Kaidah Kesepuluh: Menyerupai Orang Kafir Merupakan Sebab Terbesar Berpaling Dari Istiqamah

KAIDAH KESEPULUH: MENYERUPAI ORANG KAFIR MERUPAKAN SEBAB TERBESAR BERPALING DARI ISTIQAMAH

Oleh: Syaikh ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr

Menyerupai orang kafir dampak negatifnya itu kembali kepada dua hal:

1. Rusaknya ilmu
2. Rusaknya amal

Perhatikanlah makna yang terkandung dalam ayat dibawah ini!

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”1

Rusaknya kaum yahudi adalah dari amalnya, dan rusaknya kaum nasrani adalah dari ilmunya , maka orang yahudi mereka berilmu namun tidak mau beramal adapun orang nasrani mereka beramal akan tetapi tidak dengan ilmu.

Dan kerusakan yang terjadi pada kasus seperti ini, bisa jadi dikarenakan menyerupai orang-orang yahudi yang manakala manusia memiliki ilmu namun tidak mau mengamalkan ilmunya, atau menyerupai orang-orang nasrani yang manakala memiliki semangat dalam beramal akan tetapi tidak dibarengi ilmu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ta’ala menamakan kitabnya Iqtidhaa-us Shiraathil Mustaqiim Mukhaalafata Ash-Haabil Jahiim (Meniti Jalan Yang Lurus Menyelisihi Para Penghuni Neraka Jahim) dalam buku ini beliau menjelaskan tentang sebagian sifat buruk dari Ahli Kitab yang juga menimpa kepada umat ini, agar seorang muslim tidak berpaling dari ash-shirathal mustaqim sehingga tidak terjatuh kejalan yang dimurkai Allah atau tersesat.

Sebagaimana Allah berfirman:

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ… (109)

“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 109)

Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ta’ala berkata:

“Maka orang-orang Yahudi dicela karena mereka hasad kepada orang-orang mukmin yang telah mendapatkan petunjuk dan ilmu. Terkadang ada sebagian orang yang disebut dirinya sebagai Ahli Ilmu atau selainya yang memiliki sifat hasad terhadap orang-orang yang Allah beri petunjuk dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, maka ini termasuk akhlak yang tercela secara mutlak, dan ini termasuk diantara sifat orang-orang yang Allah murkai yaitu Yahudi.”2

Kemudian Syaikhul Islam rahimahullahu ta’ala menyebutkan sejumlah contoh dari amalan Yahudi dan Nasrani, yang terkadang sebagian kaum muslimin mengikutinya, dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ

“Sungguh, engkau akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga kalaulah mereka masuk liang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka.”3

Bersambung in syaa Allah…

Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Ainun Wahidin, Lc. dari kitab:
‘Asyru Qawaa’id Fil Istiqaamah, Syaikh ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr


[1] Al-Fatihah 6-7

[2] Iqtidhaus Shirathil Mustaqim (1/83)

[3] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (7320) dan Muslim (2669) dari hadits Abi Sa’idil Khudri radhiyallohu ‘anhu.