Menghidupkan Bulan Sya’ban: Amalan Sunnah dan Kesalahan yang Harus Dihindari

Penulis: Ustadz Luthfi Abdurrouf, Lc. hafizhahullah

عَنْ ‌أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ  قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ! قَالَ : ذٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu, ia mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Bulan itu, banyak manusia yang lalai, yaitu (bulan) antara Rajab dan Ramadan, bulan diangkatnya amal-amal kepada (Allah Subhanahu wa ta’ala) Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.’”

Takhrij Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasai dalam kitab Sunannya (4/201) no. 2357. Dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (4/522) no. 1898.

Penjelasan Hadits:

Hadits di atas menunjukkan akan keutamaan dari bulan Sya’ban, yang ternyata hal ini benar-benar sudah banyak dilalaikan oleh kebanyakan kaum Muslimin. 

Di antara keutamaan bulan Sya’ban yang ditunjukkan oleh hadits adalah “Bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: 

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Bulan Sya’ban bulan diangkatnya amal-amal kepada (Allah Subhanahu wa ta’ala) Rabb semesta alam.”

Dengan inilah, kita mengagungkan keutamaan bulan tersebut dengan cara meningkatkan dan memaksimalkan amal ibadah kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Di antara ibadah-ibadah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan adalah:

1. Memperbanyak Puasa Sunnah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak puasa pada bulan ini tidak seperti beliau berpuasa pada bulan-bulan yang lain. Sebagaimana dikatakan oleh Sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu pada hadits di atas, beliau mengatakan: “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban”.

Hal ini diperkuat pula berdasarkan riwayat dari Ibunda Aisyah radhiyallahu’anha, ia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ: لَا يُفْطِرُ؛ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ: لَا يَصُوْمُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berpuasa hingga kami mengatakan: ‘Beliau tidak pernah berbuka’; dan pernah beliau senantiasa berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berpuasa. 

Lalu, Ibunda Aisyah radhiyallahu’anha melanjutkan:

وَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِـيْ شَعْبَانَ.

“Aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa sebulan, kecuali Ramadan. Dan aku tidak melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan-bulan yang lain, melainkan pada bulan Sya’ban”.[1]

Begitu pula ada riwayat dari istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Ummu Salamah radhiyallahu’anha. Beliau radhiyallahu’anha mengatakan:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ  يَصُوْمُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ.

“Aku tidak pernah mendapatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dua bulan berturut-turut, kecuali bulan Sya’ban dan Ramadan.”[2]

Juga dari Sahabat Abdullah bin Abi Qays radhiyallahu’anhu, bahwasanya dia mendengar Ibunda Aisyah radhiyallahu’anha berkata:

كَانَ أَحَبُّ الشُّهُوْرِ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ  أَنْ يَصُوْمَهُ شَعْبَانَ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانِ .

“Bulan yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berpuasa adalah bulan Sya’ban. Karena itulah, beliau menyambungkan puasa pada bulan itu dengan puasa bulan Ramadan.[3]

Maka, perbanyaklah untuk berpuasa sunnah pada bulan Sya’ban ini. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan kesalahan yang masih sering terjadi di kalangan kaum Muslimin tentang puasa ini. Di antaranya:

A. Tidak boleh mengkhususkan puasa hanya di pertengahan bulan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) saja.

Ini merupakan sesuatu yang bid’ah. Adapun, hadits yang berbunyi:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا.

“Apabila malam pertengahan bulan Sya’ban, maka hidupkanlah malamnya dan berpuasalah siang harinya.”

Hadits tersebut adalah palsu (maudhu’), sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Akan tetapi, jika kita ingin berpuasa pada hari itu karena keumuman hadits tentang sunnah nya berpuasa di bulan Sya’ban, atau karena dia termasuk puasa di hari-hari biidh (ayyaamul biidh), maka hal tersebut tidak mengapa. Yang dilarang adalah pengkhususannya saja.

Adapun berkaitan dengan keutamaan di malam Nishfu Sya’ban, maka itu benar adanya, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، اطَّلَعَ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Apabila sampai malam Nishfu Sya’ban, maka Allah melihat kepada para hamba-Nya, lalu Allah mengampuni orang-orang yang beriman”.[4]

Namun, tidak ada ibadah khusus atau ritual khusus pada malam tersebut, apalagi dilakukan secara berjama’ah. Yang disunnahkan adalah menghidupkan malam tersebut dengan ibadah yang umum. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَفِيْهَا فَضْلٌ، وَكَانَ فِي السَّلَفِ مَنْ يُصَلِّيْ فِيْهَا، لَكِنَّ الِاجْتِمَاعَ فِيهَا لِإِحْيَائِهَا فِيْ الْمَسَاجِدِ بِدْعَةٌ وَكَذٰلِكَ الصَّلَاةُ الْأَلْفِيَّةُ.

“Adapun malam pertengahan di bulan Sya’ban, di dalamnya terdapat keutamaan. Dahulu, di antara kaum Salaf ada yang shalat di malam tersebut. Akan tetapi, berkumpul-kumpul di malam tersebut untuk menghidupkan masjid-masjid adalah bid’ah, begitu pula dengan Shalat Alfiyyah.”[5]

B. Tidak boleh memulai puasa dari pertengahan bulan sya’ban.

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُوْمُوْا.

“Jika memasuki pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.”[6]

Larangan dalam hadits ini berkaitan dengan orang yang baru mulai puasa dari pertengahan Sya’ban atau bagi orang yang kalau dia puasa akan lemah. Adapun, orang yang sudah terbiasa melakukan puasa sunnah dan dia kuat ketika melaksanakan puasa sunnah tersebut, maka dianjurkan bagi dia untuk berpuasa dari awal bulan Sya’ban.[7]

C. Tidak boleh mengkhususkan berpuasa di akhir Sya’ban, yaitu satu atau dua hari sebelum Ramadan.

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ رَجُلٌ كَانَ يَصُوْمُ صَوْمًا فَلْيَصُمْ ذٰلِكَ الْيَوْمَ.

“Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mendahului puasa Ramadan dengan melakukan puasa sehari atau dua hari (sebelumnya), kecuali seseorang yang terbiasa berpuasa (dan waktu kebiasaan puasanya itu jatuh) pada hari itu, maka silahkan dia berpuasa pada hari itu.”[8]

2. Kesempatan untuk mengqada hutang puasa Ramadan sebelumnya.[9]

3. Memperbanyak membaca Al-Quran.

Salamah bin Kuhail rahimahullah berkata:

كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ

“Dulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para qurra’ (pembaca Al-Quran).”

Begitu pula yang dilakukan oleh ‘Amr bin Qais rahimahullah. Apabila beliau memasuki bulan Sya’ban, beliau me-nutup tokonya dan mengosongkan (meluangkan) dirinya untuk membaca Al-Quran.[10]

4. Menjauhi kesyirikan dan permusuhan.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

يَطَّلِعُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِـجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ.

“Allah Subhanahu wa ta’ala melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”[11]

Walau memang hal tersebut harus kita jauhi dan hindari setiap waktu, tidak hanya pada bulan Sya’ban saja. Namun, hal itu lebih ditekankan kembali, khususnya di bulan Sya’ban.

5. Memperbanyak amalan-amalan saleh, khususnya pada waktu yang sering manusia lalaikan.

Amalan saleh banyak sekali, di antaranya:

  • Shalat tahajjud/witir.
  • Shalat dhuha.
  • Memperbanyak dzikir.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Meringankan beban orang lain.
  • (Dan lain sebagainya).

Karena, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas bersabda:

…وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِـيْ وَأَنَا صَائِمٌ.

“…Di bulan itu, diangkat amal-amal (manusia) kepada (Allah) Rabb semesta alam. Maka, aku senang apabila saat amalku diangkat aku sedang berpuasa.”

Terlebih lagi, dalam waktu yang sering manusia lalaikan. Dalam ha-dits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ذٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ…

“Pada bulan itu, banyak manusia yang lalai, yaitu (bulan) antara Rajab dan Ramadan…”

Penutup

Bulan Sya’ban merupakan salah satu kesempatan emas bagi kaum Muslimin untuk menuju gerbang bulan Ramadan, maka seorang Muslim harus berlomba dalam beramal shaleh dengan berbagai jenisnya, khususnya amalan-amalan yang telah kami sebutkan di atas. Jika kita perhatikan amalan-amalan di atas, kita dapati bahwa itu semua sebagai latihan kita untuk menyongsong bulan Ramadan.

Seyogianya, kita mengingatkan kepada semua sanak saudara dan kaum Muslimin untuk tidak lalai dengan bulan Sya’ban.

Semoga, Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk mengisi bulan Sya’ban dengan bijak dan tepat, yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Amin.

Referensi:

  • [1]HR. Al-Bukhari dan Muslim.
  • [2]HR. An-Nasai (no. 2175) dan At-Tirmidzi (no. 736). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai.
  • [3]HR. Ahmad (6/188), Abu Dawud (no. 2431), An-Nasai (4/199).
  • [4]HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (5/359, no. 3551)
  • [5]Kitab Al-Fatawa Al-Kubra (5/344)
  • [6]HR. Abu Dawud (no. 2337) dan At-Tirmidzi (no. 738). Imam At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih.
  • [7]Kitab Fathu Dzil Jalaalil wal Ikraam bi Syarhi Buluughil Maraam (7/449).
  • [8]HR. al-Bukhari dan Muslim
  • [9]Pembahasan lengkapnya silahkan merujuk para Majalah edisi 1 pada Rubrik Hadits(Majalah Belajar Islam Edisi 01 – Sya’ban 1445H: Ramadhan Bersemi Kembali )
  • [10]Kitab Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hal. 138
  • [11]Syaikh al-Albani –Rahimahullah– berkata, “Hadits shahih, diriwayatkan dari beberapa orang Sahabat dengan beragam jalan yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya. Di antaranya, Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah al-Khusyani, ‘Abdullah bin ‘Amr, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakr ash-Shiddiq, ‘Auf bin Malik, juga ‘Aisyah –Radhiyallahu ‘anha–”. Lihat kitab Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (3/135-139, no. 1144).

Dikutip dari:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *