Kedudukan Shalat (Bagian 1)

KEDUDUKAN SHALAT (Bagian 1)

Oleh : Syaikh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr
Penerjemah : Ustadz Agus Jaelani Abu Abdirrahman

Sesungguhnya di antara kewajiban yang agung yang Allah wajibkan kepada para hamba-Nya adalah shalat. Shalat merupakan tiangnya agama, dan salah satu rukun agama yang agung setelah dua kalimat syahadat.

Shalat adalah tali penghubung antara seorang hamba dengan Rabbnya. Shalat merupakan amalan pertama seorang hamba yang akan dihisab pada Hari Kiamat; jika shalatnya baik maka akan baik pula seluruh amalnya, dan jika shalatnya rusak maka akan rusak pula seluruh amalnya.

Shalat merupakan amalan yang membedakan antara muslim dan kafir; menegakkannya adalah bagian dari keimanan, sedang melalaikannya adalah bagian dari kekufuran dan kezhaliman. Maka:

لَا دِيْنَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ

“Tidak ada Agama bagi orang yang tidak shalat.”1

وَلَا حَظَّا فِي الإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ

“Dan tidak ada bagian di dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”2

Barangsiapa yang menjaga shalat, maka akan bercahaya pada hatinya, wajahnya, kuburnya dan pada saat dikumpulkan di Padang Mahsyar.

Ia akan selamat pada Hari Kiamat, dan akan dikumpulkan bersama orang-orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka dari kalangan para Nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih, mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Barangsiapa yang melalaikan shalat; maka ia tidak akan mempunyai cahaya, ia tidak akan memiliki argument (yang akan membelanya-red), dan ia tidak akan selamat pada Hari Kiamat. Ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Hamman, Qorun dan Ubay bin Khalaf.

Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- menuturkan di dalam kitabnya ((Ash-Shalat)):

“Disebutkan dalam sebuah hadits:

لَا حَظَّا فِيْ الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ

“Tidak ada bagian di dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”,

Umar bin Khaththab –radhiyallahu ‘anhu- pernah menulis surat ke segenap penjuru wilayah Islam, beliau mengatakan,

”Sesungguhnya urusan kalian yang paling penting menurutku adalah shalat, barangsiapa yang menjaga shalat sungguh ia telah menjaga agamanya, dan barangsiapa yang lalai dari shalat, maka dia akan lebih lalai lagi terhadap perkara yang lain, dan tidak ada bagian di dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”

Imam Ahmad melanjutkan:”Setiap orang yang memandang enteng perkara shalat; sejatinya ia telah meremehkan shalat, dan setiap orang yang memandang enteng urusan Islam; sejatinya ia telah meremehkan islam.

Keislaman seseorang sesuai dengan kadar perhatiannya terhadap shalat, begitu juga kecintaannya terhadap Islam sesuai dengan kadar cintanya terhadap shalat, karena itu kenalilah dirimu wahai hamba Allah !!

Hati-hatilah!! jangan sampai engkau berjumpa dengan Allah kelak, dalam keadaan tidak membawa nilai keislaman, karena sesungguhnya kadar Islam di hatimu sesuai dengan kadar shalat yang ada di hatimu.

Disebutkan di dalam sebuah hadits dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

الصَّلَاةُ عَمُوْدُ الدِّيْنِ

“Shalat adalah Tiangnya Agama.”3

Bukankah engkau mengetahui bahwa sebuah tenda, manakala tiang-tiangnya roboh, maka tenda itu pun akan ikut roboh, sehingga ia tidak akan mendapat manfaat dari tali dan pasaknya.

Dan manakala tiang-tiang tenda itu berdiri kokoh, maka tenda itu akan mendapat manfaat dari tali dan pasaknya? Demikian juga kedudukan shalat bagi Islam.

Maka perhatikanlah –semoga Allah merahmati kalian-, pahamilah dan jagalah shalat!!,

Bertakwalah kepada Allah dalam urusan shalat, saling tolong-menolonglah untuk mengerjakan shalat, dan saling nasehat-menasehatilah dalam urusan shalat dengan cara mengajarkannya diantara sesama kalian, dan dengan saling mengingatkannya sesama kalian ketika lalai dan lupa.

Sesungguhnya Allah –‘azza wa jalla- telah memerintahkan kalian untuk saling tolong menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, dan shalat merupakan kebajikan yang paling utama. Disebutkan di dalam sebuah hadits bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Di antara perkara agama yang akan pertama kali hilang darimu adalah amanah, sedangkan perkara agama yang terakhir hilang adalah shalat, sehingga benar-benar akan ada beberapa golongan manusia yang mengerjakan shalat namun tidak mendapatkan manfaat sama sekali.”4

Maka shalat adalah perkara agama kita yang akan paling terkahir hilang. Namun shalat merupakan perkara pertama yang akan ditanyakan kepada kita kelak pada Hari Kiamat.

Tidak ada Islam dan Agama setelah hilangnya shalat, apabila shalat adalah perkara terakhir yang hilang dari Islam, sedangkan segala sesuatu ketika bagian akhirnya telah hilang, maka sungguh semuanya turut hilang pula.” Selesai perkataan Imam Ahmad –rahimahullah-5

Para ‘Ulama telah sepakat bahwa meninggalkan shalat secara sengaja termasuk dosa besar dan di antara dosa besar yang paling besar.

Dosa orang yang meninggalkan shalat di sisi Allah lebih besar dari dosa orang yang membunuh jiwa, mengambil harta yang bukan haknya, berzina, mencuri, dan meminum minuman keras.

Orang yang meninggalkan shalat sejatinya ia telah menjerumuskan diri pada siksaan Allah –‘azza Wa jalla-, kemurkaan-Nya, dan kehinaan dari-Nya di dunia dan di akhirat.

Bersambung disini

Sumber : Kitab Ta’zhimu ash-Shalah hlm 21-23 Karya Syaikh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr

 

Footnote:

1. Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (47), Al-Marwaziy dalam Ta’zhimu Qodrish shalati (937), Al-Kholaal dalam As-Sunnah (1387), dan selain mereka secara mauquf dari sahabat Adullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-; dengan redaksi ((Barangsiapa yang tidak shalat; maka tidak ada Agama baginya)), dan sanadnya dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam kitabnya Adh-Dhaifah (1/382).

2. Diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa (51), Al-Marwaziy dalam Ta’zhimu Qodrish Shalati (923), dan selain keduanya dari hadits Al-Musawwir bin Mukhrimah dari ‘Umar bin Khaththab –radhiyallahu ‘anhu- dalam kisah penusukannya; dan atsar ini dishahihkan Al-Albaniy dalam kitabnya Al-Irwa-u (209).

3. Diriwayatkan oleh Ahmad (22016), At-Tirmidziy (2616), Ibnu Majah (3973), dari sahabat Mu’adz bin Jabal –radhiyalllahu ‘anhu- yang redaksinya sebagai berikut:”Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok perkara, tiang-tiangnya dan puncak tertinggi segala urusan?’ saya menjawab: Ya, wahai Nabi Allah. Kemudian Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” Hadits ini dishahihkan oleh At-Tirmidziy dan Al-Albaniy dalam kitabnya Al-Irwaa (413).

4. Diriwayatkan ole Abu Ya’laa di dalam Musnadnya (6634) dari sahabat Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-.

5. Faidah ini dibawakan oleh Abu Ya’laamdi dalam kitabnya ((Thabaqat Al-Hanabilah)), silahkan dilihat (1/353-354).