Iman Kepada Allah #2

HomeAkidah Ringkas Berdasarkan Al-Quran dan Sunnah

Iman Kepada Allah #2

IMAN KEPADA ALLAH #2 Oleh: DR. Ahmad bin Abdurrahman Al-Qaadhi Kelompok-kelompok yang mengingkari keberadaan Allah Oleh karena itu, sebetulny

Kaidah keenam: Istiqamah Tidak Akan Terwujud Kecuali Lillah (Karena Allah), Dan Billah (Dengan Pertolongan Allah), Serta ‘Ala ‘Amrillah (Di Atas Perintah Allah)
Kaidah Kedelapan: Buah Dari Istiqamah Di Dunia Adalah Keistiqamahan Di Atas Shirath (Jembatan yang Terbentang Di Atas Neraka Jahannam)
Kaidah Kesepuluh: Menyerupai Orang Kafir Merupakan Sebab Terbesar Berpaling Dari Istiqamah

IMAN KEPADA ALLAH #2

Oleh: DR. Ahmad bin Abdurrahman Al-Qaadhi

Kelompok-kelompok yang mengingkari keberadaan Allah

Oleh karena itu, sebetulnya tidak ada satu pun keturunan bani Adam yang mengingkari keberadaan Allah, hanya saja ada kelompok-kelompok ateis yang berlagak mengingkari keberadaan Allah, baik dahulu maupun saat ini. Seperti:

1. Sekte yang beranggapan bahwa alam ini terdahulu dan abadi (Addahriyyuun: dahr artinya adalah masa)

Mereka adalah ateis dari kalangan para ahli filsafat, mereka mengatakan bahwa alam semesta itu memiliki sifat qidam (ada sejak dahulu) dan kekal. Saat ini, sekte yang serupa dengan mereka adalah sekte yang disebut Al-mulaahidah Al-Judud (neoateis: orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah).

Addahriyyuunlah yang mengatakan:

 

وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 24)

Mereka mengira bahwa alam semesta itu berlangsung dengan sendirinya, ia tidak akan pernah binasa, ia abadi! Mereka berkata

“Perut melahirkan dan bumi menelan, tidak ada yang membinasakan kita kecuali waktu!”. Mereka menolak keberadaan pencipta dari segala makhluk. Allah telah membantah mereka dengan firman-Nya:

وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍ

“Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu.”

Baik ilmu berdasrakan akal (yang sehat), ilmu dari Al-Quran dan Sunnah (ilmu naql), ilmu berdasarkan bukti yang dapat diindrai (didengar, dilihat) maupun ilmu berdasarkan fitrah. Akan tetapi mereka hanya mengada-adakan kedustaan semata dan sangkaan:

إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

2. Orang-orang yang meyakini bahwa makhluk menciptakan dirinya sendiri (Thabaai’iyyuun)

Mereka adalah orang-orang yang mengatakan bahwa alam ini ada secara alami, segala sesuatu itu; tumbuhan, hewan dan benda mati beserta sifat-sifat khususnya menciptakan dirinya sendiri dan juga menciptakan gerakan-gerakannya!

Mereka dapat dibantah dengan sangat mudah (tidak memerlukan banyak penjelasan): bahwa sesuatu tidak mungkin menjadi pencipta dan yang diciptakan sekaligus dalam waktu bersamaan. Allah berfirman:

أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur [52]: 35)

Alamiah yang mereka yakini sebagai sebab keberadaan alam ini (adalah sesuatu yang mustahil). Sejumlah benda-benda mati yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, tidak dapat berbicara, tidak memiliki perasaan dan indera, bagaimana bisa mereka menciptakan makhluk-makhluk yang hidup; dapat mendengar, melihat, berbicara, mengindra dan dapat merasakan sakit serta harapan?! Karena yang tidak memiliki sesuatu itu tidak dapat memberi.

3. Orang-orang yang beranggapan bahwa semesta ini muncul secara kebetulan (Ash-Shudfiyyun)

Mereka adalah orang-orang yang mengatakan bahwa seluruh makhluk itu bermula secara kebetulan, dengan kata lain bahwa berkumpulnya atom dan molekul (bagian yang terkecil) terjadi begitu saja, secara kebetulan, sehingga muncullah kehidupan dan terciptalah makhluk-makhluk yang beraneka ragam, tanpa ada pengaturan yang sempurna sebelumnya!

Sekedar mengerti dakwaan mereka, itu sudah cukup untuk menumbangkan dan merobohkan dakwaan itu, karena kecermatan yang berlaku pada makhluk, keteraturannya yang mengagumkan, keberlangsungannya di atas aturan-aturan yang mantap dan keseimbangan yang sempurna itu mencegah dakwaan bahwa makhluk muncul begitu saja secara kebetulan. Allah berfirman:

وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةٗ وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِۚ صُنۡعَ ٱللَّهِ ٱلَّذِيٓ أَتۡقَنَ كُلَّ شَيۡءٍۚ إِنَّهُۥ خَبِيرُۢ بِمَا تَفۡعَلُونَ

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml [27]: 88)

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِير وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 12)

4. Orang-orang komunis (Syuyuu’iyyun)

Mereka adalah para pengikut Karl Marx, yang mengatakan bahwa tidak ada Tuhan, dan asal kehidupan adalah meteri.

Saat mereka mendirikan negara Uni Soviet di atas tebing yang roboh ini, ideologi yang batil, maka tumbanglah dalam waktu yang singkat, kemudian terpecah menjadi negara-negara kecil yang beragam.

5. Orang-orang yang menyimpang sepanjang sejarah.

Seperti Firaun, yang berlagak mengingkari Rabb, ia berkata:

وَمَا رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Siapa Tuhan semesta alam itu?” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 23)

أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at [79]: 24)

Tidak hanya itu, ia pun mendakwa bahwa dirinya berhak untuk disembah, ia berkata:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرِى فَأَوْقِدْ لِى يَٰهَٰمَٰنُ عَلَى ٱلطِّينِ فَٱجْعَل لِّى صَرْحًا لَّعَلِّىٓ أَطَّلِعُ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّى لَأَظُنُّهُۥ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ

“Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (QS. Al-Qashas [28]: 38)

Ia mengancam Musa ‘alaihissalam, seraya berkata:

قَالَ لَئِنِ ٱتَّخَذۡتَ إِلَٰهًا غَيۡرِي لَأَجۡعَلَنَّكَ مِنَ ٱلۡمَسۡجُونِينَ

“Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 29)

Juga seperti Namrud yang membantah Ibrahim tentang Rabbnya:

إِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ رَبِّيَ ٱلَّذِي يُحۡيِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحۡيِۦ وَأُمِيتُۖ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡتِي بِٱلشَّمۡسِ مِنَ ٱلۡمَشۡرِقِ فَأۡتِ بِهَا مِنَ ٱلۡمَغۡرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِي كَفَرَۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat’, lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 258)

Mereka semua sebetulnya melawan diri sendiri, menyelisihi fitrah mereka. Sebagaimana yang telah dipersaksikan oleh Allah dengan firman-Nya:

وَجَحَدُوا۟ بِهَا وَٱسْتَيْقَنَتْهَآ أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَٱنظُرْ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُفْسِدِينَ

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (QS. An-Naml [27]: 14)

Oleh sebab itu, tidak ada pilar mereka yang tegak, tidak ada jejak mereka yang tersisa.

Bersambung in syaa Allah…

Diterjemahkan oleh Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. (Abu Ayman) dari kitab:
Al-‘aqiidah al-muyassarah minal kitaabil ‘aziiz was sunnah al-muthahharah