Kaidah Kesembilan: Penghalang Keistiqamahan Adalah Syubhat yang Menyesatkan dan Syahwat yang Membinasakan

KAIDAH KESEMBILAN: PENGHALANG KEISTIQAMAHAN ADALAH SYUBHAT  YANG MENYESATKAN DAN SYAHWAT YANG MEMBINASAKAN

Oleh: Syaikh ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr

Syubhat dan syahwat itu adalah pemutus dan penghalang yang dapat memalingkan seseorang dari istiqamah. Orang yang berjalan diatas jalan yang lurus, pasti dia akan bertemu dengan syubhat dan syahwat yang berulang-ulang yang dapat memalingkan dirinya dari jalan Allah yang lurus.

Semua yang menyimpang dari istiqamah, penyebabnya bisa saja syubhat atau syahwat. Syahwat itu dapat merusak amalan, dan syubhat dapat merusak ilmu.

Allah berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (153)

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153)

Telah datang sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam Musnad Imam Ahmad1 Ia berkata:

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ) : إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ (

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuatkan kami satu garis kemudian beliau bersabda: “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau menggaris beberapa garis dari sebelah kanan dan sebelah kirinya, lalu beliau bersabda: “Ini adalah jalan yang banyak.” Yazid berkata; “Bermacam-macam, pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya, kemudian beliau membaca ayat: (Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya).”

Syaithan yang menyeru dan mengajak manusia menyimpang dari jalan Allah yang lurus, ajakan syaithan untuk menyimpang dari jalan Allah dapat berupa syubhat atau syahwat.

Maka apabila syaithan melihat kekurangan pada diri seorang hamba dalam ilmu agamanya maka syaithan menggodanya dengan pintu syahwat, namun ketika melihat kepada hamba yang memiliki semangat dalam menjaga agamanya maka syaithan menggodanya dengan pintu syubhat.

Sebagaimana perkataan sebagian dari ulama salaf:

مَا أَمَرَ اللهُ تَعَالَى بِأَمْرٍ إِلَّا وَلِلشَّيْطَانِ فِيْهِ نَزْغَتَانِ: إِمَّا إِلَى تَفْرِيْطٍ وَتَقْصِيْرٍ, وَإِمَّا إِلَى مُجَاوَزَةٍ وَغُلُوٍّ، وَلَا يُبَالِي بِأَيِّهِمَا ظُفُرٍ

“Tidaklah Allah subhanahu wata’ala memerintahkan suatu perintah melainkan syaithan pasti berusaha menghalangi dengan dua cara: entah dengan meremehkan dan mengentengkan perintah tersebut, atau dengan cara berlebih-lebihan dan ghuluw, syaithan tidak peduli dengan cara manakah ia berhasil.”

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu ta’ala berkata:

وَقَدْ اقْتَطَعَ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا أَقَلُّ الْقَلِيْلِ فِي هَذَيْنِ الْوَادِيَيْنِ: وَادِي التَّقْصِيْرِ وَوَادِي الْمُجَاوَزَةِ وَالَّتعَدِّي, وَالْقَلِيْلُ مِنْهُمْ جِدًّا الثَّباَتُ عَلَى الصِّرَاطِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ رُسُوْلُ اللهِ ﷺ وَأَصْحَابُهُ

“Sungguh kebanyakan manusia kecuali hanya sedikit sekali dari mereka yang mampu selamat dari kedua lembah ini, yaitu lembah taqshir (meremehkan dan melalaikan), dan lembah mujawazah (berlebih-lebihan) dan ta’addiy (melampaui batas). Dan alangkah sedikitnya orang yang mampu kokoh berdiri diatas jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat beliau radhiyallahu anhum.”2

Dan disini kami akan memberikan sebuah perumpamaan yang sangat indah dan agung, yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dan Jaami At-Tirmidzi dan yang lainnya, sebuah hadits dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallohu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلَا تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ تَعَالَى وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

“Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam shirath dan janganlah kalian menoleh kesana kemari’. Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, ‘Celaka kamu, jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk kedalamnya’. Ash-Shirath itu adalah Al Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan shirath itu adalah Kitabullah (Al Qur`an) ‘azza wa jalla. Sedangkan penyeru dari atas shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.”3

Yang menjadi syahid (titik utama) dalam hadits ini adalah bahwa sesungguhnya disetiap sisi jalan istiqamah terdapat pintu-pintu yang dapat mengeluarkan seseorang dari jalan istiqamah, pintu-pintu ini secara umum kembali kepada dua hal: yang pertama adalah syubhat dan yang kedua adalah syahwat. Dan yang menjadikan seorang hamba keluar dari istiqamah adalah dengan dua sebab ini, yaitu diakibatkan syubhat atau dengan syahwat.

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

وَقَدْ نَصَبَ اللهُ –سُبْحَانَهُ- الْجِسْرَ الَّذِي يَمُرُّ الَّناسُ مِنْ فَوْقِهِ إِلَى الْجَنِّة، وَنَصَبَ بِجَانِبَيْهِ كَلَالِيْبَ تَخْطَفُ الَّناسَ بِأَعْمَالِهِمْ، فَهَكَذَا كَلَالِيْبُ الْبَاطِلِ مِنْ تَشْبِيْهَاتِ الضَّلَالِ، وَشَهَوَاتِ الْغَيِّ تَمْنَعُ صَاحِبَهَا مِنَ اْلإِسْتِقَامَةِ عَلَى طَرِيْقِ الْحَقِّ وَسُلُوْكِهِ وَالْمَعْصُوْمِ مَنْ عَصَمَهُ اللهُ

“Allah telah membentangkan jembatan yang akan dilalui manusia dari atasnya menuju ke surga, dan Allah pasangkan kalalib (besi-besi pengait) yang dapat mengait (menahan) manusia disebabkan amal perbuatan mereka. Demikian pula kalalib bathil (didunia) berupa syubhat yang menyesatkan dan syahwat yang membinasakan, yang dapat menghalangi seseorang dari istiqamah diatas jalan yang benar dan melewatinya. Adapun orang yang terpelihara dari hal ini mereka adalah orang-orang yang Allah jaga.”4

Seorang muslim dalam kondisi seperti ini, membutuhkan dua jenis hidayah sehingga dia bisa selamat dalam kehidupannya, yaitu hidayah petunjuk kepada jalan yang lurus dan hidayah petunjuk diatas jalan yang lurus.

Imam ibnul qoyyim berkata:

“Hidayah petunjuk kepada jalan yang lurus dengan hidayah dalam menempuh jalan yang lurus adalah dua hal yang berbeda. Pernahkah anda melihat seseorang yang mengetahui jalan ke negeri fulan itu melalui jalan ini dan itu, namun dia tidak begitu baik ketika melewati jalan tersebut. Karena melakukan perjalanan itu memerlukan hidayah (petunjuk) khusus tentang perjalanan itu sendiri, seperti pengetahuan tentang waktu tertentu yang tepat untuk melakukan perjalanan sedangkan di waktu lainnya tidak disarankan, berbekal dengan air yang cukup untuk perjalanan, bermalam di lokasi tertentu, ini semua adalah petunjuk (hidayah) di dalam melakukan perjalanan itu sendiri yang sering diabaikan oleh orang yang sudah mengetahui tujuan jalannya, akibatnya ia pun celaka dan tidak sampai tujuan.”5

Bersambung in syaa Allah…

Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Ainun Wahidin, Lc. dari kitab:
‘Asyru Qawaa’id Fil Istiqaamah, Syaikh ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr


[1] No. 4142

[2] Ighatsatul lahafan  (1/136)

[3] Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (17634) dan At-Tirmidzi (2859) dan Al-Hakim (1/144) dan telah dishahihkan oleh dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan Al-Albani dalam Shahih Aljami’ (3887)

[4] Ash-Showa’iqul Mursalah (4/1256)

[5] Risalah Ibnul Qoyyim Ila Ahadi Ikhwanihi (hal 9)