Alhanifiyah adalah Agama Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

HomeSyarah Al-Qawa'idul Arba' (Penjelasan 4 Kaidah Memahami Hakikat Tauhid Dan Kesyirikan)

Alhanifiyah adalah Agama Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

ALHANIFIYAH ADALAH AGAMA NABI IBRAHIM 'ALAIHISSALAM  Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan 1. Alhanifiyah adalah agama Nabi Ibrahim 'alai

Tauhid dan Macam-Macamnya #2
Yuk Gabung di Grup Belajar Islam Angkatan 4
Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah Hanya Bertawassul dan Minta Syafaat kepada Sembahan Mereka

ALHANIFIYAH ADALAH AGAMA NABI IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM 

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

1. Alhanifiyah adalah agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Pembaca yang semoga Allah senantiasa memberikan taufiq kepadamu untuk melakukan ketaatan kepada-Nya, Al-Hanifiyah yang merupakan agama Nabi Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah saja dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Sebagaimana Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-dzariyat [51]: 56)

Taat adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengikuti agama Nabi Ibrahim, Allah berfirman:

ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفًاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (An-Nahl [16]: 123)

Hanifiyah adalah agama Al-Haniif, yakni Ibrahim ‘alaihis shalaatu was salaam, sedangkan Al-Haniif artinya adalah orang yang menuju (mendekat) kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya, menuju kepada Allah dengan hati dan amalnya, niat dan tujuannya semuanya adalah untuk Allah.

Allah memerinthakan kepada kita agar mengikuti agama Ibrahim:

وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَٰهِيمَۚ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.” (QS. Al-Hajj [22]: 78)

Allah memerintahkan agar ikhlash dalam ibadah dan menjauhi kemusyrikan, karena jika ibadah tercampuri kemusyrikan, maka batal. Tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali bersih dari syirik besar dan kecil. Allah ta’ala berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Hunafaa adalah jamak dari haniif, dia adalah yang ibadahnya ikhlash (murni) untuk Allah semata.

Semua hamba diperintahkan untuk ikhlash dalam ibadah, Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-dzariyat [51]: 56)

Beribadah kepada-Ku, maknanya adalah mengesakan Aku dalam ibadah. Karena hikmah diciptakannya manusia adalah untuk ibadah secara ikhlash kepada Allah, namun ada orang yang melaksanakan ibadah tersebut dan ada yang tidak, maka orang yang beribadah kepada selain Allah, ia telah menyelisihi hikmah penciptaan makhluk dan menyelisihi perintah syari’at.

Ibrahim adalah bapak para Nabi setelah beliau, semua Nabi adalah keturunannya, oleh karena itu Allah berfirman:

وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَجۡرَهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَإِنَّهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

“Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 27)

Mereka semuanya dari keturunan Israaiil (Bani Israaiil), cucu Ibrahim ‘alaihissalam, kecuali Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau dari keturunan Ismail, dengan demikian, maka semua Nabi adalah keturunan Ibrahim ‘alaihis shalaatu was salaam, sebagai penghormatan baginya.

Allah menjadikan Ibrahim sebagai Imam bagi manusia, yakni sebagai teladan, Allah berfirman:

قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًاۖ

“Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 124)

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” (QS. An-Nahl [16]: 120)

Ibrahim dan seluruh Nabi mengajak umat untuk ibadah hanya kepada Allah dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya, Allah berfirman:

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’.” (QS. An-Nahl [16]: 36).

Adapun tentang syari’at, yakni perintah-perintah dan larangan-larangan, haram dan halal, maka itu berbeda-beda bagi masing-masing umat, sesuai dengan kebutuhan. Allah mensyari’atkan suatu syari’at lalu menggantinya dengan syari’at yang lain, sampai datanglah syari’at islam (syari’at Rasulullah shallallu ‘alaihi wa sallam), maka terhapuslah semua syari’at, dan hanya syariat Nabi Muhammad yang langgeng sampai hari kiamat.

Tapi pokok agama semua Nabi, yaitu tauhid, ia tidak pernah diganti dan tidak akan pernah berubah, agama para Nabi adalah satu, yaitu agama Islam, maksud agama Islam di sini adalah: memurnikan ibadah (ikhlash) untuk Allah dengan mentauhidkan-Nya. Tauhid dan pokok akidah dari zaman Adam sampai Nabi terakhir tidak pernah berubah, mereka semua mendakwahkan tauhid, mengajak ibadah hanya kepada Allah: taat kepada Allah pada setiap waktu, dengan melaksanakan syari’at sesuai dengan perintah-Nya,

Jika suatu syari’at telah dihapus, maka hanya mengamalkan syari’at penggantilah yang disebut ibadah, adapun beribadah dengan mengamalkan syari’at yang telah dihapus, maka tidak dinamakan ibadah kepada Allah.

Bersambung in syaa Allah…

Ditulis oleh: Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. (Abu Ayman)
Referensi:

  •  Al-Qawa’idul Arba’, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab,
  • Syarh Al-Qawa’idul Arba’, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan