Keberagaman Sembahan Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah: Memuja Orang Saleh, Arti Wasilah dan Tawassul

KEBERAGAMAN SEMBAHAN ORANG-ORANG MUSYRIK JAHILIYAH: MEMUJA ORANG SALEH, ARTI WASILAH DAN TAWASSUL

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

d. Dalil musyriknya memuja orang saleh

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra [17]: 57)

Sebab turun ayat di atas:

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata mengenai ayat ini:

“Dahulu, terdapat sekelompok manusia yang menyembah sekelompok jin. Ternyata jin-jin (yang disembah) tersebut masuk Islam, sedangkan mereka (para penyembah jin tadi) masih berpegang kepada agama mereka.” (shahih. HR. Al-Bukhari, no. 4714, 4715)

Yakni sekelompok manusia yang menyembah para jin masih tetap beribadah kepada jin-jin tersebut. Sedangkan jin-jin yang disembah itu tidak meridhai penyembahan atas diri mereka. Karena mereka sudah masuk Islam dan mereka mencari jalan (untuk dekat) kepada Rabb mereka.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata mengenai ayat tersebut di atas:

“Dahulu, orang-orang musyrik mengatakan: ‘Kami beribadah kepada para malaikat, (Nabi Isa) al-Masih, dan kepada Uzair.’ Mereka itulah yang diseru (diibadahi) oleh orang-orang musyrik tersebut.” (tafsir ath-Thabari (IX/129)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Pendapat-pendapat ini semuanya benar. Karena ayat ini mencakup segala yang diibadahi, sedangkan dia (yang diibadahi itu) sendiri justru beribadah kepada Allah juga, baik itu dari golongan malaikat, jin, maupun manusia”.

Pembicaraan dalam ayat ini mengarah kepada setiap orang yang beribadah kepada sembahan selain Allah. Sedangkan sembahan tersebut justru mencari jalan untuk dekat kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya, dan takut akan adzab-Nya.

Ayat tersebut di atas mencakup setiap orang yang berdoa kepada orang yang sudah meninggal dunia, atau orang yang tidak hadir baik dari golongan Nabi maupun orang-orang shalih, baik berdoa dengan menggunakan lafazh istighatsah maupun dengan lafazh yang lainnya.

Sebagaimana ayat di atas juga mencakup orang-orang yang berdoa kepada malaikat maupun jin.

Allah telah melarang kita berdoa kepada mereka (sembahan) semua. Dan Allah pun telah menjelaskan bahwa mereka tidak bisa menghilangkan bahaya dan tidak juga bisa meringankannya.

Oleh karena itu, setiap orang yang berdoa kepada orang yang sudah mati atau orang yang tidak hadir dari kalangan para Nabi dan orang-orang shalih ataupun orang-orang yang berdoa kepada para malaikat, sungguh orang tersebut telah berdoa kepada sesuatu yang tidak bisa menolongnya, yang ia sama sekali tidak memiliki (kekuasaan) untuk menghilangkan mara bahaya, dan juga tidak bisa memindahkannya (bahaya akibat kekuasaan itu). (Dinukil-secara ringkas-dari Fathul Majid (1/207-208) oleh ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam Syarah Kitab Tauhid)

Asy-Syaikh as-Sa’di berkata, dalam tafsinya, menjelaskan maksud ayat di atas:

Kemudian Allah mengabarkan bahwa mereka yang diibadahi selain Allah itu tidak perduli terhadap para penyembahnya, karena mereka sendiri pun disibukan dengan kebutuhan mereka kepada Allah, mereka melakukan ketaatan kepada Allah agar mendapatkan ridha-Nya (bertawassul), oleh karena itu Allah berfirman:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ

“Orang-orang yang mereka seru itu (dari kalangan para Nabi, orang-orang saleh dan para malaikat)”


يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

“Mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).”

Mereka berlomba untuk dekat kepada Allah, mengerahkan segenap kemampuan mereka dalam beramal saleh yang dapat mendekatkan kepada Allah, mendekatkan kepada rahmat-Nya, mereka takut kepada azab Allah, sehingga menjauhi segala hal yang dapat menyeret kepada azab itu.

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.” 


Azab Allah adalah sesuatu yang harus ditakuti, serta segala rupa sebab yang akan menyeret kepadanya patut diwaspadai. Tiga perkara ini, yaitu takut, berharap dan cinta yang dengannya Allah menyifati orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya, adalah pokok semua kebaikan, barang siapa memenuhi tiga unsur ini maka sempurnalah urusannya, dan barangsiapa yang tiga pokok ini lenyap dari hatinya maka hilanglah kebaikan darinya dan akan tenggelam dalam keburukan.

Tanda cinta kepada Allah adalah sebagaiamana yang Dia sebutkan, yaitu bersungguh-sungguh dalam beramal yang akan mendekatkan kepada Allah, serta semangat dalam mencari kedekatan kepada-Nya dengan amal yang Ikhlash, murni hanya untuk Allah, serta melaksanakannya semaksimal yang dapat dilakukan. Maka barang siapa yang mengaku cinta kepada Allah namun tidak melakukan hal demikian maka dia adalah pendusta.

Arti wasilah

Wasilah menurut istilah syari’, maknanya adalah keta’atan dan segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, dari beragam amal kebaikan.

Adapun menurut bahasa, Wasilah adalah sesuatu yang dapat menyampaikan kepada maksud.

Maka segala sesuatu yang dapat menyampaikan kepada ridha Allah dan surga-Nya, disebut Wasilah kepada Allah. Inilah wasilah yang disyari’atkan, sebagaimana yang Allah firmankan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 35)

Salah kaprah dalam memaknai wasilah dan tawassul

Adapun orang-orang yang menyimpang dan rusak akalnya, mereka berkata: “Wasilah adalah menjadikan para wali, orang saleh yang sudah wafat sebagai perantara antara engkau dan Allah agar mereka mendekatkan engkau kepada-Nya.”

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ “(QS. Az-Zumar [39]: 3)


Makna wasilah menurut mereka yang akalnya rusak itu adalah
menjadikan makhluk sebagai perantara antara engkau dan Allah, perantara itu yang akan mengenalkan engkau kepada Allah, menyampaikan dan mengabarkan kebutuhanmu kepada-Nya, seolah-olah Allah tidak tahu kebutuhanmu atau Allah itu pelit, tidak akan memberi sampai engkau memelas kepada-Nya melalui perantara, mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan.

Lalu mereka menyebar syubhat (kerancuan) kepada masyarat, seraya membawakan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan.” (QS. Al-Isra [17]: 57)


Menjadikan makhluk sebagai perantara kepada Allah adalah perkara yang disyari’atkan, karena Allah memuji para pelakunya, juga Allah berfirman dalam ayat yang lain:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 35)

Orang-orang gagal paham itu berkata:

“Allah memerintahkan agar kita mencari wasilah kepada-Nya, sedangkan wasilah artinya perantara.” Beginilah mereka mengubah makna dari makna seharusnya. Padahal wasilah yang disyari’atkan, yang disebutkan dalam Al-Quran adalah: keta’atan yang mendekatkan diri kepada Allah, bertawassul dengan nama-nama serta sifat-sifat-Nya.


Adapun bertawassul kepada Allah dengan makhluk maka ini adalah wasilah yang terlarang, wasilah yang mengandung kemusyrikan, justru inilah kemusyrikan yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu.


وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ ” (QS. Az-Zumar [39]: 3)


وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?’ Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan itu.” (QS. Yunus [10]: 18)


Inilah kemusyrikan orang-orang dahulu dan sekarang, serupa sekali, walaupun mereka menamakannya wasilah, namun hakikatnya adalah kesyirikan. Karena itu bukanlah wasilah yang disyari’atkan oleh Allah, karena Allah tidak pernah menjadikan kemusyrikan sebagai wasilah kepadanya, justru malah menjauhkan dari Allah.


إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 72)

Bersambung in syaa Allah…

Ditulis oleh: Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. (Abu Ayman)
Referensi:

  • Al-Qawa’idul Arba’, Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab
  • Syarh Al-Qawa’idul Arba’, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan
  • Syarh Al-Qawa’idul Arba’, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Syaikh
  • Taisir Al Kariim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, Syaikh Abdurrahman Bin Nasir As-Sa’dy
  • Syarah Kitab Tauhid, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas