Merenungi Pergantian Waktu: Tanda Kekuasaan Allah bagi Orang Berakal

Penulis: Ustadz  M. Abdulrohman, Lc. hafizhahullah

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٍ لِّأُوْلِي ٱلْأَلبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (190) (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka’ (191)”. (QS. Ali ‘Imran [3]: 190-191)

Allah Subhanahu wa ta’ala dengan kebenaran dan kebijaksaan-Nya telah mengungkapkan bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya pasti terjadi dengan tujuan yang benar dan hikmah yang mendalam. 

Setiap fenomena yang terjadi dalam alam semesta ini dengan adanya pergantian malam dan siang, perubahan cuaca, kondisi, waktu, dan kejadian-kejadian terdapat petunjuk serta pelajaran bagi siapa saja yang merenungi dan memikirkannya dengan akal sehat dan penglihatan yang tajam, sebagaimana yang Allah nyatakan pada ayat di atas dan ayat-ayat lainnya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

يُقَلِّبُ ٱللَّهُ ٱلَّيلَ وَٱلنَّهَارَۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبرَةً لِّأُوْلِي ٱلأَبْصَٰرِ

Allah mempergantikan malam dan siang. Sungguh pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam)”. (QS. An-Nūr [24]: 44)

Lalu apa hikmah dan pelajaran penting yang dapat diambil dari setiap pergantian waktu, serta faedah dan manfaat dari merenungkan dan memikirkannya? Berikut ulasannya.

Tafsir ayat di atas: Allah Subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwasannya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terkandung di dalamnya tanda-tanda yang banyak, yang menakjubkan dan membuat decak kagum orang-orang yang selalu merenungi dan memikirkan ciptaan-Nya, serta menarik hati orang-orang yang memiliki akal jernih terhadap tuntutan-tuntutan ilāhiyyah.

Mereka itulah wali-wali Allah yang selalu mengingat-Nya dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, serta mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidaklah menciptakan mereka dengan sia-sia, tanpa ada tujuan apapun.

Adapun rincian perkara yang terkandung dalam ciptaan Allah, maka tidaklah mungkin seorang makhluk dapat mencapai dan meliputi sebagiannya. Namun secara global segala sesuatu yang ada padanya berupa keagungan, keluasan, keberaturan peredaran dan gerakannya, menunjukkan kepada keagungan Penciptanya, kekuasaan-Nya, dan keuniversalan kuasa-Nya, dan semua yang ada di dalamnya berupa keteraturan dan kedetailan, serta keindahan dan kelembutan perbuatan, menunjukkan kebijaksanaan Allah yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan keluasan ilmu-Nya. Dan apapun yang terkandung di dalamnya berupa manfaat bagi makhluk menunjukkan akan keluasan rahmat Allah, keumuman karunia-Nya, kebaikan-Nya yang menyeluruh, dan kewajiban bersyukur kepada-Nya.

Semua itu menunjukkan ketergantungan hati kepada Pencipta dan Pembuatnya, dan mengerahkan segala upaya dalam memperoleh keridhaan-Nya, dan agar Allah tidak disekutukan dengan sesuatu pun, dari orang yang tidak memiliki sebesar biji dzarrah (atom) sekalipun untuk dirinya maupun untuk orang lain, di bumi dan tidak pula di langit.1

Hikmah dan pelajaran penting dari pergantian waktu:

Berdasarkan point-point penjelasan dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah terkait ayat di atas, maka bisa disimpulkan bahwa pelajaran yang paling penting dan utama, yang dapat diambil dari pergantian dan bergulirnya waktu adalah pentingnya tauhid dan merealisasikannya, dengan seluruh macam-macamnya (berupa tauhid rubūbiyyah, ulūhiyyah, dan asmā was sifāt); karena itu semua terkandung dalam ayat yang mulia di atas.

  Dan tujuan hidup manusia di muka bumi ini adalah untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنْسَ إِلَّا لِيَعبُدُونِ

Dan Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan apa yang dimaksud dengan firman Allah لِيَعبُدُونِ “beribadah kepada-Ku” pada ayat tersebut, yakni maksudnya adalah (يُوَحِّدُوْنِ) “mentauhidkan-Ku”.2

Faedah dan manfaat dari merenungi pergantian waktu:

Waktu merupakan salah satu nikmat Allah yang kebanyakan manusia tertipu dan lalai dengannya3, berarti merenungi dan memikirkannya termasuk bagian dari merenungi dan memikirkan nikmat-nikmat Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَفَكَّرُوا فِي آلَاءِ اللهِ، وَلَا تَفَكَّرُوا فِي اللهِ

“Pikirkanlah nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kalian memikirkan (Dzat) Allah”. 4

Dan merenungi serta memikirkan sesuatu yang dapat menambah keimanan dan ketaatan seorang hamba akan menghasilkan begitu banyak faedah dan manfaat dalam urusan agamanya, yang dapat melebihi sebagian amalan badannya (yang nampak), yang demikian itu karena merenungi dan memikirkan termasuk amalan hati, sedangkan amalan hati merupakan landasan bagi amalan badan, dan penggeraknya. 5

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan terkait dengan manfaat dari merenungi (tafakkur), yang dapat disimpulkan dalam beberapa point:

  • Tafakkur dapat mengantarkan seseorang yang melakukannya pada keimanan yang tidak dapat dilakukan dengan amalan semata (tanpa ada perenungan).
  • Tafakkur dapat menghasilkan bagi seseorang yang melakukannya, tersingkapnya hakikat dari segala perkara (yang ada di hadapannya), dan menjadi jelas baginya, serta dia bisa membedakan tingkatan-tingkatannya dalam kebaikan dan keburukan.
  • Tafakkur dapat membuat seseorang mampu membedakan antara wahm (kebimbangan) serta khayalan yang menghalangi banyak orang untuk mempergunakan kesempatan yang ada, dan antara sebab yang benar-benar (bukan sekedar khayalan) meru-pakan penghalang; sehingga ia memusatkan perhatian kepadanya, bukan kepada yang sekedar khayalan.6

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan kita hamba-hambaNya yang senantiasa merenungi setiap waktu yang berlalu, dan bisa mengambil manfaat dan faedah yang dapat menambah pengetahuan serta keimanan kita kepada-Nya. 

Aamiin Allahumma Aamiin… 

Referensi:

  1. Diambil dan diringkas dari Tafsir As-Sa’di, hal. 143-144, cet. Dār Ibnu Hazm, dengan sedikit perubahan dan penyesuaian ↩︎
  2. Al-ushūluts tsalālah wa adillatuha, hal. 47, cetakan ke- 4 dari Mutūn thālibil ilmi ↩︎
  3. HR. Bukhari ↩︎
  4. HR. Ath-Thabrāni dalam kitab Al-Ausath (6319), Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman (120), dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albāni dalam kitab Shahihul Jāmi’ (2975) ↩︎
  5. Lihat artikel yang berjudul “keutamaan tafakkur dan tadabbur, serta kiat mengamalkannya” (https://islamqa.info/ar/answers/239712)] ↩︎
  6. Lihat miftāh dāris sa’ādah, jilid ke- 1, hal. 540, cet. Dār Ibnu ‘Affān ↩︎

Dikutip dari:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *