Iman Kepada Kitab-Kitab yang Allah Turunkan

RUKUN IMAN KETIGA

IMAN KEPADA KITAB-KITAB YANG ALLAH TURUNKAN

Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa [4]: 136)

Makna iman kepada kitab-kitab:

1. Membenarkan tanpa keraguan sedikit pun bahwa semua kitab itu diturunkan dari Allah kepada para Rasul-Nya, kepada para hamba-Nya dengan membawa kebenaran dan petunjuk.

2. Semua Kitab adalah kalamullah (ucapan/firman Allah), Allah mengucapkannya secara hakiki (berbicara dengan huruf dan suara yang didengar, namun tidak serupa dengan suara makhluk) sesuai kehendak-Nya dan dengan cara yang Dia kehendaki, ada yang langsung didengar dari-Nya dari balik hijab tanpa perantara, ada yang Ia perdengarkan kepada malaikat lalu Allah mengutus-Nya untuk menyampaikan kepada Rasul dari kalangan manusia,

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syura [42]: 51)

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa [4]: 164)

3. Beriman kepada semua syari’at yang ada di dalamnya dan wajib hukumnya bagi umat-umat yang diturunkan Ash-Shuhuful Uulaa (lembaran-lembaran terdahulu) kepada mereka untuk taat dan berhukum dengannya.

Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah [5]: 44)1   

Setiap orang yang mendustakannya dan enggan untuk taat kepadanya padahal khitaab (firman) itu ditujukan kepadanya, maka dia kafir.

Allah berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُواْ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَٰبُ ٱلسَّمَآءِ وَلَا يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِي سَمِّ ٱلۡخِيَاطِۚ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُجۡرِمِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS. Al-A’raf [7]: 40)

4. Satu kitab dengan yang lainnya saling membenarkan tidak saling mendustakan.

Allah berfirman:

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya).” (QS. Al-Maidah [5]: 48)

5. Terjadinya penghapusan pada kitab-kitab terdahulu, benar adanya, di mana kitab yang satu menghapus kitab yang lainnya, seperti dihapusnya sebagian syari’at Taurat dengan Injil,

Allah berfirman tentang Nabi ‘Isa ‘alaihissalam:

وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ

“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran [3]: 48)

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِ‍َٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡ‍َٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): ‘Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 49)

وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ۚ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

“Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (QS. Ali Imran [3]: 50)

Al-ishru adalah Al-‘ahdu (perjanjian) yang berat, sebagaimana dalam firman Allah:

قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي

“Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?” (QS. Ali Imran [3]: 81)

Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan datang (sebagai penutup) dengan membawa kemudahan, keluhuran budi dan menghilangkan kesulitan. (lihat, Lisaanul ‘Arab, 87, Ibnu Katsiir (1/324, 2/44)

Dan juga sebagaimana telah banyak dihapusnya syari’at-syari’at Taurat dan Injil oleh Al-Quran.

Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf [7]: 157)

Demikian pula Al-Quran, sebagian Ayat-ayatnya dihapus oleh ayat yang lain.

Allah berfirman:

مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٖ مِّنۡهَآ أَوۡ مِثۡلِهَآۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (QS. Al-Baqarah [2]: 106)

وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ ۙ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مُفْتَرٍ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja’. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 101)

Allah juga berfirman:

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal [8]: 66)

Setelah sebelumnya Dia berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfal [8]: 65)

Naasikh (yang menghapus) dan Mansuukh (yang dihapus) adalah ayat-ayat yang masyhur disebutkan sesuai pembahasan-pembahsannya dalam sebagian kitab-kitab tafsiir dan kitab lainnya.

Tidak akan ada lagi kitab yang lain setelah Al-Quran Al-Kariim, tidak akan ada yang mengubah dan mengganti sedikit pun dari syari’at-syari’at setelah Al-Quran, kitab Al-Quran adalah Muhaimin (yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya) serta menjadi Hakim (yang memutuskan perkara) bagi kitab-kitab itu.

Tidak ada seorang pun yang diperkenankan untuk keluar sedikit pun dari hukum-hukum Al-Quran, dan siapapun dari umat terdahulu yang mendustakan sesuatu dari Al-Quran, maka sesungguhnya dia telah mendustakan kitabnya sendiri, begitu juga siapa saja yang mendustakan apa yang dikabarkan oleh Al-Quran mengenai kitab-kitab terdahulu, maka dia telah mendustakan Al-Quran, dan barangsiapa yang mengikuti selain jalan Al-Quran dan tidak menapaki jejaknya maka dia pasti sesat.

6. Wajib beriman kepada kitab-kitab Allah secara umum bila disebutkan secara umum dan wajib beriman secara spesifik bila disebutkan secara spesifik, Allah telah menyebutkan sebagian nama kitab-kitab-Nya:

a. Taurat , yang diturunkan kepada Nabi Musa,

b. Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa,

c. Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud,

d. Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad,

e. Allah juga menyebutkan Shuhuf (lembaran) Nabi Ibrahim dan Nabi Musa -semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada mereka semuanya-.

Kita tidak diwajibkan untuk beriman kepada rincian-rincian dan kabar-kabar yang terkandung dalam kitab-kitab terdahulu, sebelum Al-Quran, karena sudah terjadi penyelewengan di dalamnya, kecuali apa yang dibuktikan kebenarannya oleh Allah dan Rasul-Nya (dalam Al-Quran dan As-Sunnah) dari rincian dan kabar-kabar itu dan kita tidak membenarkan atau pun mendustakan apa yang didiamkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ta’ala telah mengabarkan secara umum, bahwa Dia telah menurunkan kitab-kitab kepada para Rasul-Nya dalam firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa [4]: 136)

7. Iman kepada kitab harus mengamalkan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya, menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan apa yang diharamkannya, mengambil pelajaran dari perumpamaan-perumpamaannya, mengambil faidah dari kisah-kisahnya, mengamalkan ayat-ayat yang muhkam (tidak multi tafsir) dan tunduk kepada ayat-ayat yang mutasyaabih (multi tafsir), menjaga batasan-batasannya, membacanya di waktu malam dan siang, membelanya, loyal kepadanya dengan penuh ketulusan baik secara lahir maupun batin, menaati perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan apa yang beliau larang. Itu semua diperintahkan oleh Allah di dalam Al-Quran, Dia berfirman:

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

Allah berfirman tentang perintah untuk tunduk dalam ayat-ayat yang Mutasyaabih,

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami’.” (QS. Ali Imran [3]: 7)

Sapan, Pesantren Sabilunnajah Bandung, Sabtu, 28 Rabii’uts Tsaani 1440 H/05 Januari 2018 M

Bersambung insyaa Allah

Diterjemahkan oleh Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. (Abu Ayman) dari kitab:
Mukhtashar Ma’aarijil Qabuul Bisyarhi Sullamil Wushuul Ilaa ‘Ilmil Ushuul Fit-Tauhiid, Hafizh bin Ahmad Al-Hakamiy, diringkas oleh: Abu ‘Aashim, Hisyaam bin Abdul Qaadir Muhammad Al-Uqdah, Maktabah Al-Kautsar, Riyadh, Cetakan ke 11, tahun 1427 H/2006 M.


Footnote

[1] Lihat surat Al-Maidah, dari ayat 44-50