BUAH KEIKHLASAN DI AKHIRAT #2

HomeTematik

BUAH KEIKHLASAN DI AKHIRAT #2

Selanjutnya diantara buah keikhlasan di akhirat adalah sebagai berikut: Ketiga, Amal orang yang ikhlas jauh lebih utama dari amal-amal orang lainny

TINGGI DAN RENDAHNYA SUATU KAUM KARENA AL-QUR’AN
KEHIDUPAN SEMPIT BAGI ORANG YANG BERPALING
MINTALAH TAMBAHAN ILMU!

Selanjutnya diantara buah keikhlasan di akhirat adalah sebagai berikut:

Ketiga, Amal orang yang ikhlas jauh lebih utama dari amal-amal orang lainnya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Amal itu beragam (kualitasnya) sesuai dengan kualitas apa yang ada dalam hati, yakni keimanan, cinta, pengagungan, dan tujuan hanya untuk yang diibadahi (Allah) tanpa ada kepentingan lainnya, bahkan bisa jadi ada dua amal yang sama secara zhahir padahal keutamaan diantara keduanya itu berbeda. Demikian pula kualitas amal itu sesuai dengan kualitas Mutaba’ah, maka keutamaan dua amal itu bisa berbeda karena perbedaan kualitas Mutaba’ah.” (Al-Manarul Munif, hal. 15)

Keempat, Mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah secara ikhlas dari hati atau jiwanya.” (HR. Al-Bukhari)

Dan syafa’at merupakan sebab untuk mendapat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Kelima, Mendapatkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata:

“Terkadang ada satu amal yang dilakukan oleh seorang hamba secara sempurna keikhlasan dan ketundukannya, lalu dengan sebabnya Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa-dosa besarnya….”, kemudian beliau membawakan hadits Bithaqah.

Kemudian beliau berkata:

“Demikianlah keadaan orang yang mengatakannya secara ikhlas dan jujur sebagaimana dikatakan oleh orang tersebut, jika tidak maka sungguh para pelaku dosa besar yang masuk neraka, mereka semua dahulu (di dunia) pun mengatakan Laa Ilaha Illallah.” (Minhajus Sunnah, 6/ 218-219)

(Disarikan dari kitab ‘Amalul Quluub, karya Syaikh Khalid Utsman As-Sabt)

Faidah dari Al-Ustadz,
🔳 BENI SARBENI, Lc, M.Pd.
Hafidzhahullah