Kedudukan Shalat (Bagian 2)

(Bagian 1 baca disini)

KEDUDUKAN SHALAT (Bagian 2)

Oleh : Syaikh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr
Penerjemah : Ustadz Agus Jaelani Abu Abdirrahman

Kemudian para ‘Ulama berselisih pendapat mengenai hukuman mati bagi orang yang meninggalkan shalat dan berselisih pendapat pula tentang cara pembunuhannya. Mereka juga berselisih, apakah orang yang meninggalkan shalat itu kafir atau tidak.

Pendapat-pendapat para ‘Ulama dalam permasalahan ini, dan penyebutan dalil-dalilnya serta hujjah (argumen) untuk setiap masing-masing pendapat; diuraikan secara panjang lebar dalam kitab-kitab para Ahli Ilmu yang sudah dikenal;

dan tentu saja disini bukanlah tempat untuk menguraikannya secara luas serta menjelaskannya.

Sekalipun begitu, perlu diketahui bahwa di antara Ahli Ilmu ada yang berpendapat kafirnya orang yang meninggalkan shalat, mereka berargumen dengan dalil-dalil yang kuat dari Kitabullah –ta’ala- dan Sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Minimal, dalil-dalil itu menumbuhkan rasa takut yang besar di dalam hati seorang muslim dari melalaikan dan menyia-nyiakan shalat, serta menimbulkan rasa cinta di dalam dirinya untuk menjaga shalat, memperhatikannya dan mengerjakannya tepat pada waktunya sebagaimana yang telah Allah wajibkan,

Di antara dalil-dalilnya :

1. Allah Tabaroka wa Ta’alaa berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ (٣٨) إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ (٣٩) فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ (٤٠) عَنِ الْمُجْرِمِينَ (٤١) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (٤٢) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (٤٣) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (٤٤) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (٤٥) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (٤٦) حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ (٤٧)

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”

Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,

dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian”. (Al-Mudatstsir: 38-47)

Allah mengabarkan bahwa orang yang meninggalkan shalat, termasuk orang-orang yang berbuat dosa dan meniti jalan ke dalam Neraka Saqar.

2. Allah –ta’ala- berfirman:

فَخَلَفَ مِن بَعدِهِم خَلفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِ فَسَوفَ يَلقَونَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Telah datang sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- yang menjelaskan kata (غَيَّا) di dalam ayat di atas bermakna “sebuah sungai yang berada di dalam Neraka Jahannam yang baunya busuk lagi sangat dalam.”1

Sungguh, siapa pun yang mendapati azab itu pasti akan merasakan kengerian yang sangat dan betapa merugi orang yang memasukinya.

3. Allah –Ta’ala- berfirman:

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخوَٰنُكُم فِي ٱلدِّينِ وَنُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوم يَعلَمُونَ 

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (At-Taubah: 11)

Di dalam ayat tersebut Allah mengaitkan persaudaraan mereka di dalam agama dengan mengerjakan shalat, hal itu menunjukan bahwa jika mereka tidak mengerjakan shalat; maka mereka bukan saudara di dalam agama.

4. Allah –Ta’ala- berfirman:

إِنَّمَا يُؤمِنُ بِئَايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْ سُجَّدا وَسَبَّحُواْ بِحَمدِ رَبِّهِم وَهُم لَا يَستَكبِرُونَ

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.” (As-Sajadah: 15)

5. Allah –Ta’ala- berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱركَعُواْ لَا يَركَعُونَ ٤٨ وَيل يَومَئِذ لِّلمُكَذِّبِينَ ٤٩

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku’. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (Al-Mursalat: 48-49)

Allah –tabaroka wa ta’ala- menyebutkan ayat ini setelah menyebutkan firman-Nya:

كُلُواْ وَتَمَتَّعُواْ قَلِيلًا إِنَّكُم مُّجرِمُونَ

“(Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.” (Al-Mursalat: 46)

Hal itu menunjukan bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang berdosa, dia berhak mendapatkan hukuman yang berat ketika berjumpa dengan Allah –tabaroka wa ta’ala-  kelak di Hari Kiamat.

6. Imam Muslim2 meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Jabir bin Abdillah –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

“Batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”

7. Imam Ahmad dan Ahlus Sunan meriwayatkan hadits dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya ia berkata: aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan antara mereka adalah shalat maka barangsiapa yang meninggalkan shalat maka dia telah kafir.”3

8. Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Ath Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang baik, dari hadits Abdullah bin Amr Bin Al Ash radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya suatu hari beliau menyebutkan permasalahan shalat, maka beliau bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلاَ بُرْهَانٌ، وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

“Barangsiapa yang menjaganya (shalat) maka ia akan memiliki cahaya, argument (yang membelanya), dan keselamatan pada hari kiamat.

Dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka dia tidak akan memiliki cahaya, argumen (yang membelanya), dan dia tidak akan selamat. Dia pada hari kiamat akan bersama Qarun Firaun, Hamman dan Ubay bin khalaf.”4

Disini terdapat point yang sangat penting yaitu; bahwasanya orang meninggalkan shalat bisa jadi karena dia disibukkan oleh hartanya, kekuasaannya, kepemimpinannya atau perdagangannya.

Maka barangsiapa yang disibukkan oleh hartanya sehingga dia tidak melaksanakan shalat maka dia akan bersama Qorun. Barangsiapa yang disibukkan oleh kerajaannya sehingga dia tidak melaksanakan shalat maka dia bersama Firaun.

Barangsiapa yang disibukkan oleh kepemimpinannya sehingga dia tidak melaksanakan shalat maka dia bersama Haman. Barangsiapa yang disibukkan oleh perdagangannya dan hartanya sehingga dia tidak melaksanakan shalat maka dia bersama Ubay Bin khalaf.

9. Imam Ahmad5 meriwayatkan dari Muadz Bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلَاةً مَكْتُوبَةً مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat wajib dengan sengaja maka telah lepas darinya perlindungan Allah.” Hadits Shahih

10. Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya6 dari Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ فَلَا تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat sebagaimana shalat kami, menghadap kiblat kami, dan memakan sembelihan kami maka dialah orang muslim yang mendapatkan perlindungan Allah dan Rasul-Nya, maka janganlah kalian memutuskan perlindungan Allah.”

11. Imam Ahmad dalam Musnadnya, Imam Malik dalam Muwaththa’ nya, dan An-Nasa’i dalam sunannya meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Mihjan Al Aslami –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasanya dia pernah duduk di majlis bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Lalu dikumandangkan adzan untuk shalat, maka berdirilah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kemudian beliau kembali sedangkan Mihjan masih di tempat duduknya, maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepadanya:

مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ مَعَ النَّاسِ أَلَسْتَ بِرَجُلٍ مُسْلِمٍ؟!

“Apa yang mencegahmu untuk melaksanakan shalat! Bukankah engkau seorang muslim?!” Dia menjawab: “Betul, akan tetapi saya sudah shalat di rumah keluargaku.” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepadanya:

إِذَا جِئْتَ فَصَلِّ مَعَ النَّاسِ وَإِنْ كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ

“Apabila engkau mendatangi (masjid), maka shalatlah bersama orang-orang yang berada di masjid itu meskipun engkau telah melaksanakan shalat.”7

Dan banyak sekali atsar para Shahabat yang semakna dengan hal ini, diantaranya:

1. Dari Umar –radhiyallahu ‘anhu- beliau berkata:

“Tidak ada bagian di dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”8

Dan beliau juga berkata: “Tidak ada Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”

Beliau mengucapkannya di hadapan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya.

Hal senada dengan itu pun dikatakan oleh sebagian sahabat; seperti Muadz bin Jabal, Abdurrahman bin Auf, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, dan selain mereka -semoga Allah meridhoi mereka-.

2. Imam Muslim dalam shahih-nya9 meriwayatkan dari Abdullah bin Masud –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata:

“Siapa ingin menjumpai Allah pada Hari Kiamat sebagai seorang muslim; maka hendaklah ia menjaga shalat yang lima waktu dimanapun ia mendengar shalat itu……

Bersambung…

Sumber : Kitab Ta’zhimu ash-Shalah hlm 21-23 Karya Syaikh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr

 

Footnote :

1. Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy di dalam tafsirnya (18/218)

2. No. 82

3. Diriwayatkan oleh Ahmad (22937), dikeluarkan juga oleh at Tirmidzi (2621) dan Ibnu Majah (1079) dari haditz Buraidah radhiallahu anhu, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib (564)

4. Telah berlalu takhrijnya

5. No.22075, dan Al Albani berkata dalam Shahihul Jami’ (570): Hasan Lighairihi

6. Telah berlalu takhrijnya hal. 18 (kitab asli)

7. Al Musnad (16395), Al Muwaththa’ (8), dan Sunan An-Nasa’i (857), dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah (1337)

8. Telah berlalu takhrijnya hal. 21 (kitab asli)

9. No. 654