Sikap Salaf Shalih terhadap Ahli Bid’ah #1

HomeNasehat

Sikap Salaf Shalih terhadap Ahli Bid’ah #1

SIKAP SALAF SHALIH TERHADAP AHLI BID'AH #1 Oleh: Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi Berhati-hati dan memberikan peringatkan kepada orang

Tauhid dan Macam-Macamnya #3
Kaidah Kesembilan: Penghalang Keistiqamahan Adalah Syubhat yang Menyesatkan dan Syahwat yang Membinasakan
Iman Kepada Allah #3

SIKAP SALAF SHALIH TERHADAP AHLI BID’AH #1

Oleh: Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi

Berhati-hati dan memberikan peringatkan kepada orang-orang tentang ahli hawa dan ahli bid’ah yang menyelisihi sunnah:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ

“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka tertolak (batil).” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.” (Al-Bukhari dan Muslim)

مَنْ أَحَبَّ لِلّهِ وَأَبْغَضَ لِلّهِ وَأَعْطَى لِلّهِ وَمَنَعَ لِلّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَـانَ

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan karena Allah, maka ia telah menyempurnakan imannya.” (Al-Bukhari dan Muslim)

مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

“Tidaklah seorang Nabi sebelumku yang Allah utus pada suatu umat, melainkan dia memiliki pembela dan sahabat yang memegang teguh sunah-sunnahnya dan mengikuti perintah-perintahnya, kemudian datanglah setelah mereka suatu kaum yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad dengan tangan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan lisan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan hati melawan mereka maka dia seorang mukmin, bagi yang tidak melakukan hal demikian, maka tidak ada keimanan walaupun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Dari ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ النَّاسِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ لْإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Di akhir zaman nanti, akan mucul orang-orang yang masih muda belia dan akal mereka lemah. Mereka mengucapkan sebaik-baiknya ucapan (Al-Quran). Mereka juga membaca Al Qur-an, namun (iman mereka) tidak sampai melewati pangkal kerongkongan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembus sasarannya. Maka jika kalian menjumpai mereka, perangilah. Karena bagi yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah pada hari kiamat nanti.” (HR. Muslim dalam bab zakat)

Yang dimaksud dalam hadits ini adalah Khawarij, mereka telah diperangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ali radhiyallahu ‘anhu dalam perang Nahrawaan.

Berdasarkan dalil-dalil di atas dan dalil-dalil yang senada, maka para Imam salaf telah memperingatkan dari bid’ah dan para pelakunya, kitab mereka penuh dengan bantahan dan peringatan terhadap bid’ah dan pelakunya, di antaranya:

1. Imam Muslim dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan dari Yahya bin Ya’mur dan Humaid bin Abdurrahman, Yahya berkata kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya dari daerah kami telah muncul orang-orang yang membaca Al-Quran dan menggali (mengamati) ilmu”, lalu Yahya menyebutkan keadaan mereka, bahwa mereka itu menyatakan tidak ada takdir, dan segala sesuatu itu baru (tidak didahului ketetapan). Maka ibnu umar berkata:

فَإِذَا لَقِيْتَ أُوْلَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّيْ بَرِيْءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّـهُمْ بَرَاءٌ مِنِّيْ وَالَّذِيْ يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنِ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَباً فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ 

“Jika engkau bertemu dengan mereka, maka sampaikan kepada mereka bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku, demi Allah yang mana Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung uhud, lalu mereka menginfakkannya (di jalan Allah), maka Allah tidak akan menerima infak darinya, sampai ia beriman kepada takdir.”

2. Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

إِيَّاكُمْ وَأَصْحَابَ الرَّأْيِ فَإِنَّهُمْ أَعْدَاءُ السُّنَّةِ أَعْيَتْهُمُ الْأَحَادِيْثُ أَنْ يَحْفَظُوْهَا فَقَالُوْا بِالرَّأْيِ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّـوْا

“Jauhilah oleh kalian Ashhabur Ra-yi (pengikut akal/ahli bid’ah) karena mereka adalah musuh-musuh sunnah, menghapal hadits itu melelahkan mereka, maka mereka pun berbicara berdasarkan akal, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (diriwayatkan oleh Abu Syaibah)

3. Ad-Daarimi, Al-Laalakaa-i dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Qilaabah rahimahumullah, ia berkata:

مَا ابْتَدَعَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلَّا اسْتَحَلُّوْا السَّيْفَ

“Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah kecuali mereka juga menghalalkan pedang.”

4. Ayyuub As-Sikhtiyaani berkata:

أَهْلُ الْأَهْوَاءِ كُلُّهُمْ خَوَارِجُ وَقَالَ إِنَّ الْخَوَارِجَ اخْتَلَفُوْا فِيْ الْاِسْمِ وَاجْتَمَعُوا عَلَى السَّيْفَ

“Para mengikut hawa itu semuanya adalah khawarij, beliu juga mengatakan, sesungguhnya khawarij itu berbeda-beda dalam namanya namun mereka bersatu di atas pedang.”

5. Dari Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah ia berkata:

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْس مِنَ الْمَعْصِيَّةِ وَالْمَعْصِيَّةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا

“Bid’ah itu lebih disukai iblis daripada maksiat, karena maksiat itu dapat ditaubati sedangkan bid’ah itu tidak dapat ditaubati.”1 (diriwayatkan oleh Al-Laalakaa-i)

6. Diriwayatkan dari Abu Qatadah, sesungguhnya ia berkata:

يَا أَحْوَلُ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا ابْتَدَعَ بِدْعَةً يَنْبَغِيْ لَهَا أَنْ تُذْكَرَ حَتَّى تُحْذَرَ

“Wahai yang bermata juling, sesungguhnya apabila ada seseorang yang melakukan suatu bid’ah maka bid’ahnya harus disebut supaya diwaspadai.”

7.Dari Al-Hasan, ia berkata:

أَهْلُ الْأَهْوَاءِ بِـمَنْـِزلَةِ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى

“Ahli hawa (ahli bid’ah) itu sama dengan Yahudi dan Nashara (dari segi eratnya mereka memegang apa yang mereka anut dan meninggalkan sunnah, bukan karena ahli bid’ah itu kafir).”

8. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

إِذَا رَأَيْتَ قَوْماً يَتَنَاجَوْنَ فِيْ دِيْنِهِمْ بِشَيْءٍ دُوْنَ الْعَامَّةِ فَاعْلَمْ أَنَّهُمْ عَلَى تَأْسِيْسِ ضَلَالَةٍ

“Jika engkau melihat orang-orang yang membicarakan sesuatu secara sembunyi-sembunyi dalam agama mereka, maka ketahuilah bahwa mereka berada di atas fondasi kesesatan.”

9. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَا فَرِحْتُ بِشَيْءٍ مِنَ الْإِسْلَامِ أَشَدَّ فَرَحاً بِأَنَّ قَلْبِيْ لَمْ يَدْخُلْهُ شَيْءٌ مِنَ هَذِهِ الْأَهْوَاءِ

“Aku tidak pernah merasa bahagia karena sesuatu dari Islam melebihi bahagia karena hatiku tidak terjangkiti hawa (bidah) ini sedikitpun.”

10. Abdullah bin Mas’ud berkata:

يَجِيْءُ قَوْمٌ يَتْرُكُوْنَ مِنَ السُّنَّةِ مِثْلَ هَذَا يَعْنِي مَفْصِلُ الْإِصْبَعِ فَإِنْ تَرَكْتُمُوْهُمْ جَاءُوْا بِالطَّامَّةِ الْكُبْرَى

“Akan datang suatu kaum yang meninggalkan sebagian sunnah seperti ini, yakni ruas jari-jemari (meninggalkan sunnah sedikit demi sedikit), jika kalian membiarkan mereka, maka mereka akan mendatangkan bencana yang besar.”

Bersambung in syaa Allah…

Diterjemahkan oleh Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. (Abu Ayman) dari kitab:
Kun Salafiyyan ‘Alal Jaaddah, ‘Abdussalaam bin Saalim bin Rajaa As-Suhaimi, Ad-Daarul Atsariyyah, 2012 M


Footnote:
[1] Yang dikatakan oleh Sufyan rahimahullah ini, tentang tidak diterimanya taubat ahli bid’ah, adalah kondisi kebanyakan ahli bid’ah; karena ahli bid’ah ketika melakukan bid’ahnya, ia menganggap bahwa itu adalah ibadah yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Ucapan beliau ini dikuatkan oleh hadits shahih sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إنّ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ

“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari setiap ahli bid’ah sampai ia meniggalkan bid’ahnya.”