Mengapa Menuntut Ilmu Agama Itu Wajib dalam Islam?

Penulis: Ustadz Beni Sarbeni, Lc., M.Pd hafizhahullah

Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, hal yang paling mulia dalam mengisi waktu-waktu yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita tentunya adalah ibadah, yang di antaranya adalah thalabul ilmi (menuntut ilmu agama).

Karena menuntut ilmu adalah bagian daripada ibadah, bahkan dia merupakan dasar daripada ibadah. Di mana ibadah tidak mungkin dilakukan oleh seorang hamba kecuali dibangun di atas ilmu. Karena itulah Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam kitab Shahihnya mencantumkan satu bab yang berjudul, 

الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Mengilmui sebelum kita berucap dan sebelum kita beramal”. 1

Karena berapa banyak di antara kaum Muslimin yang dia beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala hanya sebatas ikut-ikutan, mereka mengikuti kebanyakan orang yang tidak dibangun di atas ilmu disebabkan kebodohan mereka, dan kebodohan ini disebabkan karena:

  1. Tidak menuntut ilmu
  2. Menuntut ilmu namun keliru.

Mereka menuntut ilmu di majelis-majelis yang yang hanya mengajarkan taqlid (sebatas ikut-ikutan). Dalam majelis tersebut tidak dijelaskan akan firman Allah Subhanahu wa ta’ala, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maupun perkataan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum

Ini Tentunya merupakan musibah yang menimpa kaum Muslimin, di mana kaum Muslimin jauh dari ilmu yang sesungguhnya, sementara baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim”. 2

Ilmu yang dimaksud adalah sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Adz-Dzahabi rahimahullah:

الْعِلْمُ قَالَ الله قَالَ الرَّسُوْلُ قَالَ الصَّحَابَةُ

“Ilmu itu adalah firman Allah, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan perkataan para Shahabat”. 

Inilah hakikat ilmu yang sebenarnya, sehingga ketika kita beribadah di atas ilmu, kita yakin betul-betul ada di atas cahaya Allah Subhanahu wa ta’ala, karena itulah makna daripada taqwa: 

اَنْ تَعْمَلْ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِّنَ اللهِ

“Kamu betul-betul taat kepada Allah di atas cahaya Allah”.

Maksud di atas cahaya adalah di atas ilmu, bukan di atas kebodohan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Talq ibnu Hubbaib Subhanahu wa ta’ala, “Kita taat kepada Allah di atas cahaya Allah (di atas ilmu), dan kita meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya Allah”. 

Kita beribadah kepada Allah dan meninggalkan larangan-Nya di atas ilmu, bukan di atas kebodohan apalagi sebatas ikut-ikutan kebanyakan orang. 

Karena ikut-ikutan kebanyakan orang adalah manhajnya kaum Jahiliyyah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an: 

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاءَنَاۗ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).”” (Al Baqarah [2]: 170)

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala selalu menjaga kita semua dan memberikan Taufik kepada kita untuk bersemangat menuntut ilmu dalam keadaan apapun. 

Referensi:

  1. Bab “Ilmu sebelum bicara dan amal”: Kitab an-Nukat ‘ala Shahiih Bukhari, karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani hal 106 jilid 2. Cetakan Maktabah Islamiyyah Mesir. ↩︎
  2. HR. Ibnu Majah (no. 224) ↩︎

Dikutip dari:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *