Apa yang Harus Dipersiapkan Sebelum Kematian Menjemput?

Penulis: Ustadz  M. Abdulrohman, Lc. hafizhahullah

  Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلمَوتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُوْرَكُمْ يَوْمَ ٱلقِيَٰمَةِۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُوْرِ١٨٥

“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sem-purna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya”. (QS. Ali ‘Imrān [3]: 185)

Sesungguhnya setiap manusia telah ditentukan ajalnya masing-masing. Dan kematian pasti akan menghampiri mereka tanpa terkecuali, orang tua maupun anak-anak, orang kaya maupun orang miskin, orang kuat maupun orang lemah. Semua akan menghadapinya, dan tidak ada satupun yang mampu menghindarinya.

Kematian merupakan awal perjalanan seorang hamba dari kehidupan dunia yang fana menuju kehidupan akhirat yang abadi. Setiap hamba akan menghadap kepada Allah Subhanahu wa ta’ala untuk mempertanggungjawabkan atas apa yang telah diperbuatnya di dunia ini dan menerima balasan yang setimpal dan sesuai untuknya di akhirat kelak, sebagaimana yang telah ditunjukkan pada ayat di atas.

Lalu apa yang harus dipersiapkan olehnya untuk menghadapi kematian tersebut? Dan apakah ia termasuk orang yang meraih keberuntungan di akhirat kelak, atau sebaliknya ia termasuk orang-orang yang merugi? Simak pembahasannya berikut ini.

Tafsir ayat di atas:

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nāshir As-Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat di atas:

“Ayat yang mulia ini mengandung penjelasan tentang zuhud dari dunia karena bersifat fana dan tidak kekal, dan bahwa dunia itu adalah perhiasan yang menipu, membuat fitnah dengan keindahannya, menipu dengan kecantikan dan kemolekannya. 

Kemudian dunia itu akan berpindah dan ditinggalkan menuju negeri yang abadi, di mana jiwa-jiwa manusia akan diberikan balasan amal yang telah diperbuatnya di dunia ini berupa kebaikan maupun kejelekan.

فَمَنْ زُحْزِحَ

“Maka barang siapa dijauhkan”.

Maksudnya: Dikeluarkan,

 عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ

“Dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh dia telah beruntung”. 

Maksudnya: Dia memperoleh kemenangan yang besar dengan selamat dari siksa yang pedih dan sampai kepada Surga yang penuh nikmat, yang berisikan segala keindahan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas pada benak dan hati seseorang.

Pemahaman terbalik ayat ini adalah, bahwa barang siapa yang tidak dikeluarkan dari Neraka dan tidak masuk ke dalam Surga, maka dia tidaklah beruntung, bahkan dia celaka dengan keseng-saraan yang abadi dan disiksa dengan hukuman yang kekal.

Ayat ini mengandung isyarat akan adanya kenikmatan alam barzakh mapun siksaannya, dan bahwa orang-orang yang beramal akan diberikan balasan di dalamnya dengan beberapa balasan dari amal yang telah mereka lakukan, dan disuguhkan kepada mereka beberapa contoh dari orang-orang yang mendahuluinya. Ini dapat dipahami dari firman-Nya,

وَإِنَّمَا تُوَفَّونَ أُجُورَكُم يَومَ ٱلقِيَٰمَةِۖ

Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu”.

Maksudnya: Penyempurnaan balasan perbuatan secara total hanya terjadi pada hari Kiamat, sedangkan selain itu maka terjadi di alam barzakh, bahkan bisa jadi dapat terjadi sebelum itu (di dunia), seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلْعَذَابِ ٱلْأَدْنَىٰ دُوْنَ ٱلْعَذَابِ ٱلْأَكْبَرِ٢١

“Dan sungguh Kami timpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di du-nia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat)”. (QS. As-Sajdah [32]: 21)”.1

Bekal meraih kesuksesan di akhirat:

Orang yang cerdas adalah orang yang selalu ingat kepada kematian dan pa-ling baik mempersiapkan diri untuk akhirat, sebagaimana hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, ketika ada seorang laki-laki dari kaum Anshar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

أَيُّ الـمُؤْمِنِيْنَ أَكْيَسُ؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Siapa orang Mukmin yang paling cerdas? Beliau (Nabi) menjawab: Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk menghadapi apa yang terjadi setelahnya. Mereka itulah orang yang paling cerdas”. 2

Dan sebaik-baik perbekalan untuk meraih kesuksesan di akhirat adalah takwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, yaitu dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰۖ

Dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. (QS. Al-Baqarah [2]: 197)

Sedangkan balasan terbaik yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada orang-orang yang bertakwa adalah Surga-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

تِلكَ ٱلدَّارُ ٱلآخِرَةُ نَجعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي ٱلأَرضِ وَلَا فَسَادًاۚ وَٱلعَٰقِبَةُ لِلمُتَّقِينَ

Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Qashash [28]: 83)

Hakikat kehidupan dunia:

Dunia itu fana dan sementara, itulah hakikat dunia. Allah Subhanahu wa ta’ala sering mengingatkan tentang hal ini di banyak ayat dalam Al-Qur’ān, di antaranya firman Allah,

 ٱعْلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَٰمًاۖ وَفِي ٱلْأٓخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلغُرُوْرِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS. Al-Hadid [57]: 20)

Pada ayat di atas Allah mengingatkan, bahwa hidup di dunia tidaklah lama dan bahwasannya dunia itu akan hancur. Orang yang berakal dan berfikir tentang hakikat kehidupannya di dunia, niscaya akan bersiapsiap untuk menuju kematiannya tersebut. Tetapi orang yang tidak menggunakan akal pikirannya, maka niscaya ia akan tertipu dengan kesenangan dan gemerlapnya dunia, serta disibukkan untuk mengejar dunia. Hingga ketika ajal menjemputnya, ia tidak siap, dan yang ada hanya penyesalan. Karena kematian itu tidak bisa dimundurkan.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala selalu memberikan keistiqamahan dan keteguhan kepada hamba-Nya untuk senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya hingga akhir hayat, serta memberikan kepadanya balasan terbaik di sisi-Nya. 

Āmiin ya Rabbal ‘ālamiin

Referensi:

  1. Tafsir As-Sa’di, hal. 142, cet. Dār Ibnu Hazm, thn. 1441 H ↩︎
  2.  HR. Ibnu Mājah, no. 4249, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albāni dalam Silsilatul Ahādits As-Shahihah, no. 1384 ↩︎

Dikutip dari:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *