KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU AGAMA

HomeTematik

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU AGAMA

Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga beliau, Shahabat-shahabat beliau, dan si

SEGERA BERTAUBAT MERUPAKAN TANDA KEYAKINAN
BUAH KEIKHLASAN DI DUNIA #4
MEWASPADAI BANYAKNYA RUWAIBIDHAH

Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam
semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, kepada
keluarga beliau, Shahabat-shahabat beliau, dan siapa saja yang
mengikuti beliau sampai akhir zaman.

Mencari ilmu agama merupakan kewajiban setiap Muslim,
yang jika seseorang meninggalkannya, maka ia berdosa. Nabi
bersabda:   

م . ـ مُسْلِ ك ُِل ل بُ العِلْمِ ف رِيْض ةٌ َع ط                                                

 “Menuntut ilmu (agama) adalah kewajiban atas setiap Muslim.”1

Hukumnya yang wajib sudah memiliki keutamaan tersendiri,
bahkan menuntut ilmu agama adalah jalan yang dengannya kita
memiliki ilmu sebagai bekal kita dalam beramal.

Tidak ada udzur sehingga seseorang tidak bisa menuntut
ilmu, karena semua gerak kita dalam setiap detiknya membutuhkan ilmu. Oleh karena itu, kita wajib berterima kasih kepada para
ustadz atau ulama, yang walaupun dalam keadaan Pandemi
seperti ini masih memberikan fasilitas agar kita bisa menuntut
ilmu.

1 Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani.

Berikut ini kami sebutkan beberapa keutamaan menuntut
ilmu yang lainnya:
1. Menuntut Ilmu adalah Jihad

ڭ ڭ ڭ ۓ ۓ ے ے ھ ژھ ھ ھ

ۆ ۆ ژ ۇ ۇ ڭ

 “Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (Rasul).Maka, janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur`an dengan jihad yang besar.”
                                                              (Al-Furqaan [25]: 51-52)

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Inilah jihad terhadap
mereka dengan Al-Qur`an ialah sebesar-besarnya jihad di antara
dua jihad, ia pun jihad melawan orang-orang munafik karena
orang-orang munafik tidak memerangi kaum Muslimin (dengan
senjata), maka zhahirnya mereka bersama kaum Muslimin.”2

Dalam kitab lainnya, yakni Zaadul Ma’aad3 beliau berkata:
Jihad itu ada empat tingkatan: (1) jihad melawan hawa nafsu,
(2) jihad melawan setan, (3) jihad melawan orang-orang kafir, dan
(4) jihad melawan orang-orang munafik.

Adapun jihad melawan hawa nafsu itu ada empat tahapan:

Pertama: Melawannya agar mempelajari petunjuk dan
agama yang haq, yang jika tanpanya maka tidak ada keuntungan
dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, tanpanya niscaya
seseorang akan sengsara di dunia dan akhirat

Kedua: Melawan hawa nafsu agar senantiasa mengamalkan
ilmu, jika hanya sebatas ilmu maka ia berbahaya, atau minimal
tidak bermanfaat sama sekali.

Ketiga: Melawan hawa nafsu agar berdakwah dan mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak mengetahuinya, jika tidak
demikian, maka ia termasuk orang yang menyembunyikan
petunjuk dan penjelasan yang Allah turunkan kepadanya, akhirnya ilmu itu tidak bermanfaat baginya dan tidak menyelamatkannya dari siksa Allah.

Keempat: Melawannya agar senantiasa bersabar dalam
menghadapi segala kesulitan dakwah dan gangguan manusia
juga semuanya dilakukan karena Allah. Barang siapa menempuh
seluruh tahapan tersebut dengan baik, maka ia termasuk generasi
Rabbani.
2. Orang yang Menuntut Ilmu Agama Tidak Terkena
Laknat

Nabi bersabda

أ وْ مُت ع لِّمٌ إِنَّ ادلُّنْي ا م لْعُون ةٌ م لْعُونٌ م ا فِيه ا إَِلَّ ذِكْرُ اَّللَِّ و م ا و اَل ُه و َع لِمٌ أ َل ,

  “Ingatlah, sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala
 sesuatu yang ada di dalamnya kecuali dzikir kepada Allah
dan ketaatan kepadaNya, demikian pula seorang ‘alim dan
yang menuntut ilmu agama.”4

Orang yang Menuntut Ilmu Agama Akan Dimudahkan
Untuknya Jalan Menuju Surga

Nabi bersabda:
،َ الْك و اكِبِ مِ َع الْع ابِدِ ك ف ضْ لِ الْق م رِ َل ْل ة اْلْ دْرِ َع س ائِرِ ـ الْم اءِ و إِنَّ ف ضْ ل الْع الِ وْف ِج ىْـ ت انُ فِ حِيْ ـ رْ ِ و الْ ى ال ْ ـ ى السَّم و اتِ و م نْ فِ ـ هُ م نْ فِ ـ ل ي سْت غْفِرُ ل و إِنَّ الْع الِم ، ج نَّةِ و إِنَّ الْم ال ئِك ة َل ض عُ أ جْنِح ت ه ا رِضً ا لِط الِبِ الْعِلْمِ ـ الْ قًا مِنْ طُ رُقِ هِ ط رِيْ ـبِ هِ عِلْمًا س ل ك اَّللُ قًا ي طْ لُبُ فِيْ ط رِيْ م نْ س ل ك ,
،َ دِرْه مًا و رَّثُوا الْعِلْم و َل ن ارًا ا دِيْ ثُوْ إِنَّ ال نْيِي اء ل مْ يُو رِل نْيِي اءِ و و إِنَّ الْعُل م اء و ر ث ةُ ال ْ
ر. ـ و افِ نْ أ خ ذ هُ أ خ ذ ِبِ ظ ل ف م

“Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut
ilmu (agama), maka Allah akan memudahkan untuknya jalan
menuju Surga. Sungguh, para Malaikat mengepakkan sayap
mereka karena ridha kepada para penutut ilmu (agama). Orang
yang berilmu dimohonkan ampunan oleh makhluk Allah yang
ada di langit dan di bumi, bahkan ikan yang ada di dalam lautan.
Sungguh, keutamaan seorang ‘alim di atas ahli ibadah adalah
seperti rembulan di malam purnama di atas bintang-bintang
lainnya. Sungguh, para ulama adalah pewaris para Nabi, dan
para Nabi tidak mewariskan dinar tidak pula dirham, mereka
hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya,
maka sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak.”5

4. Setinggi-tingginya Derajat
Nabi bersabda,

. أ وْ َك ِم ةً َن ْو ه ا ،َ « ع ل يْهِ ب اب ف قْر ف ت ح اَّللُ إَِلَّ ع بْدٌ ب اب م سْ أ ل ة ف ت ح و َل عِ اًا ، ز اد ُه اَّللُ َب ع ل يْه ا إَِلَّ ظُ لِم ع بْدٌ م ظْ لِم ةً ف ص ع بْد مِنْ ص د ق ة ، و َل الُ م ا ن ق ص م » ق ال : ،َ ثًا ف احْف ظُ وهُ ثُكُمْ ح دِيْ أُقْسِ مُ ع ل يْهِنَّ و أُح دِل ث ةٌ ث ال

.“Ada tiga perkara aku akan bersumpah dan tiga perkara aku akan meriwayatkannya kepada    kalian, maka  hafalkanlah! Lalu beliau
bersabda, “Harta tidak akan berkurang karena shadaqah, tidaklah
seorang hamba dizhalimi lalu ia bersabar kecuali itu akan men￾jadikannya tambah mulia, dan tidaklah seseorang membuka pintu
untuk meminta kecuali Allah akan membukakan untuknya pintu
kefakiran.” –Atau kalimat yang serupa dengannya– . Beliau melanjutkan,

،َ يَّةِ ف هُو ص ادِقُ الِل م اَلً عِلْمًا و ل مْ ي رْزُقْهُ ازِلِ ، و ع بْد ر ز ق هُ اَّللُ هِ ح ق اا ، ف ه ذ ا بِأ فْض لِ الْم ن فِيْ يهِ ر ِحِ هُ ،و ي عْل مُ َّلل ِ ِ هِ ر عَّهُ ،و ي صِ لُ فِ و عِلْمًا ف هُو ي تَِّق ِ فِيْ م اَلً اَّللُ ر ز ق هُ رْع ع ةِ ن ف ر ، ع بْد إِنَّم ا ادلُّنْي ا لِ » ق ال : ، ! ُه ثًا ف احْف ظُ وْ ثُكُمْ ح دِيْ و أُح دِل
ل ع مِلْتُ بِع م لِ فُال م اَلً يْـلِ ي قُولُ : ل وْ أ نَّ
،َ عِلْمًا و َل م اَلً ،و ع بْد ل مْ ي رْزُقْهُ اَّللُ هِ ح ق اا ، ف ه ذ ا بِأ خْب ثِ الْم ن ازِلِ فِيْ ل مُ َّلل ِ ِ ي عْ ر ِحِ هُ ، و َل هِ ي صِ لُ فِيْ هِ ر عَّهُ ، و َل ي تَِّق ِ فِيْ هِ بِغ ْي ِْ عِلْم َل ـ ي م الِ ـ َي ْبِط ُ فِ و ل مْ ي رْزُقْهُ عِلْمًا ، ف هُو م اَلً و اءٌ ، و ع بْد ر ز ق هُ اَّللُ ف هُو بِنِيَّتِهِ ف أ جْرُهُم ا س ن ،َ ف وِزْرُهُم ا س و اٌء ن ف هُو بِنِيَّتِهِ هِ بِع م لِ فُال ل ع مِلْتُ فِيْ م اَلً يْـ لُ : ل وْ أ نَّ لِ ف هُو ي قُوْ

“Aku juga akan meriwayatkan kepada kalian, maka hafalkanlah!” Beliau bersabda, “Dunia itu untuk empat orang” 

(Pertama) orang yang diberikan harta dan ilmu oleh Allah,

lalu dengannya ia bertakwa kepada Allah, ia menyambung tali

silaturahim, dan dengannya ia mengetahui hak Allah. Inilah

derajat paling tinggi.

 

(Kedua) orang yang diberikan ilmu oleh Allah, akan tetapi

tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia mengatakan:

‘Seandainya aku memiliki harta niscaya aku akan beramal seperti

si fulan (baca: yang ada di kelompok pertama).’ Itulah niatnya.

Maka, ia dengan yang pertama sama pahalanya.

 

(Ketiga) orang yang diberikan harta, tetapi tidak diberikan

ilmu, lalu ia menggunakan hartanya dengan tidak baik tanpa

ilmu, pada hartanya itu ia tidak bertakwa kepada Rabb-nya, tidak

menyambung tali silaturahim, dan tidak mengetahui hak Allah.

Maka inilah seburuk-buruknya tingkatan.

 

(Keempat) orang yang tidak Allah berikan harta, tidak pula

ilmu, dengan niatnya ia berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta

niscaya aku beramal seperti si Fulan (baca: yang ada di kelompok

ketiga). Itulah niatnya. Maka ia dengan yang ketiga sama dosa

nya.”6

11 RABI’UL AWWAL 1442 H

28 OKTOBER 2020 M

Beni Sarbeni Abu Sumayyah