MENGHARAP PAHALA DI BALIK MUSIBAH YANG MENIMPA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يقولُ اللَّهُ تَعالَى: ما لِعَبْدِي المُؤْمِنِ عِندِي جَزاءٌ، إذا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِن أهْلِ الدُّنْيا ثُمَّ احْتَسَبَهُ، إلَّا الجَنَّةُ

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Tidak ada balasan dari-Ku bagi seorang mukmin, ketika Aku mengambil kekasihnya diantara penghuni dunia, kemudian dia berharap (kepada-Ku) karenannya, kecuali (balasannya) adalah surga.” (HR. Bukhari)
▬▬▬

Hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan amal perbuatan yang dilakukan karena mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Orang yang diberikan musibah dengan diwafatkan kekasihnya, kemudian dia bersabar seraya mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah subhanahu wa ta’ala berjanji akan diberikan untuknya surga.

Yang dimaksud dengan Shafiyyahu (kekasihnya) adalah orang yang sangat dekat dan disayanginya, seperti anak, orang tua dan yang lainnya.

Hadits ini pun menunjukan bahwa, beramal dengan mengharapkan pahala dari Allah adalah kebaikan, dan bukan celaan. Hal itu tidak sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, bahwa orang yang mengharapkan pahala dari Allah atau mengharapkan surga adalah bukan orang yang ikhlas.

Sungguh begitu banyak dalil-dalil yang serupa dengan hadits di atas yang menjelaskan bolehnya beramal dengan mengharap pahala dari Allah, misalnya dalam hadits yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa melakukan puasa Ramadhan dengan dasar Iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampuni untuknya dosa-dosa yang telah berlalu” (HR. Bukhari)

Faidah dari Al-Ustadz,
🔳 BENI SARBENI, Lc, M.Pd.
Hafidzhahullah