Empat Kaidah Dari Al-Quran Untuk Mengenal Hakikat Kemusyrikan

HomeManhaj & Aqidah

Empat Kaidah Dari Al-Quran Untuk Mengenal Hakikat Kemusyrikan

EMPAT KAIDAH DARI AL-QURAN UNTUK MENGENAL HAKIKAT KEMUSYRIKAN Karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Diterjemahkan oleh: Ustadz 

Keberagaman Sembahan Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah: Memuja Orang Saleh, Arti Wasilah dan Tawassul
Kaidah Kedua Al-Qawaidul Arba
Orang-Orang Kafir yang Diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Telah Meyakini bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur Segala Urusan Makhluk

EMPAT KAIDAH DARI AL-QURAN UNTUK MENGENAL HAKIKAT KEMUSYRIKAN
Karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah


Diterjemahkan oleh: Ustadz Abu Ayman Hafizh Abdul Rohman, Lc

A. Muqaddimah

Saya memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala Sang Pemilik Arsy yang agung, semoga Dia menjagamu di dunia dan akhirat, memberikan keberkahan kepadamu di manapun berada, menjadikanmu hamba yang bersyukur bila diberikan kenikmatan, bersabar menghadapi ujian, bertaubat apabila berbuat dosa.

Tiga sikap demikian adalah kunci kebahagian.

1. Alhanifiyah adalah Agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Pembaca yang semoga Allah senantiasa memberikan taufiq kepadamu untuk melakukan ketaatan kepada-Nya, al-hanifiyah yang merupakan agama Nabi Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah saja dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya.

Sebagaimana Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

2. Ibadah tidak dinamakan ibadah, kecuali bila berlandaskan Tauhid

Apabila engkau telah mengetahui bahwa tujuan Allah menciptakanmu adalah untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidak sah kecuali bila dibangun di atas tauhid, sebagaimana shalat tidak sah kecuali dilakukan dalam keadaan suci.

Apabila kemusyrikan masuk ke dalam ibadah, maka ibadah tersebut batal, sebagaimana hadats membatalkan thaharah (kesucian).

3. Kemusyrikan adalah hal terpenting yang wajib untuk diketahui oleh seorang hamba 

Apabila engkau telah mengetahui bahwa sesungguhnya kemusyrikan apabila mengotori ibadah maka akan membatalkannya dan membuat amal menjadi sia-sia, sehingga menjadikan pelaku kemusyrikan itu kekal di dalam neraka.

Maka engkau akan menyadari bahwa kewajibanmu yang paling utama adalah mengenal hakikat kemusyrikan. Semoga Allah menyelamatkanmu dari perangkap ini, yaitu mempersekutukan-Nya di dalam ibadah, yang mana Allah mengancam orang yang menyekutukan-nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa : 48) 

B. Empat kaidah untuk mengenal hakikat kemusyrikan

Untuk mengetahui hakikat kemusyrikan, adalah dengan mengetahui empat kaidah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-quran:

Kaidah pertama:

Perlu diketahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menyatakan bahwa Allah adalah pencipta dan pengatur segala urusan, namun pernyataan tersebut tidak membuat mereka disebut sebagai muslim.

Dalil kaidah ini adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah (muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31) 

Kaidah kedua:

Sesungguhnya orang-orang musyrik jahiliyah berkata: “kami tidak menyembah dan mendatangi sembahan kami kecuali hanya untuk mencari kedekatan (bertawassul kepada Allah dengan sembahan tersebut) dan meminta pertolongan (syafa’at)”. 

Dalil tentang tawassulnya orang jahiliyah dengan sembahan mereka adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain dia (berkata), “kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (QS: Az-Zumar : 3) 

Adapun dalil tentang meminta syafa’at adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?” Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan itu.” (QS. Yunus : 18) 

Pembagian Syafa’at :

Syafa’at terbagi menjadi dua: yaitu syafa’at terlarang dan syafa’at yang dibolehkan, syafa’at terlarang adalah syafa’at yang diminta kepada selain Allah dalam perkara yang hanya dapat dikabulkan oleh Allah.

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah : 254) 

Sedangkan syafa’at yang benar adalah syafa’at yang diminta kepada Allah.

Pemberi syafa’at (syafi’) adalah seseorang yang diberikan kehormatan oleh Allah untuk memberikan syafa’at (pertolongan), adapun yang disyafa’ati (masyfu’ lahu) adalah seseorang yang diridhai Allah, baik ucapan maupun amalnya, setelah sang pemberi syafa’at diizinkan oleh Allah. Sebagaimana Allah berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 255) 

Kaidah ketiga:

Sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang beraneka ragam dalam ibadahnya, di antara mereka ada yang menyembah malaikat, para nabi dan orang-orang saleh.

Juga ada yang menyembah pepohonan, bebatuan, matahari dan bulan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya tanpa memberikan perlakuan yang berbeda antara mereka. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal : 39) 

Dalil tentang adanya orang-orang yang menyembah matahari dan bulan:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (Qs. Fushshilat : 37) 

Dalil tentang para penyembah malaikat:

وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ 

“Dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi muslim?” (QS.Ali Imran : 80) 

Dalil tentang para penyembah para Nabi:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah yang Maha mengetahui segala yang gaib.” (QS. Al-Ma’idah : 116) 

Dalil tentang para penyembah orang-orang saleh:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra : 57) 

Dalil tentang para penyembah pepohonan dan bebatuan:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ

“Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) al-Lata dan al-‘Uzza” (QS. An-Najm :19)

وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ

“Dan manat, yang ketiga (yang) kemudian (sebagai anak perempuan Allah)” (QS. An-Najm : 20)

Dan hadits Abi Waqid al Laitsi radhiyallahu ‘anhu ia berkata: ‘kami pergi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain, dan kami adalah orang-orang muslim yang baru saja meninggalkan kekafiran.

Orang-orang kafir memiliki sebuah pohon yang menjadi tempat i’tikaf dan menggantungkan senjata-senjata, pohon itu bernama Dzatu Anwath. Kami melewati pohon itu dan berkata’: 

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ

“Wahai Rasulullah! Buatkan kami Dzatu Anwath. Seperti Dzatu Anwath milik mereka. (HR. At-Timidzi, no. 2180 dalam al-Fitan, ia berkata: “hadits hasan shahih”, ahmad (5/218), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-sunnah, no. 76, Ibnu Hibban dalam shahihnya, no. 6702- al-Ihsan). 

Kaidah keempat:

Sesungguhnya orang-orang kafir di zaman kita sekarang, kemusyrikannya lebih parah dibandingkan dengan orang-orang terdahulu, karena orang-orang terdahulu hanya menyekutukan Allah dalam keadaan tentram dan mengikhlaskan ibadah pada saat keadaan sulit.

Adapun orang-orang sekarang, maka kemusyrikan mereka itu terus menerus, baik dalam keadaan aman maupun genting. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS. Al-Ankabut : 65) 

Demikian, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.