Penjelasan Nama-nama Syar’i Ahlussunnah wal Jamaah #3

HomeNasehat

Penjelasan Nama-nama Syar’i Ahlussunnah wal Jamaah #3

PENJELASAN NAMA-NAMA SYAR’I AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH #3 Oleh: Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi  Keenam: As-Salafiyyah atau As-Salafiyyun

Ikhlas #3
Ikhlas #7
Mukadimah Amalan-Amalan Hati #2

PENJELASAN NAMA-NAMA SYAR’I AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH #3

Oleh: Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi 

Keenam: As-Salafiyyah atau As-Salafiyyun
Kata ini adalah nisbah kepada Salaf, sedangkan Salaf secara bahasa adalah bentuk jamak dari Salif, bermakna yang mendahului, maka Salaf adalah para pendahulu, seperti yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَجَعَلۡنَٰهُمۡ سَلَفٗا وَمَثَلٗا لِّلۡأٓخِرِينَ  

dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.”  (Az-Zukhruf [43]: 56) 

Al-Baghawiy berkata dalam tafsirnya: “Salaf adalah para pendahulu dari leluhur, maka kita jadikan para pendahulu sebagai senior agar generasi berikutnya mengambil pelajaran dari mereka.

Ibnu Al-Atsir berkata: “Salaf seseorang adalah yang wafat lebih dahulu, yaitu nenek moyang dan kerabatnya, oleh karena itu, generasi awal dari pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dinamakan As-Salaf Ash-Shalih, ini adalah makna salaf menurut tinjauan bahasa.”

Adapun makna Salaf secara istilah, siapakah As-Salaf Ash-Shalih? Bagaimana manhaj mereka dalam akidah? Apakah karakteristik yang paling menonjol dari manhaj mereka? Inilah yang akan kita kaji – insya Allah- pada pembahasan berikutnya.

1. Definisi Salaf menurut istilah
Telah berlalu penjelasan mengenai makna Salaf secara bahasa, adapun makna Salaf menurut istilah, maka para ulama telah berselisih pendapat, namun yang paling penting dari pendapat-pendapat tersebut adalah:

  1. Salaf adalah para Sahabat saja,
  2. Salaf adalah para Sahabat dan Tabi’in
  3. Salaf adalah para Sahabat, Tabi’in dan pengikut Tabi’in (Tabi’ut-tabi’in)
  4. Salaf adalah generasi yang hidup sebelum tahun 500 Hijriyah (abad kelima), pendukung pendapat ini mengeklaim bahwa Salaf adalah suatu mazhab (pendapat) yang dibatasi dengan zaman tertentu yang tidak melebihi tahun ke 500 Hijriyah, kemudian cara pandang berkembang setelah itu, melalui tokoh-tokoh Islam.

Apakah pembatasan dengan waktu itu cukup untuk mendefinisikan Salaf? Jika kita katakan bahwa makna Salaf ditinjau berdasarkan zaman adalah tiga generasi terbaik, karena merujuk kepada hadits-hadits yang menyebutkan generasi yang paling utama, lantas, apakah setiap orang yang hidup pada masa itu akan kita anggap sebagai Salaf yang dijadikan sebagai teladan?

Tidak diragukan lagi, tidaklah demikian, dan jawaban atas pertanyaan ini sudah pasti “tidak”. Karena pada masa tersebut telah bermunculan kelompok-kelompok yang menyimpang.

Maka, pembatasan Salaf dengan zaman tidaklah tepat, karena selain menjadi pendahulu berdasarkan zaman, juga harus ada kecocokan pemahaman mereka dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Oleh karena itu, siapa pun yang pemahamannya menyelisihi Quran dan Sunnah, maka bukanlah Salafi, kendati pun hidup di masa Sahabat dan Tabi’in.1

Jadi, keberadaan seseorang pada tiga generasi ini, tidaklah otomatis menjadikannya disebut berada di atas Mazhab Salaf, selagi ucapan dan perbuatannya tidak sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Selama tidak ittiba’ dan masih mengamalkan bid’ah. Maka kebanyakan ulama ketika menggunakan istilah ini membatasinya dengan mengatakan: “As-Salafush Shalih”.

Imam As-Safariniy rahimahullah berkata: “yang dimaksud dengan Mazhab Salaf adalah apa yang dianut oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mulia, para senior dari kalangan Tabi’in rahimahullah, Tabi’ut tabi’in dan para imam yang diakui keimaman mereka, jelas peran mereka dalam agama, ucapan-ucapan mereka diikuti oleh orang-orang yang hidup kemudian, bukan orang tertuduh dengan kebid’ahan atau dikenal dengan gelar-gelar yang buruk seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyyah, Murji’ah, Jabariyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, Karramiyyah dan yang lainnya“.2

Sang imam berhati-hati dalam mendefinisikan Salaf, sehingga beliau membatasi Salaf yang dijadikan teladan adalah orang yang dikenal keimaman mereka dan tidak tertuduh dengan suatu bid’ah,

maka tidak setiap Salaf itu dijadikan panutan, karena yang dijadikan teladan itu hanyalah Salaf yang merupakan orang-orang pilihan dari kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum, para imam dari kalangan Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in rahimahullah yang telah dinyatakan sebagai orang-orang terbaik, dikenal berpegang teguh dengan sunnah dan menjadi imam dalam sunnah, menjauhi bid’ah dan memperingatkan orang dari keburukannya.

Allah telah memerintahkan kepada kita agar mengikuti jalan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, menapaki jejak dan menempuh manhaj mereka, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّ

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku”. (Luqman [31]:15)

Imam Ibnul Qayyim berkata:

وَكُلٌّ مِنَ الصَّحَابَةِ مُنِيْبٌ إِلَى اللهِ فَيَجِبُ اتِّبَاعُ سَبِيْلِهِ وَأَقْوَالِهِ وَاعْتِقَادِاتِهِ مِنْ أَكْبَرِ سَبِيْلِهِ

“Semua sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka wajib mengikuti jalan mereka, ucapan dan akidah yang merupakan jalan mereka yang paling penting”.3

Allah subhanahu wa ta’ala telah ridha kepada mereka dan kepada yang mengikuti mereka dengan baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ   

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah,dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (At-Taubah [9]:100)

Jadi, menamai Ahlussunnah dengan Salafiyyun bukanlah bid’ah sama sekali, bahkan istilah Salaf betul-betul serasi dengan istilah Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal itu dapat diketahui dengan melihat bahwa keduanya menjadi satu kesatuan pada diri sahabat, mereka adalah Salaf dan meraka pun adalah Ahlussunnah wal Jama’ah.4

Maka sebagaimana kita boleh mengatakan “Sunni” sebagai nisbah kepada Ahlussunnah, maka boleh pula kita mengatakan “Salafi”, sebagai nisbah kepada Salaf, tidak ada perbedaan samasekali. Oleh sebab itu, setelah munculnya kelompok-kelompok dan terjadi perpecahan, maka istilah Salaf betul-betul cocok bagi yang menjaga kemurnian akidah dan manhaj sesuai dengan paham para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan generasi terbaik.

Sehingga istilah Salaf menjadi padanan kata bagi nama-nama lain yang syari’ bagi Ahlussunnah, sebagaimana telah berlalu pembahasannya.

Bersambung in syaa Allah…

Diterjemahkan oleh Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc dari kitab :
Kun Salafiyyan ‘Alal Jaaddah, ‘Abdussalaam bin Saalim bin Rajaa As-Suhaimi, Ad-Daarul Atsariyyah, 2012 M

____________________________________________________________________________________________________________________

Footnote
[1] Lihat Wasathiyyah Ahlis Sunnah Bainal Firaq, Dr. Muhammad Ba Karim (Hal: 96-101) dengan sedikit pengubahan, ini adalah kitab yang penting.
[2] Lawami’ul Anwar (1/20)
[3] I’lam Al-Muwaqi’in (4/120)
[4] Mauqifu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah Min Ahlil Ahwa Wal Bida’