Penulis: Ustadz Luthfi Abdurrouf, Lc. hafizhahullah

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: ((لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ)). قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: ((إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمَالَ، الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ)).

“Dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak akan masuk Surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau hanya sebesar biji sawi.’ Ada seseorang yang bertanya, ‘Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini sahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 91) dalam kitab Shahihnya.

Datang hadis yang serupa maknanya dengan lafaz yang berbeda, telah dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi (no. 1999), Imam Abu Daud (no. 4091), dan Imam Ibnu Majah (no. 59).

Pendahuluan:

Kesombongan adalah penyakit hati dan bencana besar bagi seorang Mukmin. Ia merupakan dosa pertama yang dilakukan makhluk terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Dosa ini pertama kali dilakukan oleh Iblis, lalu ia menanamkannya kepada para pengikutnya dari kalangan bani Adam dan menjadikanya sebagai kebiasaan bagi mereka. Sehingga, mereka tersesat dari jalan Allah. 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنٰكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنٰكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا إِلَّآ إِبْلِيْسَۗ لَمْ يَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ ١١

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami membentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: ‘Bersujudlah kamu kepada Adam’, maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia (iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud.”

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ ١٢

“Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruh-mu?’ Iblis menjawab: ‘Saya lebih baik daripada ia: Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.’”

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيْنَ ١٣

“Allah berfirman: ‘Turunlah kamu dari Surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya, kamu termasuk orang-orang yang hina.’”

قَالَ اَنْظِرْنِيْٓ إِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ ١٤

“Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.’”

قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ ١٥

“Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’”

قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِيْ لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ١٦

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.’”

ثُمَّ لاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ ١٧

“Kemudian saya (iblis) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf [7]: 11-17)

 Maka dari itu, kesombongan adalah dosa yang paling buruk dan paling merugikan. Seorang Mukmin harus sangat berhati-hati terhadapnya, karena ia adalah dosa yang menyeret seseorang kepada berbagai dosa dan kejahatan yang lain.

Penjelasan singkat:

Dalam hadis di atas, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita beberapa hal, diantaranya:

1. Hakikat dan Jenis Kesombongan

Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadis ini berisi larangan dari sifat sombong, yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran.”1

Kesombongan terbagi menjadi dua bagian:

  1. Menolak kebenaran dan tidak menerimanya, serta bersikap tinggi hati terhadap kebenaran yang datang padanya.
  2. Merendahkan dan menghinakan manusia, serta menganggap mereka tidak bernilai.

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata:

“Penjelasan yang diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis ini telah menjelaskan makna sombong dengan sangat jelas; sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membagi kesombongan menjadi dua jenis:

Jenis kesombongan yang pertama:

Kesombongan terhadap kebenaran, yaitu menolaknya dan tidak mau menerimanya. Maka, setiap orang yang menolak kebenaran, berarti dia sombong terhadapnya, sesuai dengan kadar penolakannya terhadap kebenaran. 

Hal ini karena Allah Subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan kepada para hamba-Nya agar tunduk kepada kebenaran yang datang kepadanya melalui utusan Allah (para rasul-Nya), dan kepada apa yang Allah turunkan dalam Al-Quran.

Adapun orang-orang yang sombong dari tunduk kepada Allah dan rasul-Nya secara keseluruhan, maka mereka adalah orang-orang kafir yang akan kekal di dalam Neraka, karena mereka didatangi kebenaran melalui tangan para rasul, diperkuat dengan ayat-ayat dan dalil-dalil yang nyata, tetapi kesombongan

menghalangi mereka, sehingga mereka menolaknya. 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ أَتٰىهُمْ ۙإِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗإِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ٥٦ 

“Sesungguhnya, orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai pada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka min-talah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Ghafir [40]: 56)

Sementara, orang-orang yang sombong untuk tunduk kepada sebagian kebenaran, karena bertentangan dengan pendapat dan hawa nafsu mereka meski mereka bukan orang kafir, maka mereka tetap mendapatkan hukuman yang sesuai dengan kadar kesombonganya dan sejauh mana mereka terpengaruh oleh sikap sombong dalam menolak kebenaran yang sudah jelas baginya setelah datangnya penjelasan kepadanya. 

Oleh karena itu, para ulama telah bersepakat, bahwa siapa pun yang telah jelas baginya sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya atau menyelisihinya demi perkataan siapa pun itu.

Maka, wajib bagi kaum Muslimin memiliki tekad yang kuat untuk mendahulukan perkataan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di atas perkataan siapa pun, karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya, yakni dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya dan mengikutinya secara lahir dan batin.2

Kita ketahui pula sikap seorang Muslim terhadap setiap kebenaran adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ أَمْرًا أَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ ٣٦

“Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan Mukmin perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Jenis kesombongan yang kedua:

Kesombongan terhadap makhluk adalah dengan meremehkan dan menghinakan mereka. Kesombongan ini muncul dari rasa bangga seseorang terhadap dirinya sendiri dan perasaan yang membesar-besarkan dirinya. Perasaan kagum seseorang terhadap dirinya sendiri mendorongnya untuk bersikap sombong terhadap orang lain, meremehkan mereka, mencemooh mereka, dan menganggap rendah mereka baik dalam uca-pan maupun perbuatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim”3

Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia diantaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. 

Padahal, kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakikatnya manusia tidak memiliki apa-apa. Lantas, mengapa dia harus sombong terhadap orang lain?

2. Hukuman kepada orang yang sombong

Dalam hadis tersebut, telah jelas bahwasanya hukuman terbesar bagi orang yang sombong adalah Neraka. Hal ini karena sejatinya, orang yang sombong sedang menandingi Allah Subhanahu wa ta’ala. Kesombongan adalah sifat yang hanya boleh dimiliki oleh Allah.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadis qudsi:

قَالَ اللهُ : الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِيْ وَالْعَظَمَةُ إِزَارِيْ، فَمَنْ نَازَعَنِيْ وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Allah berfirman: ‘Kesombongan adalah selendang-Ku, dan kebesaran adalah sarung-Ku. Barang siapa menyaingi-Ku (mengambil) salah satu dari keduanya, maka ia akan Aku lemparkan ke dalam Neraka.”4

Dalam sebuah hadis, dikisahkan,

((أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ بِشِمَالِهِ فَقَالَ: ((كُلْ بِيَمِينِكَ)). قَالَ لَا أَسْتَطِيْعُ، قَالَ: ((لَا اسْتَطَعْتَ)). مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ. قَالَ: فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيْهِ.

“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tangan kirinya. Lalu, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Orang tersebut malah menjawab, ‘Aku tidak bisa.’ Beliau bersabda, ‘Apakah kamu tidak bisa?’ (Dia menolaknya karena sombong). Setelah itu, tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.”5

Lihatlah orang tersebut, mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya yang menolak kebenaran, yaitu perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya, dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap kebenaran.

3. Cara selamat dari kesombongan

Seorang Muslim dapat selamat dari kesombongan dengan melakukan beberapa hal:

1. Mengenal Allah akan keagungan-Nya, kemuliaan-Nya, dan kebesaran-Nya. 

Yakni mengenal Allah melalui sifat-sifat dan nama-nama-Nya. Jika seseorang telah memahami bahwa kebesaran dan keagungan itu hanya-lah milik Allah, maka ia tak akan berani untuk sombong.

2. Mengenal dirinya sendiri: bagai-mana proses ia diciptakan.

Yakni, mengenal bahwa ia hanyalah seorang hamba yang hina dan makhluk yang lemah. Ia harus merenungkan keadaannya sebelum ia ada; tidakkah ia dahulu sesuatu yang tidak disebut-sebut? Kemudian ia diciptakan dari tanah liat yang melekat, lalu dari setetes air mani yang hina, kemudian menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging, kemudian berkembang dalam penciptaan ini hingga ia menjadi manusia yang memiliki akal yang dapat berpikir dan berbicara. Semua itu terjadi semata-mata karena karunia dan anugerah Allah Subhanahu wa ta’ala. Lalu, untuk apa ia sombong?

3. Memiliki sifat tawadu

Yakni bersikap rendah hati, baik terhadap kebenaran yang datang, maupun kepada sesama manusia.

Seseorang yang memiliki tawadu tidak akan berkurang kehormatan-nya, justru ia akan semakin tinggi dan mulia. Sebaliknya, seseorang yang sombong tidak akan bertambah ke-hormatannya, justru ia semakin hina dan rendah. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّٰهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Dan tidak ada orang yang tawadu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”6

Semoga, Allah Subhanahu wa ta’ala mencurahkan kepada kita sifat tawadu dan menjauhkan dari sifat kesombongan.

Referensi:

  1. Kitab Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam. ↩︎
  2. Diintisarikan dari kitab Bahjatu Qulubil Abrar karya Syaikh Nashir as-Sa’di, hal 194-195, cet Daarul Kutub ‘Ilmiyah. ↩︎
  3. HR Muslim (no. 2564 ↩︎
  4. HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah. ↩︎
  5. HR. Muslim (no. 3766) ↩︎
  6. HR. Muslim (no. 2588). ↩︎

Dikutip dari:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *