Penulis: Ustadz Luthfi Abdurrouf, Lc. hafizhahullah
Pendahuluan
Setiap hamba di dalam dirinya memiliki dua daya tarik yang saling berlawanan. Yang pertama adalah daya tarik yang akan membawanya menuju tempat yang tertinggi (surga), dan yang kedua adalah daya tarik yang menyeretnya menuju tempat yang paling rendah (neraka).
Jika seorang hamba mengikuti daya tarik kebaikan, maka ia akan beruntung dan selamat. Namun, jika ia mengikuti daya tarik keburukan, maka ia akan binasa. Na’udzu billah.
Diantara daya tarik kebaikan adalah, kemurnian fitrah yang Allah ciptakan, kekuatan dorongan iman seseorang, serta lingkungan yang sholeh. Sedangkan yang termasuk daya tarik keburukan adalah, bisikan hawa nafsu, bisikan iblis dan lingkungan yang buruk.
Wajib bagi setiap Muslim yang menginginkan kebaikan untuk dirinya, agar selalu waspada akan hal ini. Hendaknya untuk senantiasa condong kepada daya tarik kebaikan, lalu ia berpegang teguh padanya. Dan Ia juga harus menjauhi dan membebaskan dirinya dari mengikuti daya tarik keburukan dan kesesatan. Salah satunya adalah “bisikan hawa nafsu”.
Apa itu hawa nafsu?
Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah menjelaskan makna hawa nafsu dengan,
الهَوَى مَيْلُ الطَّبْعِ إِلَى مَا يُلَائِمُهُ
“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya”.1
Imam Ibnu Rajab rahimahullah juga berkata,
وَقَدْ يُطْلَقُ الهَوَى بِمَعْنَى المَحَبَّةِ وَالمَيْلِ مُطْلَقًا، فَيَدْخُلُ فِيْهِ المَيْلُ إِلَى الحَقِّ وَغَيْرِهِ
“Terkadang, dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta dan kecondongan. Maka, termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan selainnya”.2
Hawa nafsu itu baik atau buruk?
Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah.
Nafsulah yang mendorong manu-sia meraih perkara yang diinginkannya, sedangkan marah mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya. Maka, tidak selayaknya nafsu dicela atau dipuji secara mutlak tanpa pengecualian. Sebagaimana marah tidak boleh dicela atau dipuji secara mutlak.3
Mengapa hawa nafsu lebih condong digunakan dalam konteks tercela?
Karena orang tersebut sulit untuk mengendalikan nafsunya sesuai dengan dalil atau aturan syari’at.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
وَالمَعْرُوْفُ فِي اسْتِعْمَالِ الهَوَى عِنْدَ الإِطْلَاقِ : أَنَّهُ المَيْلُ إِلَى خِلَافِ الحَقِّ
“Makna yang dikenal luas didalam penggunaan kata hawa nafsu secara mutlak, tanpa terikat dalam kondisi tertentu adalah kecondongan kepada sesuatu yang menyelesihi kebenaran”.4
Kebanyakan manusia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan adil, tidak bisa bersikap tengah-tengah antara berlebih-lebihan dan menelantarkan hawa nafsu. Yang sering terjadi adalah seseorang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan syubhat. Karena itulah, hawa nafsu sering disebutkan dalam konteks yang tercela. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kita untuk menundukkan hawa nafsu untuk sesuai dengan syari’at?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ
“Tidak beriman seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”5
Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengingatkan agar kita tidak menuruti hawa nafsu se-perti yang pernah diingatkan kepada Nabi Dawud alaihissalam,
يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ٢٦
“Hai Dawud! Sesungguhnya, Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad: 26)
Dalam ayat lainnya juga diingatkan,
فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Asy-Syura: 15)
Coba kita perhatikan hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasu-lullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
((كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ))
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina, dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan juga membayangkan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”6
Lihatlah bukan karena kita punya mata, telinga, lisan, tangan, kaki, kemaluan hingga hati yang membuat kita dihukum oleh Allah. Namun kita dihukum karena menuruti keinginan jelek (bisikan hawa nafsu) dari anggota tubuh tersebut.
Jadi, kita harus sadar bahwasanya dikarenakan mengikuti hawa nafsulah yang dapat mengarahkan kita pada kerusakan dan kesengsaraan.
Nafsu jelek bisa mengantarkan pada kesyirikan. Nafsu jelek bisa mengantarkan pada malas beribadah karena lebih senang untuk tidur dibanding bangun untuk shalat shubuh. Nafsu jelek juga bisa mengantarkan pada maksiat dan amalan yang tidak ada tuntunanya (bid’ah).
Maka, sungguh penting sebuah tahapan awal agar kita tidak terjatuh dalam dosa adalah dengan cara “menepis bisikan hawa nafsu kepada keburukan”. Berbuatlah adil dalam menyikapi hawa nafsu.
Bagaimana caranya?
- Hakikat dan Jenis Kesombongan.
Tatkala datang pikiran untuk berbuat dosa, atau bisikan hawa nafsu, atau bisikan setan. Katakan,
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk”.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٢٠٠
“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.” (QS. Al-A’raf: 200)
- Kuatkan keimanan kita kepada Allah dengan senantiasa ber-takwa.
Kekuatan dari keimanan dan ketakwaan menjadi tameng yang kokoh untuk melawan dan menepis godaan tersebut. Seorang mukmin yang kuat imannya akan selalu waspada terhadap tipu daya setan dan hawa nafsu.
Ia senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup, serta mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan amal saleh, doa, dan dzikir yang menjadi benteng pelindung dari segala godaan.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨
“Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Hal ini dikuatkan lagi dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلِى أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ
“Jika anak Adam membaca ayat saadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata, ‘Celaka aku! Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan sehingga pantas bagiku mendapatkan neraka.’”7
- Sadar akan dampak buruk dari dosa yang dilakukan
Kesadaran akan dampak buruk dari membiarkan lintasan pikiran (bisikan hawa nafsu) buruk yang berakar dalam hati akan menjadi motivasi besar untuk terus dapat menjaga kebersihan jiwa.
Sebab, hati yang bersih dan pikiran yang jernih akan mengantarkan se-orang hamba kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, serta mendapat-kan ridha Allah Subhanahu wa ta’ala.
Bukankah Allah telah mengingatkan akan salah satu dampak buruk mengikuti bisikan hawa nafsu? Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٢٣
﴾“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkan-nya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kalian tidak mengambil pela-jaran?” (QS. Al-Jaatsiyah: 23).
- Berteman dengan orang shalih dan sering bermajlis dengan para ulama.
Karena ingat akan pepatah Arab yang mengatakan,
الصَّاحِبُ سَاحِبٌ
“Sahabat (lingkungan pergaulan) itu bisa menarik (mempengaruhi).”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
المَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
“Seseorang akan sesuai dengan kebiasaan/sifat sahabatnya. Oleh karena itu, perhatikanlah siapa yang akan menjadi sahabat kalian ”.8
- Sibukkan diri dengan hal-hal yang bernilai ibadah.
Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan,
إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ دُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ
“Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya”.9
Ingat, perbuatan dosa itu awalnya berasal dari bisikan dalam jiwa, kemudian berkembang menjadi angan-angan, lalu berubah menjadi kegelisahan yang bergerak di dalam hati, setelah itu menjadi kehendak yang buruk, dan selanjutnya menjadi tekad yang diiringi dengan pelaksanaan.
Maka, yang lebih baik bagi seseorang adalah menepis bisikan buruk itu dari awal kemunculannya. Sebab, jika ia meremehkannya dan akhirnya terjerumus dalam perbuatan dosa, maka hal itu akan menjadi ringan baginya untuk melakukan dosa beru-lang kali hingga menjadi sifat yang melekat pada dirinya. Na’udzu billah.
Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala mencurahkan kepada kita kemudahan dalam meniti jalan kebenaran. Dan semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan keselamatan dan kemudahan kepada kita dalam menghadapi bisikan hawa nafsu untuk melakukan keburukan dan dosa. Amiin.
Referensi:
- Kitab Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, halaman 3 ↩︎
- Kitab Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399 ↩︎
- Kitab Asbabut Takhallaush Minal Mawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, halaman 3
↩︎ - Kitab Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/398 ↩︎
- Imam Nawawi menyatakan bahwa Hadits ini hasan sahih, beliau meriwayatkannya dari kitab Al-Hujjah dengan sanad shahih. Hadits arba’in no 41 ↩︎
- HR. Muslim, no. 6925 ↩︎
- HR. Muslim no. 81 ↩︎
- HR. Abu Dawud no. 4833, Tirmidzi no. 2378 Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih
↩︎ - Perkataan sahabat ini terdapat dalam kitab Al Adabusy Syar’iyyah, Ibnu Muflih, 4/303, Mawqi’ Al Islam ↩︎
Dikutip dari:


