Dua Jalan Menuju Surga

Penulis: Ustadz Luthfi Abdurrouf, Lc. hafizhahullah

عَنْ ‌أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ: «تَقْوَى اللهِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ: «الْفَمُ وَالْفَرْجُ».


Dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam Surga, beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik”. Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang ke dalam Neraka, beliau menjawab: “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan”.

Takhrij Hadits:

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu Isa at-Tirmidzi radhiyallahu’anhu dalam kitab nya Sunan at-Tirmidzi nomor 2004, bab “Hadits-hadits tentang akhlak mulia”. Beliau mengatakan bahwa hadits di atas adalah shahih gharib.

Begitu pula Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan, bahwa hadits di atas adalah hasan isnad.[1]  Juga dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah Rahimahullah secara makna di dalam kitabnya Sunan Ibnu Majah kitab zuhud, bab Dzikru Adz-Dzunub nomor 4246.  Dan Imam al-Albani rahimahullah menghukumi haditsnya hasan.[2]

Penjelasan Hadits: 

Inilah dua perkara yang dapat membawa seseorang kepada kebahagiaan akhirat, dan sebaliknya dua perkara yang dapat membawa seseorang kepada kesengsaraan akhirat. Sekarang, bagaimana sikap kita sebagai seorang Muslim akan berita (hadits) yang telah datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini?  

Maka, mari mengamalkan dua perkara yang dapat memasukkan kita ke dalam Surga dan mewaspadai serta menjauhi dua perkara yang dapat menjerumuskan kita ke dalam Neraka.

Tentunya semua ini bisa kita lakukan, jika kita mengilmui dan memahami terlebih dahulu, lalu mengamalkannya.

Berikut penjelasan ringkas akan dua perkara yang dapat memasukkan seseorang ke dalam Surga yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tersebut: 

  • Takwa kepada Allah

Ini merupakan wasiat Allah Subhanahu wa ta’ala untuk kaum terdahulu dan yang akan datang, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Dan sesungguhnya kami telah mengikat janji kepada orang-orang yang telah diberi kitab suci sebelum kalian dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan kami ikat janji kepada kalian juga (wahai umat Muhammad), untuk bertakwa kepada Allah”. (QS. An-Nisa 131)

Takwa pada dasarnya adalah “seorang hamba menjadikan sebuah penghalang antara dirinya dengan sesuatu yang ditakuti”. Sehingga takwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah, “Seorang hamba menjadikan antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa ta’ala suatu benteng yang dapat menghalangi dirinya dari kemarahan, murka dan siksa Allah”. 

Para Ulama banyak mendefinisikan takwa ini dengan, “Melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dan menjauhi larangan Allah Subhanahu wa ta’ala”. 

Namun, takwa yang sempurna sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah adalah, “Mengerjakan kewajiban, meninggalkan keharaman dan perkara-perkara syubhat (rancu), juga mengerjakan perkara-perkara yang sunnah, dan meninggalkan yang makruh”. Inilah derajat takwa yang paling tinggi.

Shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surah Ali Imran ayat 102:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah pada Allah dengan sebenar-benarnya takwa”, beliau berkata:

أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى ، وَيُذْكَرُ فَلاَ يُنْسَى ، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكَفَّرُ

“Maksud ayat tersebut adalah Allah itu ditaati, tidak bermaksiat pada Nya. Allah itu terus diingat, tidak melupakan-Nya. Nikmat Allah itu di-syukuri, tidak diingkari”. [3]

Yang dimaksud bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala di sini adalah dengan melakukan segala ketaatan pada Nya. Adapun yang dimaksud mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak melupakan Nya adalah selalu mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala dengan hati pada setiap gerakan dan diamnya, begitu juga saat berucap. Semuanya dilakukan hanya untuk meraih pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Begitu pula larangan Nya pun dijauhi karena takut akan siksa Allah Subhanahu wa ta’ala[4]

  • Akhlak yang Baik

Perkara ini memiliki hubungan erat dengan perkara sebelumnya (takwa), sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertakanlah kebaikan setelah melakukan keburukan, niscaya ia akan menghapuskan keburukan tersebut dan berakhlaklah (bermuamalah) dengan manusia dengan akhlak yang baik”. [5]

Maka akhlak yang baik merupakan buah dari pada takwa, dan tidak akan sempurna ketakwaan seseorang me-lainkan dengan akhlak yang baik. Takwa dan akhlak yang baik sebuah satu kesatuan, akhlak yang baik merupakan bagian dari takwa itu sendiri.Akan tetapi, banyak manusia menyangka bahwa takwa hanyalah menunaikan hak Allah Subhanahu wa ta’ala semata tanpa memperhatikan hak sesama makhluk. Bahkan, mereka tidak sadar bahwa berakhlak baik merupakan sebuah cerminan imannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, mereka tidak sadar bahwa berakhlak baik merupakan bentuk ibadah kepada

Allah Subhanahu wa ta’ala, mereka menyangka berakhlak baik hanya sebatas formalitas. ini semua sebuah kesalahan yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

((أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُم خُلُقًا))

“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”.[6]

Apa makna dari akhlak yang baik menurut para ulama?, maka mereka berbeda-beda di dalam mendefinisikan. Di antaranya:

Ishaq bin Rahuwyah rahimahullah berkata tentang akhlak yang baik:

هُوَ بَسْطُ الْوَجْهِ ، وَأَنْ لَا تَغْضَب

“Bermuka manis dan jangan marah”.

Al Hasan Al Bashri rahimahullah juga mengatakan:

حُسْنُ الْخُلُقِ: الْكَرَمُ والْبَذْلَةُ وَالاِحْتِمَالُ

“Akhlak yang baik adalah ramah/ santun, dermawan, dan bisa menahan amarah”.

Asy Sya’bi rahimahullah berkata bahwa akhlak yang baik adalah:

الْبَذْلَةُ وَالْعَطِيَّةُ وَالْبِشْرُ الْحَسَنُ ، وَكَانَ الشَّعْبِيُّ كَذَلِكَ

“Bersikap dermawan, suka memberi/ berbagi, dan memasukkan kegembiraan pada orang lain”. Begitulah Asy Sya’bi, ia sangat gemar melakukan hal itu semua.

Ibnul Mubarok rahimahullah mengatakan bahwa akhlak yang baik adalah:

هُوَ بَسْطُ الْوَجْهِ ، وَبَذْلُ الْمَعْرُوْفِ ، وَكَفُّ الْأَذَى

“Bermuka manis (senyum), gemar melakukan kebaikan dan menahan diri dari menyakiti orang lain.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata:

حُسْنُ الْخُلُقِ أَنْ لَا تَغْضَبَ وَلَا تَحْتَدَّ ، وَعَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: حُسْنُ الْخُلُقِ أَنْ تَحْتَمِلَ مَا يَكُوْنُ مِنَ النَّاسِ

“Akhlak yang baik adalah jangan engkau mudah marah dan cepat naik darah (emosi)”. Beliau juga berkata: “Berakhlak yang baik adalah bisa menahan amarah di hadapan manusia”.[7]

Dan masih banyak lagi penafsiran akan akhlak yang baik. Maka jadilah seorang Mukmin yang bertakwa danber-akhlak mulia. Itulah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlak”.[8]

Tak lupa pula untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar senantiasa diberikan ketakwaan dan akhlak yang baik, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanjatkan do’a:

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لِأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlak tersebut kecuali Engkau”. [9]

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala mengarunia-kan kepada kita dua perkara di atas, yaitu takwa dan akhlak yang baik. Untuk dua perkara yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam Neraka, bisa dibaca pada M-BIS edisi 4 bulan Dzulqo’dah 1445H)

Faedah Hadits:

  1. Selalu berhias dengan hal-hal yang dapat memasukan diri kita ke dalam Surga Allah, dan menjauhi dari hal-hal yang dapat menjerumuskan diri kita ke dalam Neraka Allah.
  2. Selalu bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala di manapun dan kapanpun kita berada.
  3. Selalu berakhlak yang baik kepada siapapun itu, baik kepada Sang Khaliq (Allah) atau kepada sesama makhluk (hamba).

Referensi:

  • [1]Lihat kitab Shahih Sunan Tirmidzi, karya Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, no. 2004 hal 379 jilid ke 2 cetakan maktabah Ma’arif linnasyr wattauzi’.
  • [2]Lihat kitab Sunan Ibnu Majah no. 4246 hal 118 jilid 2, cetakan daar Ihya al-kutub al-Arabiyyah, dengan tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi.
  • [3]HR. al-Hakim secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah), namun yang lebih shahih ini adalah mauquf (sampai kepada Shahabat), berarti ini hanya perkataan Shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu
  • [4]Diringkas dan disesuaikan dari kitab Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam karya Ibnu Rajab al-Hambali, jilid 1 halaman 397-402, cetakan Mu’assasah Risalah Beirut.
  • [5]HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.
  • [6]HR. Ahmad 472/2, Abu Daud 4682, Tirmidzi 1162, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban
  • [7]Diringkas dan disesuaikan dari kitab Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam karya Ibnu Rajab Al-Hambali, jilid 1 halaman 455-458, cetakan Mu’assasah Risalah Bairut
  • [8]HR. Ahmad 2/381, shahih
  • [9]HR. Muslim no. 771

Dikutip dari:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *