Mukadimah Syarh Al-Qawa’idul Arba’

HomeSyarah Al-Qawa'idul Arba' (Penjelasan 4 Kaidah Memahami Hakikat Tauhid Dan Kesyirikan)

Mukadimah Syarh Al-Qawa’idul Arba’

MUKADIMAH SYARH AL-QAWA'IDUL ARBA' Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan Berikut adalah penjelasan empat kaidah untuk mengetahui hakikat

Silabus Belajar Islam Periode Januari – Mei 2020
Pentingnya Akhlaq
Ikhlas #1

MUKADIMAH SYARH AL-QAWA’IDUL ARBA’

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Berikut adalah penjelasan empat kaidah untuk mengetahui hakikat syirik dan tauhid yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam risalahnya yang bernama: Al-Qawa’dul Arba’, syarah ini saya nukil dari penjelasan Syaikh Shalih Fauzan, dengan sedikit perubaha-perubahan, di antaranya adalah membuang pengulangan, dan terkadang saya ringkas, sehingga tidak semua ucapan beliau saya terjemahkan. Beberapa judul adalah tambahan dari saya sendiri. Selain itu, dalam beberapa penjelasan, saya menambahkan pejelasan dari kitab lainnya, sebagaiman tercantum dalam referensi. Namun secara umum, syarah atau penjelasan ini lebih banyak mengambil dari penjelasan syaikh Shalih Fauzan. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Pengertian Qawa’id (kaidah-kaidah):

Qawa’id adalah bentuk jamak dari Qa’idah (kaidah), Qa’idah adalah: pokok yang darinya cabang permasalahan berasal. Dan maksud yang terkandung dalam empat kaidah yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah: memahami tauhid dan kemusyrikan.

Apa kaidah dalam memahami tauhid? Dan apa kaidah dalam memahami kemusyrikan? Karena masyarakat masih keliru dalam memahami dua perkara ini, mereka salah kaprah dalam memaknai tauhid dan kemusyrikan, masing-masing memahami sesuai dengan seleranya.

Padahal yang wajib bagi kita adalah kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah dalam menentukan kaidah, agar kaidah ini menjadi kaidah yang benar lagi sempurna yang diambil dari Kitabulllah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama yang berkaitan dengan dua perkara yang sangat penting ini, yaitu tauhid dan kemusyrikan.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak sembarangan membawakan empat kaidah ini, beliau tidak membuat kaidah berdasarkan pemikirannya semata, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang serampangan. Akan tetapi beliau mengambil kaidah-kaidah tersebut dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Memahami kaidah tentang tauhid dan kemusyrikan lebih penting dari memahi hukum-hukum seputar shalat dan ibadah lainnya:

Apabila engkau memahami empat kaidah ini, maka akan mudah untuk memahami tauhid yang dibawa oleh para Rasul, tauhid yang karenanya Al-Quran diturunkan, serta akan mudah dalam memahami kemusyrikan yang diperingatkan oleh Allah akan bahaya dan keburukannya di dunia dan akhirat. Memahami kedua hal tersebut sangatlah penting sekali, bahkan lebih wajib dari mengetahui hukum-hukum seputar shalat, zakat, ibadah-ibadah dan seluruh perkara-perkara agama lainnya. Memahami tauhid dan kemusyrikan adalah hal yang sangat mendasar, karena shalat, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya tidak akan sah, kecuali apabila dibangun di atas pondasi akidah yang benar, yaitu tauhid, ibadah yang murni untuk Allah semata.

Mukadimah dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Saya memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala sang pemilik Arsy yang agung, semoga Dia menjagamu di dunia dan akhirat, memberikan keberkahan kepadamu di manapun berada, menjadikanmu hamba yang bersyukur bila diberikan kenikmatan, bersabar dalam menghadapi ujian dan bertaubat apabila berbuat dosa. Tiga sikap demikian adalah kunci kebahagian.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengawali pembahasan empat kaidah ini dengan membawakan pendahuluan yang penting, di dalamnya terdapat doa untuk para penuntut ilmu, serta isyarat penting atas apa yang akan beliau paparkan.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Saya memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala sang pemilik Arsy yang agung, semoga Dia menjagamu di dunia dan akhirat, memberikan keberkahan kepadamu di manapun berada, menjadikanmu hamba yang bersyukur bila diberikan kenikmatan, bersabar dalam menghadapi ujian dan bertaubat apabila berbuat dosa. Tiga sikap demikian adalah kunci kebahagian.”

Ini merupakan mukadimah yang bagus, beliau mendoakan setiap penuntut ilmu yang belajar akidah dengan tujuan mendapatkan kebenaran, agar dijauhkan dari kesesatan dan kemusyrikan, penuntut ilmu seperti itu adalah orang yang pantas mendapatkan perlindungan Allah di dunia dan akhirat.

Allah adalah pelindung di dunia dan di akhirat:

Orang yang dilindungi oleh Allah di dunia dan di akhirat, tidak akan ditimpa kemalangan, baik dalam urusan agama maupun dalam perkara duniawi, Allah berfirman:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 257)

Jika Allah melindungimu dengan penjagaan, taufiq dan hidayah-Nya di dunia dan akhirat; Maka engkau akan berbahagia dengan kebahagian yang abadi, terbebas dari kebinasaan selamanya, Allah melindungimu di dunia dengan memberikan petunjuk dan taufiq serta menjadikanmu berada di atas manhaj yang benar,

Adapun penjagaan Allah di akhirat, maka dengan memasukanmu ke dalam surga yang abadi, di sana tidak ada ketakutan, sakit, kesengsaraan, kesulitan dan tidak ada keburukan. Demikianlah penjagaan Allah di dunia dan akhirat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Berkah adalah tujuan semua orang:

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Semoga Allah memberkatimu di manapun berada.”

Diberikan keberkahan oleh Allah di setiap tempat, adalah puncak tujuan, dimana Allah memberikan berkah pada umurmu, rezeki, amal, ilmu dan keturunanmu. Di manapun engkau berada, ke manapun engkau pergi, maka selalu bersama keberkahan. Hal demikian adalah kebaikan yang besar dan keistimewaan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Nikmat yang tidak disyukuri akan menjadi sebab kebinasaan:

Beliau berkata: “Dan menjadikanmu hamba yang bersyukur tatkala dikaruniai nikmat,”

Tidak seperti orang yang jika diberikan nikmat, maka ia kufur dan angkuh. Karena banyak di antara manusia mengingkari nikmat, dan ia kufur, menggunakan nikmat tersebut bukan dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga nikmat itu malah menjadi sebab kebinasaan mereka, adapun orang yang bersyukur, maka Allah justru akan menambah nikmat kepadanya, Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Allah ‘azza wa jalla akan menambah keutamaan dan kebaikan-Nya bagi orang-orang yang bersyukur, maka bila ingin tambahan nikmat, bersyukurlah. Namun bila ingin nikmat hilang, maka kufurilah nikmat tersebut.

Semua manusia mendapatkan ujian, maka bersabarlah:

Beliau berkata: “Dan bersabar ketika ditimpa ujian.”

Allah subhanahu wa ta’ala pasti menguji setiap hamba, memberikan cobaan dengan musibah, sesuatu yang dibenci, dengan keberadaan musuh dari kalangan orang-orang kafir dan munafik; yang mana keadaan demikian memerlukan kesabaran, pantang menyerah dan tidak putus asa dari rahmat Allah, akan tetapi harus tetap teguh di atas agama, tidak hanyut bersama ujian, tidak pasrah kepada cobaan, namun berdiri kokoh di atas agama islam, bersabar atas keletihan yang melanda pada saat melalui ujian, tidak seperti orang yang apabila ditimpa ujian, ia berkeluh kesah dan emosi, serta hilang harapan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla, karena sikap seperti ini malah akan semakin menambah beratnya ujian dan musibah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala bersama besarnya ujian, dan sesunggunya Allah bila mencintai suatu kaum, maka akan menguji mereka, barang siapa yang ridha, maka baginya ridha Allah, dan barangsiapa yang marah, maka baginya murka Allah.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Az-Zuhd, bab Ma Jaa fis Shabri ‘Alal Bala (601/4), Ibnu Majah dalam Al-Fitan, Bab Ash-Shabri ‘Alal Bala, no. 4031, dari sabahat Anas bin Malik radhiyAllahu ‘anhu, At-Tirmidzi berkata: “ini adalah hadits Hasan Gharib”. Dan diriwayatkan pula oleh Ahmad (5/428) dari hadits Mahmud bin Labid radhiyAllahu ‘anhu)

Dan orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang terbaik selain mereka (Potongan hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam az-Zuhd bab Ma Jaa Fish Shabri ‘Alal Bala (4/601-602), Ibnu Majah Fil Fitan bab Ma Jaa Fish Shabri Alal Bala (no. 4023), Ahmad (1/172, 173-174, 180, 185), Ad-Darimi (2/320), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (7/131- Al-Ihsan), Al-Hakim (1/41) dan Al-Baihaqi (3/372), At-Tirmidzi berkata: “ini adalah hadits Hasan Shahih”).

Maka para Rasul, ash-Shiddiiquun (orang-orang yang benar/jujur/lurus, ini adalah kedudukan yang tinggi), para Syuhada (orang-orang yang gugur di jalan Allah) dan orang-orang mukmin semuanya diuji, namun mereka bersabar. Adapun orang munafik, maka seperti yang difirmankan oleh Allah:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj [22]:11)

Kehidupan dunia tidak selamanya berada dalam kenikmatan dan kesenangan, karena Allah mempergulirkan keadaan di antara para hamba-hamban-Nya, para sahabat saja yang merupakan umat terbaik, bukankah mereka telah diuji? Allah berfirman:

إِن يَمۡسَسۡكُمۡ قَرۡحٌ فَقَدۡ مَسَّ ٱلۡقَوۡمَ قَرۡحٌ مِّثۡلُهُۥۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَآءَۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,” (QS. Ali-Imran [3]: 140)

Maka sepatutnya seorang hamba menguatkan jiwanya, jika terkena ujian, maka ia menyadari bahwa dia bukanlah satu-satunya makhluk yang diuji, ujian telah menimpa para kekasih Allah, namun mereka menguatkan jiwa, bersabar dan menanti pertolongan dari Allah, karena akhir yang baik hanyalah bagi orang yang bertakwa.

Sikap seorang mukmin adalah bersegara untuk bertaubat:

Dan apabila berdosa maka memohon ampunan, karena orang yang berdosa namun tidak bertaubat, maka dia adalah orang yang celaka -semoga Allah melindungi kita dari sikap demikian-, sikap seorang mukmin adalah bersegara untuk bertaubat, tatkala menyadari melakukan dosa. Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran [3] : 135)

إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa [4]: 17)

Al-jahalah pada ayat di atas, bukanlah bermakna tidak mengetahui (bodoh), karena orang jahil tidak dihukum, akan tetapi maksud jahalah di sini adalah kebalikan dari al-hilm (pengendalian jiwa), maka setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, dia adalah orang yang jahil, yaitu orang yang kurang dalam pengendalian diri, kurang dalam sifat kemanusiaan, terkadang ada seseorang disebut alim dari satu sisi, namun jahil dari sisi ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri dan tidak ajek dalam suatu perkara.

ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ

“Kemudian mereka bertaubat dengan segera.”

Setiap ia melakukan dosa, maka memohon pengampunan, karena tidak ada seorang pun yang suci dari dosa, namun segala puji bagi Allah yang telah membuka pintu taubat, sehingga seyogianya seorang hamba bersegera dalam bertaubat, karena jika tidak, itu adalah alamat kebinasaan, dan terkadang seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah, dan syaithan mendatanginya seraya berkata: “engkau tidak akan dapat diampuni”.

Bersambung in syaa Allah…

Ditulis oleh: Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. (Abu Ayman)
Referensi:

  • Al-Qawa’idul Arba’, Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab,
  • Syarh Al-Qawa’idul Arba’, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan