Jagalah Shalat !  Jagalah Shalat !  (Bagian Pertama)

JAGALAH SHALAT !  JAGALAH SHALAT !

(Bagian Pertama)

Oleh : Syaikh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr
Penerjemah : Ustadz Agus Jaelani Abu Abdirrahman

Sesungguhnya di antara musibah yang paling besar, paling dahsyat, dan paling berat yang menimpa umat adalah peristiwa wafat Nabi yang mulia –‘alaihish shalaatu wassalaam- yang mana Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memberikan karunia kepada umat dengan mengutus beliau.

Beliau adalah yang memberikan petunjuk jalan menuju surga, memimpin mereka menuju kepada segala keutamaan, dan beliau adalah Imam mereka dalam segala kebaikan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [Al-Ahzab :21]

Dalam kejadian yang besar ini terdapat berbagai pelajaran yang patut untuk kita perhatikan.

Diantara yang paling besar dari berbagai pelajaran itu adalah yang berkaitan dengan urusan shalat dan penjelasan tentang kedudukannya, itu merupakan pelajaran yang sangat mengena, lagi sangat membekas yang bisa diambil dari peristiwa yang sangat besar dan musibah yang sangat luar biasa ini.

Shalat terakhir yang dilakukan oleh Nabi kita –‘alaihish shalaatu wassalaam-  bersama kaum mukminin adalah shalat zhuhur pada hari kamis.

Kemudian sakit beliau –‘alaihish shalaatu wassalaam- semakin parah, sehingga beliau selama tiga hari tidak bisa keluar untuk melaksanakan shalat karena sakit yang luar biasa, yaitu pada hari jumat, sabtu, dan ahad.

Pada saat itu, Abu Bakr Ash-Shiddiq-lah yang menggantikan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai imam sholat dan imam kaum muslimin, pada pagi hari di hari senin –yaitu hari dimana Nabi diwafatkan-

Rasulullah menyingkapkan tabir kamarnya untuk melihat para sahabatnya dan itu sejatinya adalah pemandangan perpisahan dari beliau, dan betapa agungnya perpisahan itu.

Imam Al-Bukhari dan imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab shahih keduanya[1] dari sahabat Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu- beliau mengatakan:

“Ketika Nabi sakit yang menjadi sebab wafatnya, Abu Bakr menjadi imam shalat bagi kaum muslimin. Hingga pada suatu hari, pada hari senin, pada saat para sahabat sedang berbaris di shaf shalat, beliau menyingkapkan tabir kamarnya dan memandang ke arah kami sambil berdiri, sementara wajah beliau pucat seperti kertas.

Beliau tersenyum dan tertawa. Hampir saja kami terkena fitnah (keluar dari barisan) karena sangat gembiranya melihat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Abu Bakr lalu berkeinginan untuk berbalik masuk ke dalam barisan shaf karena menduga Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- akan keluar untuk shalat.

Namun Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberi isyarat kepada kami, ”Teruskanlah shalat kalian.” Setelah itu beliau menutup tabir dan wafat pada hari itu juga.”

Marilah kita renungkan sembari mengambil pelajaran dan nasehat..!!

Inilah dia Nabi kita -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memandang ke arah umatnya dengan pandangan perpisahan, yang sejatinya pemandangan tersebut merupakan penyejuk hati bagi beliau –‘alaihish shalatu wassalaam-.

Shalat telah dijadikan sebagai penyejuk hati beliau –‘alaihish shalatu wassalaam-. Allah jadikan kedua mata beliau berbahagia dengan melihat umatnya berkumpul di masjid sedang melaksakan shalat.

Beliau pun –‘alaihish shalatu wassalaam- tersenyum dan tertawa. Terpancar senyuman dan tawa yang penuh dengan kebahagian, melihat umatnya berkumpul di masjid sedang melaksanakan shalat,

kemudian beliau –‘alaihish shalatu wassalaam- menutup tabir kamarnya dalam keadaan berbahagia setelah melihat pemandangan yang sangat membahagiakan dan menggembirakan ini.

Saat dimana umat beliau –yaitu umat islam- semuanya berkumpul di masjid sedang melaksakan shalat. Menjelang wafatnya, Allah jadikan kedua mata beliau –shalawatullahi wa salaamuhu ‘alaihi- berbahagia dan ridho karena melihat pemandangan yang sangat membahagiakan dan menggembirakan ini.

Perintah menunaikan shalat bahkan tidak berhenti di saat-saat terakhir kehidupan beliau –‘alaihish shalatu wassalam-, sahabat Ali –radhiyalllahu ‘anhu- menuturkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya[2] dengan sanad yang shahih, beliau menuturkan:

كَانَ آخِرُ كَلامِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الصَّلاةَ الصَّلاةَ ، اتَّقُوا اللّٰهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Wasiat terakhir Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- (menjelang wafatnya) adalah Jagalah shalat, jagalah shalat, dan bertakwalah kepada Allah terhadap hamba sahaya yang kalian miliki.”

Bahkan yang lebih jelas dari ini ialah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam kitab sunannya[3] dengan sanad yang shahih dari Anas –radhiyallahu ‘anhu- dia berkata:

كَانَتْ عَامَةُ وَصِيَّةِ رَسُوْلِ اللِّٰه صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمِ حِيْنَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةَ وَهَوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ (الصَّلَاةُ . وَمَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah berwasiat ketika menjelang kematiannya, yaitu di saat nafas sudah di kerongkongannya, beliau bersabda: ”Jagalah shalat dan bertakwalah terhadap hamba sahaya yang kalian miliki.”

Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Ummu Salamah –radhiyallahu ‘anha- istri nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- beliau berkata:

أَنَّهُ كَانَ عَامَةُ وَصِيَّةِ نَبِيِّ اللّٰهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عِنْدَ مَوْتِهِ: ( الصَّلَاةُ الصَّلَاةُ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ) حَتَّى جَعَلَ نَبِيُّ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُلَجْلِجُهَا فِيْ صَدْرِهِ وَمَا يَفِيْضُ بِهَا لِسَانُهُ 

“Wasiat terakhir Nabiyullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjelang wafatnya adalah “Jagalah shalat, jagalah shalat, dan bertakwalah kepada Allah terhadap hamba sahaya yang kalian miliki.”

Sampai-sampai Nabiyullah –shallalllahu ‘alaihi wa sallam- mengulang-ngulang wasiat tersebut di dadanya dan sampai lidahnya tidak bisa mengucapkannya[4].

Hal ini tanpa diragukan lagi menunjukan kepada kita tentang agungnya kedudukan shalat di dalam Islam, dan besarnya perhatian nabi kita ­-‘alaihish shalatu wassalaam- terhadapnya;

Barangsiapa yang membaca hadits-hadits dan wasiat-wasiat beliau yang mulia semuanya di masa hidup beliau, niscaya ia akan mengetahui betapa tingginya nilai dan kedudukan shalat di dalam Islam.

Dan demi perkara shalat ini dan kedudukannya, sampai-sampai shalat dikhususkan diantara kewajiban dan amalan keta’atan lainnya di dalam Islam bahwasanya Allah –Tabaroka wa Ta’ala- mengangkat Nabi-Nya ke atas langit ke tujuh, Allah wajibkan shalat kepada beliau di atas langit ke tujuh.

Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mendengar secara langsung perintah shalat dan kewajibannya ini dari Allah –Tabaroka wa Ta’ala- tanpa melalui perantara.

Kewajiban shalat ini pada awalnya diwajibkan kepada beliau lima puluh kali shalat, lalu beliau meminta kepada Allah –Jalla wa ‘Alaa- keringanan, hingga pada akhirnya diwajibkan kepada beliau lima kali shalat.

Lima kali shalat (dalam sehari semalam) yang pahala dan ganjarannya sebanding dengan lima puluh kali shalat. Hal ini berbeda dengan umumnya amalan-amalan keta’atan, kewajiban dan ibadah lainnya yang disampaikan, dijelaskan dan diwahyukan oleh Jibril kepada beliau di muka bumi.

 

(Terjemah Kitab Ta’zhimush shalah karya Syaikh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr)

 

Footnote :

[1] Diriwayatkan Al-Bukhari (680) dan Muslim (419)

[2] Hadits nomor (585),  hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud (5156), Ibnu Majah (2698), dan dishahihkan oleh Al-Albaniy di dalam Shahih Al-Jami’ (4616).

[3] Hadits nomor (2697), dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam kitabnya Al-Irwa-u (2178).

[4] Diriwayatkan oleh Ahmad (26483, 26684), An-Nasa-i dalam Al-Kubro (7060), dishahihkan sanadnya oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa-u (7/238).