sampai menjadi bagian dari kerusakan.
Fitnah itu ibarat gelombang besar. Siapa yang hanyut akan tenggelam, tetapi siapa yang berpegang pada tali Allah akan selamat. Maka kembalilah kepada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Di sana ada cahaya yang menuntun langkah, menenangkan hati, dan menyelamatkan keluarga.
Dari sinilah pentingnya kita mem-bahas hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang fitnah, khususnya hadits sahabat mulia ‘Abdullāh bin ‘Amr bin al-‘Āsh radhiyallahu’anhu. Hadits ini memuat pedoman berharga tentang apa yang harus dila-kukan seorang muslim di tengah badai fitnah.
Mengapa artikel ini penting untuk dibaca hingga tuntas? Karena umat pada masa kini sangat membutuhkan penjelasan tentang fitnah dan jalan selamat darinya. Banyak orang mudah goyah ketika fitnah datang, sebab ilmunya tipis dan pemahamannya lemah. Tidak sedikit pula yang berani meremehkan perkara pokok agama, bahkan berbicara tentang agama Allah tanpa ilmu, padahal tidak memiliki kapasitas. Ada yang nekat melangkah ke persoalan besar yang seharusnya ia jauhi, sementara seorang muslim seharusnya menahan diri.
Membahas hadits ini berarti berkhidmat kepada sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dari sisi periwayatan maupun pemahaman. Hadits ‘Abdullāh bin ‘Amr memuat arahan dan kaidah penting yang sangat dibutuhkan setiap muslim ketika fitnah melanda. Di dalamnya juga tercermin sikap Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, bagaimana mereka memahami hadits-hadits tentang fitnah dan menyikapi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengannya.
Lebih dari itu, pembahasan ini hadir sebagai bekal: agar kita dapat berjalan di atas petunjuk, menjaga iman dengan kebaikan dan ketakwaan, menerangi langkah hidup dengan cahaya wahyu, dan terselamatkan dari jurang kebinasaan.
Perlu kami sampaikan bahwa artikel ini disusun dengan merujuk kepada kitab Mauqiful Muslim minal Fi-tan fī Dhau’ Hadits ‘Abdillah bin ‘Amr (Sikap Muslim Menghadapi Fitnah dalam Cahaya Hadits Abdullah bin Amr) karya Dr. Nawal bin Abdul Aziz al-‘Id, terbitan Dar al-Hadharah, cetakan pertama tahun 1434 H/2013 M, setebal 82 halaman.
Dalam penyajiannya, sebagian catatan kaki dan rujukan yang cukup banyak pada kitab asli tidak kami sertakan, agar bacaan ini lebih mudah diikuti oleh para pembaca dalam format elektronik dan tidak terlalu panjang. Namun, bagi siapa pun yang berkeinginan mendapatkan penjelasan yang lebih sempurna berikut dalil dan keterangan ulama secara lengkap, kami sangat menyarankan untuk merujuk langsung kepada kitab tersebut.
Definisi Fitnah
Secara Bahasa
Kata fitnah berasal dari akar kata fa’, ta’, dan nun, yang artinya adalah ujian dan cobaan. Dalam kalimat bahasa Arab, kata ini digunakan untuk menggambarkan proses meleburnya emas dan perak dengan api agar tampak mana yang murni dan mana yang kotor. Dari sini, kata fitnah juga dipakai untuk makna pembakaran, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa (membakar) laki-laki mukmin dan perempuan mukmin…” (QS. Al-Burūj: 10)
Makna lainnya, fitnah bisa digunakan untuk menunjuk ujian berupa hilangnya harta, akal, atau keadaan yang membuat seseorang goyah. Dalam penggunaannya, kata fitnah juga dipakai untuk kesesatan, dosa, penyimpangan dari kebenaran, bahkan peperangan dan pertumpahan darah.
Secara Istilah Syariat
Dalam istilah syariat, makna dasar fitnah adalah ujian dan cobaan. Selanjutnya istilah ini digunakan untuk menggambarkan setiap keadaan yang melalui ujian tampak keburukannya, atau perkara yang akibatnya menimbulkan hal-hal yang dibenci.
Dari sini, kata fitnah kemudian dipakai untuk menyebut segala sesuatu yang buruk atau mengarah kepadanya, seperti kekufuran, dosa, pembakaran, kehinaan, kefajiran, peperangan karena kebodohan, perebutan dunia, mengikuti hawa nafsu, dan semisalnya.1
Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata:
الْفِتْنَةُ إِذَا لَمْ يَكُنْ إِمَامٌ يَقُومُ بِأَمْرِ النَّاسِ
Fitnah itu muncul ketika tidak ada imam (pemimpin) yang menegakkan urusan manusia.2
Sedangkan az-Zamakhsyari menjelaskan:
وَالْفِتْنَةُ: الِامْتِحَانُ بِشَدَائِدِ التَّكْلِيفِ مِنْ مُفَارَقَةِ الْأَوْطَانِ، وَمُجَاهَدَةِ الْأَعْدَاءِ، وَسَائِرِ الطَّاعَاتِ الشَّاقَّةِ، وَهَجْرِ الشَّهَوَاتِ وَاللَّذَّاتِ، وَبِالْفَقْرِ وَالْقَحْطِ وَأَنْوَاعِ الْمَصَائِبِ فِي الْأَنْفُسِ وَالْأَمْوَالِ، وَبِمُصَابَرَةِ الْكُفَّارِ عَلَى أَذَاهُمْ وَكَيْدِهِمْ وَضَرَارِهِمْ
Fitnah adalah ujian berupa beratnya beban syariat, seperti harus meninggalkan kampungnya, berjihad melawan musuh, menjalankan ketaatan yang berat, meninggalkan syahwat dan kenikmatan, menghadapi kefakiran dan paceklik, berbagai musibah pada jiwa, harta, serta bersabar atas berbagai gangguan, tipu daya dan bahaya dari orang-orang kafir.3
Hubungan Bahasa dan Istilah
Makna bahasa dan makna syar‘i dari fitnah itu saling berkaitan. Fitnah berfungsi menyingkap siapa mukmin yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya berpura-pura. Melalui fitnah, akan tampak pula buruknya niat orang yang imannya tidak tertanam kuat di dalam hati.
Di sisi lain, fitnah juga membersihkan hati kaum mukmin dari penyakit yang tersembunyi sehingga setelah melewati ujian, mereka keluar dengan hati yang lebih jernih dan iman yang semakin kokoh.
Keadaan ini serupa dengan emas atau perak yang dimasukkan ke dalam api. Kotorannya terbakar habis sementara yang tersisa hanyalah yang murni dan bernilai.4
Fitnah dari Segi Jenisnya
Jika ditinjau dari segi jenisnya, fitnah terbagi menjadi dua: fitnah syubhat dan fitnah syahwat.
A. Fitnah Syubhat
Fitnah syubhat adalah fitnah yang paling berbahaya. Ia berkaitan langsung dengan akal dan hati. Bentuknya bisa berupa keraguan terhadap agama, pemikiran yang menyimpang, kesyirikan, atau bid‘ah.
Penyebab utamanya adalah lemahnya ilmu, dangkalnya bashirah5, serta rusaknya niat yang dibarengi dominasi hawa nafsu.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ
“Mereka hanya mengikuti persangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu.” (QS. An-Najm: 23)
Dan Allah berpesan kepada Nabi Dawud alaihissalam,
وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“…janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shād: 26)
Bahaya fitnah syubhat terletak pada akibatnya: ia bisa menggelincirkan manusia ke dalam kekufuran atau kemunafikan. Fitnah seperti inilah yang menimpa kaum munafik dan pengikut bid‘ah. Dalam kondisi seperti itu, cahaya petunjuk bercampur dengan kegelapan kesesatan.
Contoh di masa kita: Fitnah syubhat sering muncul lewat berita yang bohong, cerita yang memprovokasi, atau penafsiran agama yang keliru. Ada video lama yang dipotong lalu disebar ulang seakanakan kejadian baru. Ada juga hasil rekayasa teknologi seperti AI yang membuat gambar atau suara terlihat nyata. Ditambah lagi, banyak akun palsu di media sosial yang menyebar kabar untuk menggiring opini.
Orang yang tidak hati-hati mudah percaya, cepat menyalahkan, bahkan menuduh tanpa bukti. Inilah syubhat: kebingungan dan kerancuan yang menutup jalan menuju kebenaran. Seorang mukmin harus sadar, tidak semua yang terlihat nyata itu benar, dan tidak semua yang ramai dibicarakan sesuai dengan kenyataan.
B. Fitnah Syahwat
Fitnah syahwat adalah fitnah yang paling sering menimpa manusia. Ia berupa godaan harta, wanita, kedudukan, atau berbagai syahwat dunia lainnya.
Sebab-sebabnya adalah kecintaan dunia, banyak berbuat maksiat, lalai dari ketaatan, dan meremehkan dosa.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41)
Fitnah syahwat menimbulkan kerusakan nyata: pencurian, perampasan, perusakan berbagai macam fasilitas umum, bahkan hilangnya nyawa. Ia juga menghapus berbagai nikmat yang Allah berikan.
Contoh di masa kita: fitnah syahwat tampak ketika aksi yang awalnya disebut menyuarakan aspirasi berubah menjadi kesempatan menjarah toko, merusak gedung, dan membakar kendaraan. Orang yang terjerumus ke dalamnya bukan lagi mencari kebenaran, tetapi menuruti syahwat marah dan kerakusan dunia. Itulah sebabnya, di tengah kerusuhan selalu ada korban harta dan nyawa.
Ringkasan Penting
Dari kejadian beberapa waktu lalu, kita bisa melihat bahwasanya fitnah syubhat dan fitnah syahwat sering berjalan beriringan.
Syubhat muncul dalam bentuk kabar simpang siur yang membingungkan masyarakat. Syahwat pun muncul dalam bentuk amarah, nafsu merusak, dan sangat rakus terhadap harta milik orang lain. Keduanya saling bisa melengkapi dalam menimbulkan kekacauan.
Karena itu, syubhat hanya dapat ditolak dengan ilmu dan keyakinan, sementara syahwat hanya bisa dilawan dengan kesabaran dan pengagungan kepada Allah.6
Di sinilah setiap muslim patut merenung. Saat kita dengan mudah menyebarkan kabar yang memang belum jelas, atau ikut turun ke jalan tanpa ilmu dan bimbingan syariat, apakah kita yakin tidak sedang menjadi bagian dari fitnah itu sendiri?
Skala Fitnah
Jika ditinjau dari skalanya, fitnah dapat dibagi menjadi dua bentuk.
Fitnah Khusus
Fitnah khusus adalah ujian yang menimpa seorang hamba dalam lingkup pribadi. Bentuknya bisa berupa cobaan dalam keluarga, godaan harta, atau ujian dalam pekerjaan sehari-hari.
Allah berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian bagimu).” (QS. At-Taghābun: 15)
Ayat ini menunjukkan bahwa apa yang paling dekat dengan kita, yaitu keluarga dan harta, bisa menjadi sebab kebaikan bila disikapi dengan keimanan. Akan tetapi, bisa juga berubah menjadi sebab kehancuran bila kita lalai.
Fitnah Umum
Fitnah umum adalah fitnah besar yang mengguncang masyarakat luas. Ia digambarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam seperti gelombang laut yang bergulung-gulung. Fitnah ini tidak hanya menimpa pelaku keburukan, bahkan bisa saja fitnah ini menimpa orang-orang shalih yang ada di tengah-tengah mereka.
Allah berfirman,
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
“Dan takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian secara khusus.” (QS. Al-Anfāl: 25)
Inilah fitnah yang wujudnya bisa berupa kekacauan politik, kerusuhan sosial, penindasan, penjarahan, bahkan peperangan. Gelombangnya begitu besar sehingga membuat banyak orang kebingungan, siapa yang benar dan siapa yang salah.
Renungan
Fitnah ibarat ombak besar yang datang tanpa mengenal waktu. Ketika ia menggulung, tidak lagi dibedakan mana nelayan yang berpengalaman dan mana yang masih pemula. Semua bisa tenggelam bila tidak segera mencari pegangan.
Demikian pula fitnah yang melanda masyarakat. Ia menyeret orang baik maupun orang jahat, orang berilmu maupun orang awam, bila semuanya lengah dan tidak kembali kepada Allah. Kita melihatnya sendiri di negeri ini, beberapa waktu lalu: bagaimana api menyala di jalanan, kaca berhamburan, harta orang lain dijarah, dan kabar simpang siur bertebaran di layar ponsel. Betapa banyak yang merasa sedang memperjuangkan kebenaran, tetapi justru menjadi bagian dari kerusakan.
Di saat seperti ini, setiap kita patut bertanya ke dalam hati: Apakah benar aku telah menimbang setiap langkahku dengan ilmu? Apakah lisan dan jemariku yang menekan tombol ponsel ini hanya menyebarkan kebaikan, atau justru ikut menambah luka dengan berita yang tak jelas sumbernya? Apakah kehadiranku di tengah keramaian ini membawa kemaslahatan, atau justru menjadikanku bagian dari kerusuhan?
Manusia sering silau oleh teriakan ramai dan lupa mendengar bisikan hati nurani. Maka diam dalam kebai-kan bisa lebih mulia daripada bicara yang menambah luka. Menjaga diri di rumah kadang lebih bijak daripada hanyut dalam arus keramaian yang berujung pada penyesalan.
Setiap muslim harus jujur kepada dirinya. Jangan-jangan kita merasa menjadi penonton, padahal diam-diam kita ikut menjadi pelaku. Jangan-jangan kita merasa sedang menjaga agama, padahal sebenarnya kita sedang merobohkan tiangnya. Maka, marilah kita kembali kepada kitab Al-Qur’an dan Sunnah agar hati tetap jernih, langkah tetap lurus, dan keluarga tetap selamat dari gelombang yang terus mengguncang.
Referensi:
- Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 13/34 ↩︎
- Al-Ahmadi, Al-Masā’il war Rasā’il al-Marwiyyah ‘anil Imam Ahmad fil ‘Aqidah, 2/12 ↩︎
- Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 3/182. ↩︎
- Ibid., hlm. 38. ↩︎
- Pandangan hati ↩︎
- Ibnul Qayyim, Ighātsatul Lahfān, 2/167 ↩︎
Dikutip dari:


