Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah Hanya Bertawassul dan Minta Syafaat kepada Sembahan Mereka

ORANG-ORANG MUSRYIK JAHILIYYAH HANYA BERTAWASSUL DAN MINTA SYAFAAT KEPADA SEMBAHAN MEREKA

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

2. Kaidah kedua:

Sesungguhnya orang-orang musyrik jahiliyah berkata: “Kami tidak menyembah dan mendatangi sembahan kami kecuali hanya untuk mencari kedekatan (bertawassul kepada Allah dengan sembahan tersebut) dan meminta pertolongan (syafa’at).”

Dalil tentang tawassulnya orang jahiliyah dengan sembahan mereka adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar [39]:3)

Adapun dalil tentang meminta syafa’at adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya orang-orang yang disebut musyrik oleh Allah dan divonis akan kekal di dalam neraka, mereka bukanlah orang-orang yang menyekutukan Allah di dalam rububiyyah-Nya, namun mereka menyekutukan Allah di dalam uluhiyah (ibadah). Mereka tidak mengatakan bahwa sembahan mereka (Lata, ‘Uzza, Manah dan lainnya) bersekutu dengan Allah dalam menciptakan, memberi rizki, mengatur segala urusan. Tidak pula mengatakan bahwa sembahan itu dapat mememberikan manfaat atau mudarat. Karena mereka hanya sebatas meyakini sembahan itu sebagai para penolong yang menyampaikan doa mereka kepada Allah. Sebagaimana Allah berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata,Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.’ Katakanlah, Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?’ Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan itu.”(QS. Yunus [10]: 18)

Orang jahiliyah menjadikan sembahan itu sebagai pemberi syafaat atau perantara yang menyampaikan kebutuhan mereka kepada Allah, dengan demikian, mereka menyembelih, beribadah kepada sembahan, bukan karena meyakini bahwa sembahan itu dapat menciptakan, memberi rizki, memberikan manfaat dan mudarat. Akan tetapi karena mereka meminta pertolongan kepada sembahan itu agar berkenan membantu mereka menyampaikan kebutuhan kepada Allah (mendo’akan).

Fenomena yang terjadi saat ini yang menimpa sebagian kaum muslimin, sebetulnya adalah hal yang sama seperti yang terjadi tempo dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang masa kini yang biasa ibadah di kuburan, mereka berkata:

“Saya sudah tahu bahwa wali ini, atau orang saleh ini tidak dapat mememberikan manfaat maupun mudarat, tapi yang saya inginkan dari orang saleh ini hanyalah syafaatnya di sisi Allah”

Justru perkara inilah yang menjadi sebab kemusyrikan orang-orang zaman dahulu.

Mereka memberikan permisalan:

Jika engkau menginginkan sesuatu dari seorang raja, maka engkau akan mencari perantara yang akan menjadi penengah agar kebutuhanmu terpenuhi. Saya mengharapkan ampunan dan rizki dari Allah, maka saya mencari perantara dari kalangan Nabi dan para wali, lantas saya meminta: “Wahai Wali Allah, Nabi Allah, bantulah aku di sisi Allah, doakanlah untukku kepada Allah agar Dia memberikan rizki, kesehatan, menyembuhkanku dari penyakit, membantuku menyelesaikan hutang, menjauhkanku dari musuh, menolongku mengalahkan musuh. Maka saya menjadikanmu perantara, saya berdoa kepadamu agar engkau berdoa kepada Allah untuk saya”.

Maka kita katakan bahwa para raja itu adalah makhluk, mereka manusia sama dengan kita, mereka tidak tahu perkara ghaib, tidak bisa membedakan mana yang jujur dan dusta. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui kebutuhan seluruh makhluk.

Adapun Rabb kita, Allah, maka tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Permintaan seluruh makhluk walaupun secara bersamaan, maka tak akan membuat-Nya bingung, walaupun menggunakan bahasa yang berbeda-beda dan kebutuhan yang beraneka ragam. Allah mendengar seluruh doa makhluk tersebut, maka tidak butuh kepada para perantara. Jadi bagaimana Allah disamakan dengan raja-raja yang merupakan makhluk?

Syafaat itu memiliki syarat dan aturan, tidak mutlak salah, juga tidak mutlak benar.

Syaikh Muhammad berkata:

“Syafa’at terbagi menjadi dua: Yaitu syafa’at terlarang dan syafa’at yang dibolehkan, syafa’at terlarang adalah syafa’at yang diminta kepada selain Allah dalam perkara yang hanya dapat dikabulkan oleh Allah.”  Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 254)

“Sedangkan syafa’at yang benar adalah syafa’at yang diminta kepada Allah. Pemberi syafa’at (Syafi’) adalah seseorang yang diberikan kehormatan oleh Allah untuk memberikan syafa’at (pertolongan), adapun yang disyafa’ati (masyfu’ lahu) adalah seseorang yang diridhai Allah, baik ucapan maupun amalnya, setelah sang pemberi syafa’at diizinkan oleh Allah.” Sebagaimana Allah berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

Bersambung in syaa Allah…

Ditulis oleh: Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. (Abu Ayman)
Referensi:

  • Al-Qawa’idul Arba’, Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab,
  • Syarh Al-Qawa’idul Arba’, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan