Penulis: Ustadz Luthfi Abdurrouf, Lc. hafizhahullah
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ ﷺ
“Dari Anas ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya tentang ibadah beliau.”
فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأنَّهُمْ تَقَالُّوهَا، فَقَالُوا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم؟! قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ،
Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah beliau), mereka menganggap ibadah beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam! Beliau telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.
قَالَ أحَدُهُمْ: أمَّا أَنَا فإنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أصُومُ الدَّهْرَ ولَا أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أتَزَوَّجُ أَبَدًا،
Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya”. Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka”. Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya”.
فَجَاءَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم إِلَيْهِمْ، فَقالَ: أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلتُمْ كَذَا وَكَذَا؟! أَمَا واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.
Kemudian, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allah! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling takwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”.
Takhrij Hadits:
Hadits ini berstatus shahih. Diri-wayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 5063); Imam Muslim (no. 1401); Imam Ahmad (3/241, 259, 285); Imam An-Nasai (6/60); Al-Baihaqi (7/77); Ibnu Hibban (no.14); Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 96).
Penjelasan Hadits:
Lihat, bagaimana perbuatan yang dilakukan oleh tiga orang Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits tersebut, mereka sangat bersemangat untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sehingga membuat mereka datang kepada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mempertanyakan tentang ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena ibadah yang beliau kerjakan di rumah, tidak dapat diketahui melainkan hanya oleh orang yang satu rumah dengan Nabi saja.
Setelah diberitahukan kepada mereka tentang ibadah beliau, ternyata mereka seakan menganggap bahwasanya ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam begitu ringan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak terus menerus dengan suatu ibadah dalam waktu yang bersamaan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berpuasa siang dan malam, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka di malam harinya.
Maka dengan modal semangatnya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan dengan modal niatnya yang baik tersebut, mereka mengatakan dengan berbagai macam. Di antaranya:
- Salah satu mereka ingin shalat semalam suntuk dan tak pernah tidur di setiap malamnya.
- Akan terus berpuasa siang dan malam tak pernah berbuka pada malam harinya.
- Tidak ingin menikah, agar dapat terus beribadah.
Namun, ternyata Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mengingkari tekad ibadah tiga orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyetujui perbuatan mereka. Karena tentunya ini bertentangan dengan kemudahan Islam, bahkan bertenta-ngan dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan untuk kalian kesulitan”. (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Tidak akan bisa kita beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala hanya bermodalkan semangat dan anggapan baik terhadap ibadah tersebut. Karena tolak ukur agar ibadah kita diterima Allah Subhanahu wa ta’ala adalah:
1. Ikhlas semata-mata karena Allah Subhanahu wa ta’ala
2. Ittiba’ (mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam)
Sedangkan sebatas prasangka atau anggapan baik kita terhadap sebuah amalan bukan menjadi tolak ukur ibadah tersebut bisa dilakukan. Karena kita harus mencontoh apa yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita bagaimana berpuasa. Yang dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, maka ikuti dan jangan berinovasi. Jangan mengatakan “Kan akan lebih baik dan lebih besar pahalanya jika diteruskan puasanya sampai malam”.
Membaca surat Yasin itu baik, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengajarkan untuk Yasinan. Maka jangan sebatas menganggap amalan itu baik lalu dilakukan, namun ikuti sebagaimana yang Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada contohnya dari Nabi, maka amalannya tertolak”. 1
Perhatikan perkataan Imam Darul hijrah (al-Imam Malik rahimahullah):
مَنِ ابْتَدَعَ فِي الإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ! لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا
“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah (ang-gapan sebatas amalan yang baik), maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah, karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Hari telah Ku sempurnakan bagi kalian agama kalian”. Jadi, apa saja yang pada hari ini bukan sebagai agama, maka tidaklah hari ini dia menjadi agama”. 2
Perhatikan perkataan Shahabat Abdullah bin Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Semua kebid’ahan itu menyesatkan, walau itu (amalan bid’ah) dianggap baik oleh manusia”. 3
Tak cukup bermodalkan anggapan baik dalam ibadah, namun harus se-suai dengan sunnah. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata:
اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا؛ فَقَدْ كُفِيْتُمْ
“Ikutilah ajaran Nabi jangan berbuat bid’ah, sesungguhnya ittiba’ sudah cukup bagi kalian.” 4
Kemudian, tak cukup pula sebatas semangat di dalam beribadah. Harus sesuai dengan sunnah. Ingat, sema-ngat bukan tolak ukur, yang menjadi tolak ukur adalah kesesuaiannya de-ngan syariat. Sesuai dengan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut, mereka bersemangat untuk beribadah, namun ternyata menyelisihi sunnah. Begitu pula apa yang dilakukan sahabat Abu Bakrah radhiyallahu’anhu:
أَنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ
“Bahwa aku mendapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan ruku’.
قَالَ: فَرَكَعْتُ دُونَ الصَّفِّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ
Lalu ia berkata, “Lalu akupun ruku’ sebelum sampai masuk ke shaf, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menambah semangatmu dan jangan mengulanginya’.” 5
Lihat perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menambah semangatmu dan jangan mengulangi-nya”. Menunjukkan tak bisa kita bermodalkan semangat saja dalam beribadah.
Dalam akhir hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: “Barangsiapa yang tidak menyukai jalanku (sunnahku) dan melakukan ibadah yang lebih keras, maka dia bukan termasuk golonganku”.
Di dalam hadits ini jelas sekali, bahwa tiga orang tersebut ingin melaksanakan ibadah yang pada asalnya disyari’atkan, akan tetapi caranya tidak pernah dilakukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena ibadah tak hanya bermodalkan semangat dan prasangka/anggapan baik.
Faedah Hadits:
- Tidak berpegang teguh kepada petunjuk Rasulullah dalam beribadah mengakibatkan timbulnya sikap melampaui batas dan membuat dirinya terperangkap dalam lembah kesesatan.
- Syarat diterimanya amalan, yaitu ikhlas semata-mata karena Allah Subhanahu wa ta’ala dan ittiba’, yakni mengikuti contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan sebatas semangat dan anggapan baik.
- Barang siapa tidak suka dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia tidak termasuk golongan yang mengikuti sunnah.
Referensi:
- HR Muslim 1718 ↩︎
- Diriwayatkan Addarimi 141, Lihat kitab Al ‘Itisham, 1/49. ↩︎
- Diriwayatkan Ibnu Battah di Al-Ibanah Al-Kubra 205, dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-shahihah 6/234 ↩︎
- Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman 205, dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam kitab Ishlah Al-Masajid 12. ↩︎
- HR. Bukhari ↩︎
Dikutip dari:


