Kewajiban Shalat Kepada Seluruh Para Nabi ‘Alaihimussalam

KEWAJIBAN SHALAT KEPADA SELURUH PARA NABI ‘ALAIHIMUSSALAM

Oleh : Syaikh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr
Penerjemah : Ustadz Agus Jaelani Abu Abdirrahman

Sesungguhnya di antara yang menunjukan betapa agungnya kedudukan shalat dan besar derajatnya adalah Allah telah mewajibkan shalat kepada seluruh Nabi ‘Alaihimussalam dan telah mewartakan bahwa seluruh Nabi mengagungkannya.

Sungguh hal ini telah dijelaskan dan ditunjukan di beberapa tempat di dalam Al-Qur’an; yang di antaranya:

 

1. Allah menyebutkan dalam kisah Yunus ‘Alaihissalam ketika beliau ditelan oleh seekor ikan yang besar:

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ ١٤٣ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ  ١٤٤

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”. (Ash-Shoffat: 143-144)

Dari sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: ”Nabi Yunus ‘Alaihissalam termasuk orang yang menegakkan shalat”, dan pendapat yang senada dengan itu pun diungkapkan oleh Said bin Jubair dan Qotadah[1].

 

2. Allah menyebutkan tentang kekasih-Nya, Ibrahim ‘Alaihishalatu wa salam manakala beliau pergi membawa Ismail ‘Alaihissalam, kemudian beliau menempatkan Ismail ‘Alaihis salam di suatu lembah seorang diri tanpa ada seorang pun yang menemaninya,

lantas beliau berdoa kepada Allah Ta’ala seraya berkata:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37)

Pada saat itu, beliau tidak menyebutkan amalan selain shalat; hal ini menunjukan bahwa tidak ada amalan yang lebih utama dan sebanding dengan shalat, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (Al-Hajj: 26)

Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan di antara doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

 

3. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang Ismail ‘Alaihissalam:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (Maryam: 54-55)

 

4. Allah menyebutkan tentang Nabi Ishaq ‘Alaihissalam beserta anak keturunannya:

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.” (Al-Anbiya: 72-73)

 

5. Allah menyebutkan kisah Nabi Syu’aib ‘Alaihissalam ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah Subahanahu wa ta’ala, dan melarang mereka dari mengurangi takaran dan timbangan, maka kaumnya mengatakan:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ

“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (Hud: 87)

Di dalam ayat tersebut terdapat dalil yang menjelaskan bahwasanya mereka (kaum Nabi Syu’aib) tidak pernah mendapati Nabi Syu’aib ‘Alaihissalam mengagungkan suatu amalan melebihi pengagungan beliau terhadap shalat[2].

 

6. Musa ‘Alaihissalam merupakan seorang Nabi yang diajak berbicara secara langsung oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dan yang pertama kali diwajibkan kepadanya setelah kewajiban untuk beribadah kepada Allah, adalah kewajiban menegakkan shalat, bukan kewajiban yang lain.

Allah Subhanahu wa ta’ala berbicara secara langsung kepada Musa ‘Alaihissalam, yang mana pada saat itu tidak ada penerjemah antara Allah Subhanahu wa ta’ala dan beliau, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Thaha: 13-14)

Hal itu menunjukan besarnya kedudukan shalat dan keutamaannya atas seluruh amalan yang lain; Allah Subhanahu wa ta’ala tidak memulai percakapan dan pembicaraan-Nya secara langsung kepada Musa ‘Alaihissalam dengan kewajiban yang lebih utama dari shalat.

Kemudian diantara kewajiban yang paling awal diperintahkan kepada Musa ‘Alaihissalam adalah memerintahkan Bani Israil untuk menegakkan shalat, setelah mereka beriman. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Yunus: 87)

 

7. Dawud ‘Alaihissalam merupakan salah seorang Nabi dan orang yang dekat dengan Allah, manakala ia berbuat suatu kesalahan dan hendak bertaubat, maka ia tidak mendapati tempat kembali untuk taubatnya kecuali dengan shalat, Allah Ta’ala berfirman:

 فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

“Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (Shad: 24)

 

8. Sulaiman bin Dawud ‘Alaihissalam, manakala dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda (yang jinak tapi sangat kencang larinya) di waktu sore, memandangnya telah menyibukkan Sulaiman dari menegakkan shalat ashar, hingga waktu shalat pun berlalu

Kemudian ia menyesali perbuatannya, sehingga ia menghukum dirinya dengan mengharamkan baginya kuda yang telah menyibukannya dari shalat sampai keluar dari waktunya.

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّ ۖ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya), (ingatlah) pada waktu sore ketika dipertunjukkan kepadanya (kuda-kuda) yang jinak tapi sangat kencang larinya, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (Shad: 30-33)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

”Lebih dari satu orang dari kalangan Salaf dan dari kalangan Ahli Tafsir menyebutkan: bahwa benar Nabi Dawud ‘Alaihissalam tersibukan dengan pertunjukan kuda-kuda itu hingga berlalunya waktu shalat ashar, dan yang mesti diketahui, beliau tidaklah melakukannya secara sengaja,

namun beliau melakukannya karena lupa sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tersibukan pada saat perang khandaq dari melakukan shalat ashar, hingga beliau melaksanakan shalat ashar setelah terbenamnya matahari[3].”

 

9. Allah menyebutkan kisah Nabi Zakariya ‘Alaihissalam:

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ 

“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.”  (Ali Imran: 39)

 

10. Allah Ta’ala menceritakan tentang Nabi Isa ‘Alaihissalam ketika ia berbicara di saat masih bayi dalam gendongan ibunya. Dia berkata:

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup” (Maryam: 30-31)

 

11. Allah Subahanahu wa ta’ala menyebutkan tentang para Nabi Bani Israil:

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي

“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku.” (Al Maidah: 12)

 

12. Allah Ta’ala menyebutkan para Nabi satu persatu dan menyifati mereka di dalam firman-Nya:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)

Allah Subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang para Nabi, bahwa tempat berlindung mereka (di saat tertimpa kesusahan) adalah shalat, mereka  beribadah kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan shalat tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (Maryam: 59)

Yakni (mereka akan masuk ke dalam) lembah di neraka jahanam.[4]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwasanya para Nabi sebelum beliau,  senantiasa melaksanakan shalat lima waktu yang telah diajarkan oleh Jibril kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Ibnu Abbas h ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jibril mengimamiku di Ka’bah dua kali, dia shalat zhuhur mengimamiku ketika matahari telah bergeser dari tengah menuju barat, pada shalat ashar ia mengimamiku ketika bayangan sesuai dengan bendanya, dia shalat maghrib ketika orang yang berpuasa berbuka,

shalat isya ketika ketika warna merah di langit sudah hilang, dan shalat subuh ketika makanan dan minuman diharamkan bagi orang yang berpuasa.

Pada esok hari Jibril shalat zhuhur ketika bayangan segala sesuatu seperti bendanya, shalat ashar ketika bayangan suatu benda dua kali lipatnya, shalat maghrib ketika orang yang berpuasa berbuka, shalat isya ketika telah berlalu sepertiga malam pertama, dan shalat subuh setelah mulai terang.

Kemudian dia menoleh kepadaku dan berkata: “Wahai Muhammad, waktu shalat itu antara dua waktu ini, dan inilah waktu shalat para Nabi sebelum engkau.” (diriwayatkan oleh Al-Marwazi dalam kitabnya Ta’zhim Qadrish Shalah (29)[5].)

Dari hadits tersebut terdapat ringkasan faidah yang telah disebutkan. Semoga Allah Subahanhu wa ta’ala memberikan Taufiq kepada kita, untuk mengagungkan shalat dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa.

 

[Sumber: Ta’zhim Ash-Shalah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr]


Footnote  :

[1] Silahkan lihat Tafsir Ath-Thabariy (21/109)
[2] Al-‘Alaamah As-Sa’di V menjelaskan ketika menafsirkan ayat ini:

”Sesungguhnya shalat senantiasa disyari’atkan kepada para nabi terdahulu, shalat merupakan amalan yang paling utama, sampai-sampai orang kafir pun mengakui keutamaan dan keagungan shalat atas seluruh amalan, shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar,

shalat merupakan timbangan bagi iman dan cabang-cabangnya, sehingga dengan menegakan shalat maka akan sempurnalah keadaan agama seorang hamba, dan dengan melalaikannya, maka akan rusaklah keadaan agama seorang hamba.

[3] Tafsir Ibnu Katsir (7/65)
[4] Lihat tafsir Ath Thabari (18/217-218)
[5] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3322), Abu Dawud (393), At Tirmidzi (149), dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam shahih Al-Jami’ (1402)