Kaidah-Kaidah Penting Tentang Asma Wa Shifaat

KAIDAH-KAIDAH PENTING TENTANG ASMA WA SIFAT

1. Kewajiban yang berkenaan dengan nash (teks) kitab dan sunnah yang berisi tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah

Kewajiban terhadap nash kitab dan sunnah (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah) adalah membiarkan maksudnya sesuai dengan makna zahirnya, tanpa mengubahnya, karena Allah menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berbicara dengan bahasa Arab, maka sudah seharusnya membiarkan makna firman Allah dan makna sabda Rasul-Nya sesuai dengan makna aslinya dalam bahasa Arab, karena mengubah maksud ayat dan hadits dari makna zahirnya adalah berbicara atas nama Allah tanpa ilmu. Dan hal demikian haram hukumnya, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. Al-A’raf [7]: 33)

Contoh dari firman Allah yang menyebutkan sifat-Nya adalah:

وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ غُلَّتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْۘ بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيۡفَ يَشَآءُۚ

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu’, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (QS. Al-Maidah [5]: 64)

Zahir ayat menunjukkan bahwa Allah memiliki dua tangan yang hakiki, maka wajib menetapkannya untuk Allah.

Jika ada yang berkata, “maksud tangan dalam ayat itu adalah kekuatan”,

Maka kita katakan kepadanya, “ini adalah penyelewengan ucapan dari zahirnya, tidak boleh berkata demikian, karena itu adalah berbicara atas nama Allah tanpa ilmu”.

2. Kaidah yang berkaitan khusus dengan nama-nama Allah

Di bawah kaidah ini terdapat beberapa cabang:

a. Asma (nama-nama) Allah semuanya husna (indah)

Nama-nama Allah berada di puncak keindahan, karena semua nama itu mengandung sifat-sifat yang sempurna yang tidak memiliki kecacatan sama sekali, dari sisi mana pun. Allah berfirman:

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf [7]: 180)

b. Nama-nama Allah tidak dibatasi dengan jumlah tertentu:

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang masyhur:

أَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ بكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

“Aku memohon kepada-Mu ya Allah, dengan seluruh nama yang Engkau miliki, nama yang dengannya Engkau menamai diri-Mu, atau menurunkannya dalam kitab-Mu, atau nama yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau nama yang Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib di sisi-Mu.” (Shahih, HR. Ahmad, no. 3712, Ibnu Hibban, no. 972 dan Al-Bazzar, no. 1994)

Cara mengkompromikan hadits ini dengan hadits shahih berikut:

إِنَّ لِلّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barang siapa yang menghitungnya (menghapalnya, berdoa dengannya dan mengamalkan kandungannya), ia akan masuk surga.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan yang lainnya)

Maksud hadits di atas adalah: bahwa di antara nama-nama Allah adalah 99 nama, siapa saja menghitungnya (menghapalnya, berdoa dengannya dan mengamalkan kandungannya), maka ia akan masuk surga. Hadits ini tidak bermaksud membatasi nama-nama Allah hanya berjumlah 99 saja, hal ini sebagaimana jika Anda berkata, “saya memiliki uang 100 dirham untuk disedekahkan”. Maka ucapan seperti itu tidak menutup kemungkinan bahwa Anda masih memiliki dirham-dirham lain yang tidak Anda siapkan untuk sedekah.

c. Nama-nama Allah tidak ditetapkan dengan akal, akan tetapi hanya ditetapkan dengan dalil syari’

Nama-nama Allah itu tauqiifiyyah, yaitu penetapannya terbatas hanya berdasarkan kepada apa yang dibawa oleh syari’at, tidak dapat ditambah maupun dikurangi, karena akal tidak mungkin mengetahui nama-nama yang dimiliki oleh Allah, oleh sebab itu, penetapannya wajib berdasarkan kepada syari’at saja. Selain itu, menamai Allah dengan nama yang tidak Dia gunakan untuk menamai diri-Nya sendiri, atau mengingkari nama yang Dia pergunakan untuk menamai diri-Nya, adalah pelanggaran terhadap hak Allah ta’ala. Maka wajib menerapkan adab dalam menetapkan nama-nama Allah (yakni dengan hanya merujuk kepada dalil syari’ saja).

d. Setiap nama dari nama-nama Allah, itu menunjukkan kepada dzat Allah, menunjukkan kepada sifat Allah, dan menunjukkan kepada pengaruhnya (terhadap makhluk) jika nama itu termasuk nama yang muta’addi (nama yang memiliki pengaruh terhadap makhluk);

Iman terhadap nama Allah tidak terwujud, kecuali dengan mengimanai itu semua.

Contoh penerapan kaidah di atas dalam mengimani nama yang tidak mutaa’ddi (tidak memiliki dampak pada makhluk): Allah memiliki nama Al-Azhiim (Yang Mahaagung), maka iman kepada nama tersebut tidaklah sempurna, sehingga kita menetapkan bahwa Al-Azhiim adalah salah satu dari nama-nama Allah yang menunjukkan kepada dzat-Nya yang Maha tinggi, dan menetapkan bahwa dalam nama tersebut terkandung suatu sifat, yaitu Al-‘Azhamah (keagungan).

Contoh penerapan kaidah di atas dalam mengimani nama yang mutaa’ddi: “Ar-Rahman” (Pemurah), iman kepada nama tersebut tidaklah sempurna, sampai kita menetapkan bahwa Ar-Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah yang menunjukkan kepada dzat Allah ta’ala, dan menetapkan bahwa dalam nama itu terkandung sifat rahmat (kasih sayang), dan beriman kepada efek yang merupakan konsekuensi dari nama tersebut, yaitu bahwasannya Allah merahmati siapa yang dikehendaki-Nya.

3. Kaidah yang khusus berkaitan dengan sifat-sifat Allah

a. Sifat-sifat Allah semuanya mulia, merupakan sifat-sifat yang sempurna dan terpuji, tidak ada kecacatan sama sekali, ditinjau dari sisi mana pun

Contoh sifat Allah: hidup (الحَيَاةُ), berkuasa (القُدْرَةُ), mendengar (السَّمْعُ), melihat (البَصَرُ), bijsana (الحِكْمَةُ), kasih sayang (الرَّحْمَةُ), tinggi (العُلُوُّ), dan sifat-sifat lainnya.

Sifat-sifat Allah semuanya mulia berdasarkan kepada berfirman-Nya:

وَلِلَّهِ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

“Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nahl [16]: 60)

Dan karena Allah adalah Rabb yang sempurna, maka sifat-sifat-Nya harus sempurna juga.

Sifat-sifat yang cacat, yang tidak sempurna adalah sifat yang tidak mungkin untuk Allah, seperti sifat mati, bodoh, lemah, tuli, buta dan yang semacamnya, karena Allah menghukum orang-orang yang menyifati-Nya dengan sifat-sifat yang cacat, Dia membersihkan diri-Nya dari sifat-sifat tercela yang disematkan oleh mereka, dan Rabb itu tidak boleh memiliki kecacatan, karena kecacatan bertentangan dengan rubuubiyyah (ketuhanan).

Jika suatu sifat, sempurna dari satu sisi, namun cacat dari sisi lain, maka sifat itu tidak ditetapkan untuk Allah, namun juga tidak mustahil bagi-Nya secara mutlak, akan tetapi perlu ada pemerincian, maka sifat itu ditetapkan untuk Allah pada saat menunjukkan kepada kesempurnaan, namun tertolak pada saat menunjukkan kepada kecacatan, seperti sifat “makar”, “tipu daya”, “muslihat” (taktik untuk menjebak) dan yang semisalnya.

Sifat-sifat ini menjadi kesempurnaan bagi Allah pada saat menghadapi makar, tipu daya dan muslihat dari para makhluk, karena sifat-sifat ini (makar, tipu daya dan muslihat yang Allah lakukan) menunjukkan bahwa Allah tidaklah lemah untuk menghadapi musuh-Nya dengan perbuatan yang serupa, sebagaiamana yang dilakukan oleh musuh itu.

Namun sifat-sifat ini menjadi cacat (bagi Allah) jika konteksnya bukan seperti yang telah dijelaskan. Oleh sebab itu, maka sifat-sifat seperti “makar”, “tipu daya”, “muslihat” adalah sifat yang ditetapkan untuk Allah pada keadaan yang pertama (saat menghadapi makar dan tipu muslihat musuh), dan tidak ditetapkan bagi Allah pada keadaan yang lain.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذۡ يَمۡكُرُ بِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثۡبِتُوكَ أَوۡ يَقۡتُلُوكَ أَوۡ يُخۡرِجُوكَۚ وَيَمۡكُرُونَ وَيَمۡكُرُ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya (makar) terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka berbuat makar dan Allah pun membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal [8]: 30)

إِنَّهُمۡ يَكِيدُونَ كَيۡدٗا ١٥ وَأَكِيدُ كَيۡدًا

“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun membuat tipu daya dengan sebenar-benarnya.” (QS. Ath-Thariq [86]: 15-16)

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa [4]: 142)

Dan ayat-ayat lain yang senada.

Jika ada yang bertanya, “Apakah Allah disifati dengan sifat makar?” Maka jangan Anda jawab “iya”, Dan jangan pula bilang “tidak”, akan tetapi katakan: Allah melakukan makar kepada yang pantas mendapatkannya, Allahu a’lam.

b. Sifat Allah terbagi menjadi dua macam:

1) Sifat tsubuutiyyah (yang ditetapkan)

2) Sifat salbiyyah (yang diingkari)

Sifat tsubuutiyyah adalah sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya, seperti sifat hidup, mengetahui dan berkuasa, maka wajib menetapkan sifat-sifat itu sesuai dengan penetapan yang sesuai untuk-Nya, karena Allah telah menetapkan untuk diri-Nya, dimana Allah adalah yang paling mengetahui sifat-sifat diri-Nya.

Sifat salbiyyah adalah sifat yang Allah ingkari dari diri-Nya, seperti sifat zhalim. Maka wajib meniadakan sifat itu dari Allah, karena Allah sendiri yang mengikarinya. Namun wajib meyakini sifat sempurna yang merupakan kebalikan dari sifat yang diingkari itu, karena pengingkaran itu tidak sempurna, kecuali disertai dengan penetapan. Contohnya:

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS. Al-Kahfi [18]: 49)

Maka wajib hukumnya, meniadakan sifat zhalim (aniaya) dari Allah dengan disertai penetapan sifat adil bagi-Nya, dengan penetapan yang paling sempurna.

c. Sifat tsubuutiyyah terbagi menjadi dua macam:

1) Sifat dzaatiyyah

2) Sifat fi’liyyah

Sifat dzaatiyyah adalah sifat yang tidak pernah dan tidak akan terpisah dari Allah, sifat dzaatiyyah terdiri dari dua macam:

a) sifat ma’nawiyyah, seperti: hidup (الحَيَاةُ), mengetahui (العلم), berkuasa (القُدْرَةُ) dan bijaksana (الحِكْمَةُ).

b) Sifat khabariyyah, seperti: mendengar (السَّمْعُ), melihat (البَصَرُ), dua tangan (اليَدَانِ), wajah (الوَجْهُ), dua mata (العَيْنَانِ) dan sifat-sifat lainnya yang serupa, yang tidak ditetapkan, kecuali dengan kabar khusus (dari Al-Quran dan hadits).

Dinamakan sifat dzaatiyyah karena sifat-sifat itu senantiasa melekat pada Allah, tidak pernah lepas.

Dan sifat fi’liyyah adalah sifat yang berkaitan dengan kehendak (المَشِيْئَة) Allah, jika Allah berkehendak, maka Allah melakukannya, jika tidak berkehendak, maka Dia tidak melakukannya.

Sifat fi’liyyah terdiri dari dua macam:

a) Sifat yang memiliki sebab yang diketahui, seperti: ridha, maka Allah meridhai jika ada sebabnya.

b) Sifat yang tidak memiliki sebab yang diketahui, seperti; turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir.

Di antara sifat-sifat Allah, ada yang termasuk sifat dzaatiyyah ditinjau dari suatu sisi, dan termasuk sifat fi’liyyah ditinjau dari sisi yang lain, misalnya: sifat berbicara (الكَلَامُ), ia adalah sifat fi’liyyah bila ditinjau berdasarkan rinciannya, namun secara asalnya, ia adalah sifat dzaatiyyah, karena Allah selalu dapat berbicara dan akan selalu mampu, hanya saja, Allah hanya mengatakan apa yang Dia inginkan, pada waktu yang Dia kehendaki (tidak terus menerus berbicara tanpa henti pent).

Dan dinamakan sifat fi’liyyah, karena sifat-sifat tersebut termasuk perbuatan Allah subhaanahu wa ta’ala.

d. Semua sifat dari sifat-sifat Allah, berlaku baginya 3 pertanyaan berikut:

1) Apakah sifat-sifat Allah itu hakiki (bukan kiasan)? Kenapa?

Jawab: iya, hakiki, karena asal dari setiap ucapan adalah hakiki, maka tidak boleh diubah kepada makna yang bukan hakiki, kecuali dengan dalil sahih yang menjadi bukti bahwa sifat itu tidak mungkin dimaknai dengan makna aslinya.

2) Apakah boleh menggambarkan (takyiif) sifat-sifat Allah? Kenapa?

Jawab: tidak boleh takyiif (menggambarkan) sifat-sifat Allah, karena Allah berfirman:

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِۦ عِلۡمًا

“Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Tha Ha [20]: 110)

Dan karena akal tidak mengkin mengetahui kaifiyyah (visualisasi/gambaran) dari sifat-sifat Allah.

3) Apakah sifat-sifat Allah itu serupa dengan sifat-sifat makhluk? Kenapa?

Jawab: sifat-sifat Allah tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk, karena Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)

Dan karena Allah adalah pemilik puncak kesempurnaan, sehingga tidak mungkin ia menyerupai makhluk, karena makhluk itu memiliki kekurangan.

Adapun perbedaan takyiif (memvisualkan) dengan tamtsiil (menyerupakan) adalah:

Tamtsiil itu menyebutkan gambaran sifat Allah berdasarkan kepada sifat makhluk yang diserupakan.

Sedangkan takyiif adalah menyebutkan gambaran sifat Allah tanpa mengacu kepada sifat makhluk tertentu yang diserupakan.

Contoh tamtsiil (menyerupakan): seseorang berkata, “Tangan Allah itu seperti tangan manusia”.

Contoh takyiif (memvisualkan): seseorang membayangkan untuk tangan Allah, gambaran tertentu yang tidak meyerupai tangan makhluk. Yang tentunya tidak boleh mengkhayal seperti ini.

4. Kaidah dalam membantah kelompok Mu’aththilah (yang mengingkari)

Mu’aththilah adalah orang-orang yang mengingkari sesuatu dari nama-nama Allah atau sifat-sifat-Nya, mereka mengubah nash (teks Al-Quran dan hadits) dari zahirnya, mereka juga disebut kelompok “Muawwilah” (tukang takwil).

Kaidah umum dalam membantah mereka adalah dengan mengatakan: sesungguhnya ucapan mereka menyelisihi zahir nash, menyelisihi metode salaf, dan ucapan mereka tidak ditopang oleh dalil yang sahih.

Bersambung insyaa Allah…

Diterjemahkan oleh Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. (Abu Ayman) dari kitab:
Syarah Al-‘Aqiidah Al-Waashithiyyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Karya Syaikh Muhammad Bin Shaalih bin Utsaimin, yang diringkas oleh Abdullah bin Muhsin Ash-Shaa’idi dalam kitabnya: Taqriib wa Tahdziib Syarh Al-‘Aqiidah Al-Waashithiyyah.