Iman Kepada Malaikat #1

HomeTematik

Iman Kepada Malaikat #1

RUKUN IMAN KEDUA IMAN KEPADA MALAIKAT #1 A. Para malaikat adalah hamba-hamba Allah 'Azza wa jalla, Allah menciptakan mereka dari cahaya untuk ib

Kaidah Kedelapan: Buah Dari Istiqamah Di Dunia Adalah Keistiqamahan Di Atas Shirath (Jembatan yang Terbentang Di Atas Neraka Jahannam)
Mukadimah Amalan-Amalan Hati
Jalan Keselamatan adalah Ittibaa’ dan Meninggalkan Bid’ah #2

RUKUN IMAN KEDUA

IMAN KEPADA MALAIKAT #1

A. Para malaikat adalah hamba-hamba Allah ‘Azza wa jalla, Allah menciptakan mereka dari cahaya untuk ibadah kepada-Nya, dalam Shahih Muslim, dari Aisyah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan Adam Alaihis sallam diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.” (HR. Ahmad (VI/153) dan Muslim (no. 2996 (60))

B. Di antara sifat mereka adalah bahwa mereka memiliki sayap-sayap.

Allah berfirman:

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُوْلِيٓ أَجۡنِحَةٖ مَّثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۚ

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (QS. Fathir [35]: 1)

C. Dalam hadits shahih riwayat Muslim disebutkan bagaimana berbarisnya para Malaikat.

Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا

“Mengapa kalian tidak berbaris sebagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya?”

Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya?”

Beliau bersabda,

يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ

“Mereka menyempurnakan barisan awal dan saling menempel satu sama lainnya dalam barisan.” (HR. Muslim, no. 430)

D. Adapun berdasarkan tugas yang Allah embankan kepada mereka, maka para Malaikat bermacam-macam:

1. Di antara mereka ada malaikat yang diberikan tugas untuk menyampaikan wahyu dari Allah kepada para Rasul-Nya -‘alaihimus shalatu wasallam-, dia adalah Ar-Ruuhul Amiin, Jibril ‘alaihis salam.

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Katakanlah: ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (QS. Al Baqarah [2]: 97)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” (QS. An Nahl [16]:102)

إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٌ يُوحَىٰ

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm [53]:4)

عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ

“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS. An Najm [53]: 5)

ذُو مِرَّةٖ فَٱسۡتَوَىٰ

“Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.” (QS. An Najm [53]: 6)

وَهُوَ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡأَعۡلَىٰ

“Sedang dia berada di ufuk yang tinggi.” (QS. An Najm [53]:7)

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ

“Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.” (QS. An Najm [53]: 8)

فَكَانَ قَابَ قَوۡسَيۡنِ أَوۡ أَدۡنَىٰ

“Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” (QS. An Najm [53]: 9)

Ini adalah peristiwa di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat Jibril di Al-Abthah menampakan wujud aslinya sebagaimana Allah ciptakan, dia memiliki 600 sayap, saking besarnya Jibril, ia sampai menutup ufuk. (lihat Fathul Baariy (6/361, 8/476, 477)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melihat Jibril dalam rupa aslinya pada peristiwa Lailatul Mi’raaj (malam di mana beliau naik) ke langit.

Allah berfirman:

وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,” (QS. An Najm [53]: 13)

عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ

“(Yaitu) Di Sidratil Muntaha.” (QS. An Najm [53]: 14)

عِندَهَا جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ

“Di dekatnya ada surga tempat tinggal,” (QS. An Najm [53]: 15)

إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ

“(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.” (QS. An Najm [53]: 16)

2. Di antara Malaikat ada yang ditugasi untuk mengatur hujan, mengendalikannya sesuai perintah Allah ‘azza wa jalla, dia adalah Miikaaiil ‘alaihissalam, dia memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla. Miikaaiil memiliki bala bantuan yang tunduk kepadanya atas perintah Allah, mereka mengarahkan angin dan awan sesuai kehendak Allah ‘azza wa jalla.

3. Ada juga Malaikat yang memegang kuasa atas sangkakala dan meniupnya, dia adalah Israafiil ‘alaihissalam. Tiga malaikat itu (Jibril, Miikaaiil dan Israafiil) adalah yang disebutkan nama-namanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doanya ketika shalat malam:

للَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتَلَفْتُ فِيهِ مَنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Ya Allah, Tuhan Jibril, Miikaaiil, dan Israafiil. Pencipta langit dan bumi, Dzat yang mengetahui hal ghaib dan yang nampak, Engkau yang memberikan keputusan di antara hamba-Mu dalam perkara yang mereka perselisihkan, tunjukkanlah aku pada kebenaran terhadap apa yang saya perselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk bagi orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.” (HR. Muslim dalam pembahasan Shalaatul Musaafiriin, Bab Shalaatun Nabiy wa Du’aa’ihi Billail, lihat Shahih Muslim Bisyarhi An-Nawawi (6/56)).

4. Di antara Malaikat ada yang ditugasi untuk mencabut ruh, yaitu Malakul Maut (Malaikat Kematian) dan bala bantuannya.

Allah berfirman:

قُلۡ يَتَوَفَّىٰكُم مَّلَكُ ٱلۡمَوۡتِ ٱلَّذِي وُكِّلَ بِكُمۡ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ تُرۡجَعُونَ

“Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan’.” (QS. As Sajdah [32]:11)

وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۖ وَيُرۡسِلُ عَلَيۡكُمۡ حَفَظَةً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ تَوَفَّتۡهُ رُسُلُنَا وَهُمۡ لَا يُفَرِّطُونَ

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al An’am [6]:61)

وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ يَتَوَفَّى ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar’, (tentulah kamu akan merasa ngeri).” (QS. Al Anfal [8]: 50)

Allah juga berfirman dalam surat AN-Nahl ayat 28 sampai 32:

ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡۖ فَأَلۡقَوُاْ ٱلسَّلَمَ مَا كُنَّا نَعۡمَلُ مِن سُوٓءِۢۚ بَلَىٰٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“(Yaitu) Orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun’. (Malaikat menjawab): ‘Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS. An Nahl [16]: 28)

فَٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ فَلَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ

“Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.” (QS. An Nahl [16]: 29)

وَقِيلَ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ مَاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا۟ خَيْرًا ۗ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ ٱلْءَاخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ ٱلْمُتَّقِينَ

“Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (QS. An Nahl [16]: 30)

Dalam banyak hadits di antaranya dalam hadits shahih riwayat Ahmad dari Al-Baraa bin ‘Aazib disebutkan bahwa bala bantuan Malaikat pencabut nyawa mendatangi seorang hamba sesuai dengan amalannya, jika hamba tersebut adalah orang yang banyak melakukan kebaikan maka mereka akan datang dengan sikap terbaik, rupa terindah dan membawa kabar gembira paling agung.

Sebaliknya jika amalannya buruk, maka mereka akan datang dengan sikap yang paling buruk, rupa yang paling jelek dan membawa ancaman yang paling keras, kemudian mereka mencabut ruh hingga tatakala sudah sampai ke kerongkongan, maka malaikat maut menggenggamnya, namun tidak lama berada di tangannya, akan tetapi lalngsung ia letakkan di kain kafan dan hanuuth (ramuan yang biasa dibubuhkan kepada kafan atau mayat seperti kasturi, minyak wangi, kapur barus) yang disesuaikan dengan keadaan amalan ruh tersebut.

5. Ada pula Malaikat yang ditugasi untuk menjaga hamba, baik dalam keadaan muqim maupun safar, tidur mapun terjaga dan dalam setiap keadaan-keadaannya. Merekalah Al-Mu’aqqibaat (para penjaga),

Allah berfirman:

سَوَآءٌ مِّنكُم مَّنۡ أَسَرَّ ٱلۡقَوۡلَ وَمَن جَهَرَ بِهِۦ وَمَنۡ هُوَ مُسۡتَخۡفِۢ بِٱلَّيۡلِ وَسَارِبُۢ بِٱلنَّهَارِ

“Ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.” (QS. Ar Ra’d [13]: 10)

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar Ra’d [13] :11)

وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۖ وَيُرۡسِلُ عَلَيۡكُمۡ حَفَظَةً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ تَوَفَّتۡهُ رُسُلُنَا وَهُمۡ لَا يُفَرِّطُونَ

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al An’am [6]: 61)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berkata:

Al-Mu’aqqibaat utusan Allah adalah para malaikat yang menjaga manusia dari arah depan dan belakang, apabila telah datang ketetapan dari Allah, maka para Malaikat penjaga akan membiarkan orang-orang itu.

Mujahid berkata:

Tidak ada seorang hamba pun, kecuali baginya ada Malaikat yang ditugasi untuk menjaganya, baik dalam keadaan tidur mapun terjaga, menjaga dari Jin, Manusia dan binatang berbisa (buas), tidaklah bahaya itu datang, melainkan malaikat akan berkata kepadanya, “awas di belakangmu”, kecuali sesuatu yang telah Allah izinkan, maka itulah yang akan mengenai manusia.

Sapan, Pesantren Sabilunnajah Bandung, Sabtu, 28 Rabii’uts Tsaani 1440 H/05 Januari 2018 M

Bersambung insyaa Allah

Diterjemahkan oleh Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. (Abu Ayman) dari kitab:
Mukhtashar Ma’aarijil Qabuul Bisyarhi Sullamil Wushuul Ilaa ‘Ilmil Ushuul Fit-Tauhiid, Hafizh bin Ahmad Al-Hakamiy, diringkas oleh: Abu ‘Aashim, Hisyaam bin Abdul Qaadir Muhammad Al-Uqdah, Maktabah Al-Kautsar, Riyadh, Cetakan ke 11, tahun 1427 H/2006 M.