BUDAYA KAUM SALAF DALAM MENJAGA ILMU

Diantara cara untuk menghafal atau menjaga ilmu adalah dengan mengamalkannya, sehingga ia benar-benar melekat di hati kita. Asy-Sya’bi rahimahullah berkata:

كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به, وكنا نستعين على طلبه بالصوم

“Kami berusaha menghafal hadits dengan bantuan mengamalkannya, dan kami pun berusaha menuntut ilmu dengan bantuan berpuasa.” (Jaami’ Bayaan Al-‘Ilm wa Fadhlih, 2/ 11)
▬▬▬▬

Demikianlah budaya kaum salaf yang senantiasa mengaitkan ilmu dengan amal, karena itulah mereka menjadi para juara dan diberikan keberkahan dalam ilmu mereka.

Abu Abdirrahman As-Sulami rahimahullah berkata:

إنا أخذنا هذا القرآن عن قوم أخبرونا أنهم كانوا إذا تعلموا عشر آيات لم يجاوزوهن إلى العشر الأخر حتى يعلموا ما فيهن، فكنا نتعلم القرآن والعمل به

“Sungguh kami mengambil al-Qur’an dari kaum yang mengabarkan kepada kami bahwa, mereka biasanya ketika mempelajari sepuluh ayat, mereka tidak melewatinya untuk sepuluh ayat lainnya sehingga – betul-betul – mengetahui apa yang ada di dalamnya, maka kami mempelajari al-Qur’an juga mengamalkannya”. (Ath-Thabaqatul Kubra, 6/ 172)

Faidah dari Al-Ustadz,
🔳 BENI SARBENI, Lc, M.Pd.
Hafidzhahullah