Akhlak Yang Mulia Adalah Kunci Ilmu

Penulis: Ustadz Beni Sarbeni, Lc., M.Pd hafizhahullah

Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, saya akan memberikan faedah yang semoga ini bermanfaat bagi kita semua. Sebagaimana dikatakan oleh para Ulama,

مِفْتَاحُ الْعِلْمِ الأَدَب

“Kunci ilmu itu adab (etika yang baik)”. 

Atau sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitabnya Fathul Baari, bahwa adab itu adalah 

إِسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا

“Menggunakan atau melakukan segala sesuatu yang terpuji, baik secara ucapan maupun secara perbuatan”. 

Adab ini sangat penting dalam menuntut ilmu, bahkan sebagaimana yang dikatakan oleh Yusuf ibnu Hasan ,

بِالْأَدَبِ تَفْهَمُ الْعِلْمَ

“Dengan adab, kamu akan memahami ilmu dengan baik”. 

“Memahami” di sini bukan sebatas mampu mencerna yang disampaikan, akan tetapi maksudnya adalah mencerna apa yang disampaikan dan mampu mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Jadi, adab itu membantu kita memahami pelajaran dengan baik, sekaligus sangat membantu kita untuk mampu mengamalkan apa yang sudah kita pahami. 

Berbicara tentang adab (etika dalam menuntut ilmu), bukan sebatas adab kepada seorang guru, bahkan yang lebih penting dari itu adalah adab terhadap ilmu itu sendiri, yaitu kita menghargai ilmu itu sendiri. 

Maka keberhasilan seseorang dalam Thalabul Ilmi itu berbanding lurus dengan bagaimana dia menghargai ilmu itu sendiri. 

Kalau seseorang betul-betul ta’zhim (menghargai ilmu itu), dia akan belajar dengan baik, sehingga dia betul-betul memanage waktu dengan baik, kemudian memuraja’ah pelajaran dengan baik sebagai realisasi dari ta’zhimnya terhadap ilmu. Artinya, dia beradab terhadap ilmu. 

Akan tetapi kalau dia belajarnya ngasal, seingatnya, dia tidak punya adab terhadap ilmu yang dia pelajari.

Padahal ini adalah ilmu agama. Ilmu yang dengan sebabnya ia mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil, ilmu yang dengan sebabnya dia mengetahui mana tauhid mana syirik, ilmu yang dengan sebabnya dia tahu mana yang sunnah mana yang bid’ah, ilmu yang dengan sebabnya dia tahu mana ta’at mana maksiat. 

Ini ilmu agama, ilmu yang yang dikatakan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu agama, maka Allah akan mudahkan untuknya jalan menuju Surga”.

Dengan sabda Nabi tersebut, orang yang akalnya sehat, orang yang berpi-kirnya baik tentu dia akan memberikan ta’zhim (penghargaan) yang begitu besar terhadap ilmu agama.

Ta’zhim kita terhadap ilmu agama merupakan ta’zhim kita terhadap Allah. Karena ilmu agama itu di antara tujuan-nya adalah bagaimana kita beribadah kepada Allah, bagaimana kita memulia-kan Allah, bagaimana kita memuliakan Nabi H, bagaimana kita memu-liakan agama ini, itulah ilmu agama. 

Sebagaimana yang dipelajari dalam kitab Tsalatsatul Ushul, bahwa ilmu agama itu kalau diringkas ada tiga: 

  1. Ma’rifatullah (mengenal Allah)
  2. Ma’rifatun Nabi (mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
  3. Ma’rifatu Dinil Islam (mengenal agama Islam beserta dalil-dalilnya).

Nah ini penting sahabat-sahabat sekalian, keberhasilan kita dalam Thalibul Ilmi (menuntut ilmu) sangat berbanding lurus dengan adab kita, etika kita terhadap ilmu itu sendiri.

Jadi, usahakan kita betul-betul menghargai ilmu ini, sehingga ketika kita menghargai ilmu ini (menta’zhimnya), kita berusaha belajar dengan baik, dengan gigih. 

Bukan karena ingin jadi ustadz, bukan hanya sebatas mengumpulkan wawasan, bukan karena ingin dipuji orang, tapi karena kita ingin masuk surga, karena kita ingin menghilangkan kebodohan dalam diri kita. 

Demikian, mungkin sedikit faedah yang ingin saya sampaikan untuk sahabat-sahabat sekalian, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memudahkan perjalanan kita ini.

Dikutip dari:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *