Penulis: Ustadz Luthfi Abdurrouf, Lc. hafizhahullah
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ؟ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ تَحْرُمُ عَلَى كُلِّ قَرِيْبٍ، هَيِّنٍ، لَيِّنٍ، سَهْلٍ
Dari Sahabat ‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Maukah kalian aku beritahu tentang siapakah orang yang diharamkan masuk Neraka? Atau kepada siapakah Neraka itu diharamkan? Neraka itu diharamkan untuk orang yang qarib (dekat dengan manusia), orang yang hayyin (tawadu), orang yang layyin (lemah lembut), dan orang yang sahlin (mudah dalam bermuamalah).”
Takhrij Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab Sunannya (4/654) no. 2488. Beliau menghukumi hadits tersebut dengan mengatakan “hasan gharib”.
Terdapat pula hadits yang Semakna denganya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnadnya dengan kalimat:
حُرِّمَ عَلَى النَّارِ كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ قَرِيْبٍ مِنَ النَّاسِ
“Diharamkan dari api Neraka setiap orang yang hayyin, layyin, sahlin, qaribin minannaas.”
Hadits tersebut dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Shahih Al-Jami’ As-Shoghir waziyadatuhu (1/500) no. 3135.
Penjelasan Hadits:
Setiap Muslim memiliki keinginan kuat agar kelak masuk ke dalam Surga Allah Subhanahu wa ta’ala, dan dapat terhindar dari api Neraka. Namun, ada sebuah pertanyaan yang selalu terbayang da-lam benak setiap Muslim yang memiliki cita-cita tersebut, yaitu “Siapakah orang yang diharamkan dari api Neraka?”
Maka, jawabannya adalah mereka yang wafat di atas kalimat Laa ilaaha illallah, dan mentauhidkan-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ. يَبْتَغِيْ بِذٰلِكَ وَجْهَ اللهِ
“Sesungguhnya, Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan Neraka bagi siapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang benar di-sembah selain Allah Subhanahu wa ta’ala), yang dengannya ia mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa ta’ala”.[1]
Dalam hadits di atas, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan, bahwasanya barang siapa yang mengucapkan kalimat laa ilaha illallah dengan ikhlas dan melaksanakan konsekuensinya (menjauhi kesyirikan dan mengamalkan kalimat tadi secara lahir dan batin), dan wafat dalam keadaan demikian, maka Neraka tidak akan menyentuhnya pada Hari Kiamat kelak.[2]
Namun, ternyata tidak hanya itu. Di sana, terdapat beberapa karakter yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan sebagai ciri orang yang diharamkan dari api Neraka, yaitu sebagaimana dalam hadits di atas.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تَحْرُمُ عَلَى كُلِّ قَرِيْبٍ، هَيِّنٍ، ليِّنٍ، سَهْلٍ
“Neraka itu diharamkan untuk setiap orang yang memiliki karakter qarib, hayyin, layyin, sahlin.”[3]
Itulah empat karakter yang apabila terdapat pada seorang Muslim, maka kelak akan Allah Subhanahu wa ta’ala haramkan dari Neraka. Karakter tersebut adalah:
1. Qarib
Kata qarib (dekat) bisa diartikan juga sebagai orang yang berkarakter “mudah”, dalam arti bahwa jika terjadi suatu kesalahan atau hal yang serupa terjadi kepadanya, lalu ia dimintai kerelaannya untuk memaafkan, maka ia akan mudah dalam memaafkan.
Sebaliknya, ada orang yang berkarakter ba‘id (jauh). Jika terjadi kekurangan dalam haknya, maka kerelaannya sulit untuk diperoleh. Orang seperti ini bukan qarib (dekat), tetapi ba‘id (jauh). Oleh karena itu, sebagian ulama menafsirkan qarib di sini sebagai orang yang “mudah” (sahlin). Namun, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebutkan sahl (mudah) dalam daftar karakter ini di bagian akhir matan hadits, maka lebih tepat jika kata qarib memiliki makna tambahan, bukan sekadar penegasan dari sahl (mudah). Jadi, qarib bukan hanya berarti sahl saja, tetapi memiliki makna lain, seperti:
- Cepat kembali kepada kebaikan jika ia sempat menjauh atau berselisih dengan seseorang.
- Mudah memaafkan jika ia dimintai kerelaannya.
- Mudah didekati dalam bersosial.
Dengan demikian, makna karakter qarib adalah seorang Muslim yang memiliki sifat dekat dengan manusia karena akhlaknya yang baik. Sebaliknya, orang yang ba’id (jauh) dijauhi oleh manusia karena sifatnya yang kasar atau ucapannya yang kotor dan menyakitkan, termasuk orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ
“Sungguh, seburuk-buruk manusia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala pada Hari Kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena khawatir akan kejahatannya (akhlak yang buruk)” [4]
2. Hayyin
Karakter hayyin adalah sifat terpuji. Berbeda dengan lawanya, yaitu hawan, yang merupakan sifat tercela dan dekat dengan makna dzull (kehinaan). Jadi, makna karakter hayyin di sini adalah seorang Muslim yang memiliki sifat tawadu’ dan tidak sombong, yang rendah hati dan tidak merasa tinggi hati. Ia selalu menjaga dirinya agar tidak menjadi orang yang ketika bertemu dengan orang lain, membuat orang lain merasa tidak suka kepadanya karena karakternya yang buruk dan sombong.
Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk Surga orang yang di hatinya terdapat kesombongan, walau hanya sekecil biji sawi.”[5]
3. Layyin
Karakter layyin (lembut) adalah lawan dari syiddah (keras). Jadi, maknanya adalah seorang Muslim yang memiliki sifat berlemah lembut kepada manusia, tidak bersifat kasar kepada manusia. Sifat lembut ini adalah sesuatu yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ
“Sungguh, Allah Subhanahu wa ta’ala itu Maha Lembut, dan menyukai kelembutan.” [6]
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
إنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya, tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, kecuali ia akan menghiasinya. Dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu, kecuali itu akan mencorengnya.”[7]
4. Sahlin
Sebagaimana yang sudah kita singgung pada karakter qarib, maka makna dari karakter sahlin adalah seorang Muslim yang bersifat mudah dalam bermuamalah/bersosial.
Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رَحِمَ اللهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى
“Semoga, Allah Subhanahu wa ta’ala merahmati seorang hamba yang mudah ketika ia menjual, mudah ketika ia membeli, dan mudah ketika ia menagih utang.” [8]
- Mudah ketika membeli, berarti seseorang tidak menawar dengan harga yang membuat penjual merasa sesak.
- Mudah ketika menjual, artinya seseorang tidak mengambil keuntungan yang mencekik para pembeli.
- Mudah ketika menagih utang, artinya seseorang tidak menyusahkan ketika tahu bahwa orang yang berutang itu kesulitan hidup.
Oleh karena itu, ketika seorang hamba diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala karakter/akhlak yang mulia ini, ia senantiasa dekat dengan manusia dan mendapatkan perlindungan dari api Neraka kelak.
Penutup
Semua karakter ini adalah bagian dari pembagian Allah Subhanahu wa ta’ala kepada hamba-hamba Nya. Apabila seorang Muslim memilikinya, maka ia mendapatkan jaminan berupa dijauhkan dari Neraka.
Namun, semua manusia tidak sama dalam hal ini. Ada yang Allah Subhanahu wa ta’ala beri sifat-sifat tersebut sebagai anugerah (hadiah), dan ada yang mendapatkannya dengan usaha, latihan, dan pemaksaan diri. Hal ini seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ
“Sesungguhnya, ilmu didapatkan dengan Belajar, dan sesungguhnya karakter hilm (kesabaran dan ketenangan) didapat dengan terus melatih diri”.[9]
Sebaliknya, seorang Muslim yang tidak memiliki karakter ini (tidak hayyin, tidak layyin, tidak sahlin, dan tidak qarib), maka ia adalah orang yang kasar, sombong, sulit, keras kepala, dan tidak mudah memaafkan serta jauh dari manusia, mendapatkan ancaman siksa Neraka.
Orang seperti ini bisa terlihat dalam berbagai aspek kehidupannya. Contohnya:
– Jika tetangganya berbuat sedikit kesalahan, yaitu memarkirkan mobil di dekat rumahnya, maka itu akan menjadi masalah besar. Apabila sang pemilik rumah memiliki karakter qarib, sahlin, hayyinn, dan layyin, ketika tetangganya meminta agar ia memaafkan akan kesalahannya, maka ia akan dengan mudah menerimanya dan mengatakan, “Baiklah, mari kita berdamai dan saya maafkan.”
Sebaliknya, apabila sang pemilik rumah tidak memiliki karakter di atas, ketika tetangganya meminta agar ia memaafkan akan kesalahannya, maka ia akan dengan mudah marah dan mengatakan, “Saya tidak akan maafkan.”
-Jika seseorang menabrak mobilnya di jalan, lalu yang menabrak berkata, “Apa pun yang Anda minta, saya akan memberikannya, tetapi tolong jangan membuat kami menunggu terlalu lama di tengah jalan dan di bawah terik matahari.” Apabila sang pemilik mobil memiliki karakter qarib, sahlin, hayyinn, dan layyin, maka ia akan dengan mudah menerimanya dan berkata, “Baiklah, mari kita berdamai dan saya maafkan.”
Sebaliknya, apabila sang pemilik mobil tidak memiliki karakter di atas, maka ia akan dengan mudah marah dan berkata dengan bersikeras, Tidak! Polisi harus datang terlebih dulu!” Maka, seorang Muslim seharusnya mampu mengalah, bersabar, memaafkan, dan menghindari dari menyakiti saudara-saudaranya, baik dengan perbuatan, katakata, atau tindakan lain yang merugikan.
Jika ia melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari ucapan atau perbuatan seseorang, maka ia harus menahan diri, bersabar, dan mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
Semua karakter ini perlu dilatih dan ditanamkan dalam diri setiap Muslim serta diajarkan kepada anak-anak dan murid-murid. Jika anak-anak melihat ayah atau pendidik mereka sebagai orang yang berkarakter keras kepala dan kasar, mereka akan menganggap karakter itu sebagai suatu keunggulan dan kekuatan. Jika lingkungan di sekitar mereka penuh dengan orang-orang yang keras dan buruk, maka anak-anak ini akan tumbuh dengan karakter serupa.
Semoga, Allah Subhanahu wa ta’ala memberi kita karakter/akhlak yang baik, dan menjauhkan kita dari karakter-karakter yang tercela. Amin.
Referensi:
- [1]HR. Bukhari dan Muslim.
- [2]Lihat kitab Mulakhos fii Syarh Kitab Tauhid, Dr. Shalih Al-Fauzan, hal. 28.
- [3]HR Tirmidzi dalam kitab Sunannya (4/654) no. 2488.
- [4]HR Bukhari dan HR Muslim.
- [5]HR. Muslim, no. 2749
- [6]HR Bukhari dan Muslim.
- [7]HR. Muslim (no. 2596).
- [8]HR. Bukhari
- [9]HR. Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Silsilah Ahadits Asshohihah (571/1) (no. 342).
Dikutip dari:


