Bahaya Hasad

BAHAYA HASAD

Oleh: Doktor Sa’iid bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaani

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

،لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian saling hasad, saling melakukan najsy (menawar barang dengan harga lebih tinggi tanpa ada keinginan untuk membeli, akan tetapi supaya orang lain tertarik membelinya), saling membenci, saling memutuskan hubungan (tidak saling tegur, saling mendiamkan, saling perpaling), dan janganlah salah seorang dari kalian melakukan jual beli di atas jual beli sebagian yang lain, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ؛ لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ ؛ دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ

“Muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya; seorang muslim tidak boleh menzalimi yang lainnya, tidak boleh menelantarkan, dan tidak boleh merendahkannya. Takwa itu ada di sini – beliau mengucapkannya tiga kali sambil menunjuk dadanya- Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim, no. 2564).

Hadits di atas menunjukkan akan keharaman hasad, hakikat hasad adalah benci terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada orang yang dihasadi, berharap agar nikmat itu hilang.

Macam-macam hasad:

1. Benci terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang yang dihasadi, berharap nikmat itu hilang, lalu menjadi milik dia. Dalam hasad itu sejatinya terdapat sikap protes terhadap Allah dan pembagian-Nya.

Betapa indah syair berikut:

Katakanlah kepada yang melalui malam dalam keadaan hasad kepadaku,
Tahukah engkau kepada siapa engkau tak beradab?
Engkau berbuat jahat terhadap Allah, terkait dengan keputusan-Nya.
Karena engkau tidak terima atas pemberian Allah terhadapku.

2. Benci kepada nikmat Allah yang diberikan kepada orang yang dihasadi, berharap nikmat itu hilang, walaupun nikmat itu tidak berpindah kepada dirinya, ini adalah hasad yang lebih buruk daripada yang pertama.

Betapa indah apa yang dikatakan oleh seseorang:

Bersabarlah atas hasad seseorang, karena kesabaranmu akan mengalahkannya.
Api itu akan saling memakan, saat dia tidak mendapatkan apa pun yang dapat ia lahap.

Kedua hasad di atas adalah hasad yang tercela.

3. Hasad ghibthah, seseorang menginginkan keadaan seperti keadaan yang ada pada yang dihasadi, namun ia tidak berharap nikmat yang ada pada orang yang dihasadinya hilang. Hasad seperti ini boleh dan orangnya tidak tercela, bahkan ini dekat dengan makna munaafasah (berlomba-lomba). Allah ta’ala berfirman:

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلمُتَنَٰفِسُونَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”. (Al-Muthaffifin [83]: 26)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ، فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ 

“Tidak ada hasad kecuali dalam dua hal: seseorang yang diberikan Al-Quran, kemudian ia mengamalkannya pada malam dan siang hari, dan seseorang yang diberikan harta, lalu ia berinfak (di jalan Allah) pada malam dan siang hari”. (HR. Al-Bukhari, no. 5025 dan Muslim, no. 815)

Hasad yang tercela adalah termasuk sifat-sifat Yahudi, dan termasuk perbuatan Iblis, di antara contoh hasad tercela ini adalah: kisah dua putra Adam dan hasad putra-putra Ya’kub kepada saudaranya, Yusuf.

Bahaya hasad itu banyak, di antaranya: dalam hasad itu terdapat sikap protes terhadap ketetapan Allah; oleh sebab itulah dikatakan, bahwa hasad itu memakan kebaikan seperti api yang melahap kayu bakar.

Termasuk bahaya hasad adalah apa yang menimpa hati orang yang hasad, berupa rasa sakit dan benci, kedukaan dan kegundahan serta luka dalam hati, dan bahaya-bahaya lainnya.

Adapun dampak hasad di masyarakat, bahwa hasad itu menyebabkan terjadinya ghibah, adu domba, kejahatan, permusuhan, kezaliman, tuduhan, pencurian dan pembunuhan. Orang-orang yang hasad itu bermacam-macam, berbanding lurus dengan kelemahan iman mereka dan agama mereka.

Hasad merupakan penyakit yang berbahaya, ia dapat merusak hati, umat, masyarakat, jama’ah, keluarga, bahkan merusak agama dan akhlak.

Berikut adalah alasan-alasan yang membuktikan bahwa hasad merupakan perusak:

1. Hasad adalah penyakit yang sudah lama, termasuk penyakit hati yang menjangkiti umat-umat terdahulu; berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: 

،دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمُ؛ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ، هِيَ الْحَالِقَةُ، لَا أَقُولُ : تَحْلِقُ الشَّعَرَ. وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ

“Penyakit umat-umat (terdahulu) sebelum kalian telah menjangkiti kalian; hasad dan kebencian (permusuhan), dia (kebencian) adalah yang merontokkan, aku tidak berkata : ia merontokkan rambut, akan tetapi ia merontokkan agama”. (HR. At-Tirmidzi, no. 2510,dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih At-Tirmidzi (3/607))

2. Hasad termasuk sehina-hinanya akhlak buruk yang rusak.

3. Hasad termasuk maksiat hati yang paling berbahaya, sedangkan maksiat hati lebih besar dosanya daripada kebanyakan dosa-dosa anggota badan.

4. Hasad menunjukkan kepada lemahnya iman orang yang berhasad, berdasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: 

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, sehingga ia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sebagaiamana ia mencintai (kebaikan) untuk dirinya sendiri”. (HR. Al-Bukhari, no. 13 dan Muslim, no 45)

5. Hasad menunjukkan bahwa pelakunya kehilangan sikap tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا . وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Sesungguhnya sebagian mukmin untuk sebagian lainnya seperti bangunan yang satu dengan lainnya saling menguatkan. Beliau pun menjalin jari-jemarinya.” (HR. Al-Bukhari, no. 481 dan Muslim, no. 2585)

6. Hasad menunjukkan bahwa pelakunya kehilangan kasih sayang; berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: 

.مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi dan saling bersimpati (ikut serta merasakan perasaan orang lain), seperti tubuh, apabila ada anggota yang sakit maka seluruh tubuh akan saling memanggil untuk turut bergadang dan merasakan demam”. (HR. Al-Bukhari, no. 6011 dan Muslim, no. 2586).

7. Hasad adalah maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits:

…لَا تَحَاسَدُوا

“Janganlah kalian saling hasad…”

8. Hasad adalah termasuk sifat seburuk-buruk makhluk yang dapat berbicara (jin dan manusia):

a. Hasad adalah salah satu sifat Iblis, Allah berfirman:

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُواْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (Al-Baqarah [2]: 34)

Sungguh Iblis telah hasad kepada Adam, kemudian ia bermaksiat kepada Allah ta’ala, ia tidak mau bersujud saat diperintah oleh Allah subhanahu wa ta’ala

b. Hasad termasuk sifat Yahudi dan Nashara. Allah ta’ala berfirman:

وَدَّ كَثِيرٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَوۡ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعۡدِ إِيمَٰنِكُمۡ كُفَّارًا حَسَدٗا مِّنۡ عِندِ أَنفُسِهِم

“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena hasad yang (timbul) dari diri mereka sendiri”. (Al-Baqarah [2]: 109)

أَمۡ يَحۡسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۖ

“Ataukah mereka hasad kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?”. (An-Nisa [4]: 54)

c. Hasad termasuk sifat orang-orang munafik, Allah ta’ala berfirman:

هَٰٓأَنتُمۡ أُوْلَآءِ تُحِبُّونَهُمۡ وَلَا يُحِبُّونَكُمۡ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ كُلِّهِۦ وَإِذَا لَقُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ عَضُّواْ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَنَامِلَ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۚ قُلۡ مُوتُواْ بِغَيۡظِكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. [Ali Imran [3]: 119]

إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡ‍ًٔاۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيط

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali Imran [3]: 120)

9. Hasad tidaklah terjadi kecuali di antara orang-orang yang lemah akalnya (pikirannya tumpul):

a. Hasad terjadi di antara para wanita, mereka saling hasad, khususnya di antara para istri yang memiliki suami yang sama, kecuali orang yang Allah lindungi.

b. Hasad terjadi di antara orang-orang yang memiliki kekuasaan dan harta.

c. Hasad terjadi di antara orang yang semisal (sepadan, seprofesi) dan di antara rekan (teman sekerja), seperti hasad yang terjadi pada dua anak Adam, sang pembunuh telah hasad kepada yang dibunuh.

10. Sebab-sebab hasad, jika sebab-sebab itu atau sebagiannya ada, maka akan terjadilah hasad dari orang yang iri hati, di antaranya:

a. Permusuhan dan kebencian; sesungguhnya seseorang yang tersakiti, karena sebab apapun itu, maka ia tidak akan senang dan akan marah, kedengkian mengakar dalam hatinya.

Sedangkan kedengkian itu menuntut adanya penghilang kemarahan dan balas dendam, jika orang hasad ini tidak dapat menghilangkan amarahnya secara langsung, maka ia berharap agar orang yang dihasadi tertimpa musibah yang dengannya amarah dia reda,

ia senang dan bergembira di atas penderitaannya, ia mengira bahwa musibah itu terjadi demi dirinya,

namun jika orang yang dihasadi itu mendapatkan nikmat, maka ia tidak senang, karena hal itu bertentangan dengan keinginan dan harapannya.

b. Keburukan jiwa dan ketamakan; sebagian orang jika mendengar seseorang mendapatkan kebaikan, ia merasa tidak senang, namun jika ia mendengar bahwa orang itu tertimpa keburukan, ia gembira,

ia selalu benci orang lain mendapatkan kebaikan, ia ingin mereka mendapatkan keburukan dan kemalangan, seolah-olah mereka mengambil kebaikan itu dari rumahnya atau dari perbendaharaannya, padahal itu karunia dari Allah dan dari kemurahan-Nya.

Sebagian ulama berkata, “Orang bakhil itu adalah orang yang pelit dengan hartanya sendiri, sedangkan syahiih (orang tamak) adalah orang yang kikir dengan harta orang lain kepada manusia lainnya”.

Dikatakan pula, “Orang bakhil adalah orang yang menahan harta sendiri dan tidak menggunakannya untuk menunaikan kewajiban, adapun syahiih adalah orang yang tidak menggunakan harta untuk menunaikan kewajiban, disertai dengan ketamakan (keserakahan)”.

Orang yang memiliki tabi’at hasad adalah orang bakhil dan sekaligus syahiih: ia pelit dengan nikmat Allah untuk berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya dan menentang kemurahan Allah terhadap makhluk-Nya,

hal demikian tidak lain adalah dikarenakan kerusakan pada jiwa dan buruknya tabi’at,

sulit untuk diobati; karena hasad bila sebabnya adalah sesuatu yang bukan bawaan, maka mungkin untuk dihilangkan,

adapun ini, sebabnya adalah buruknya watak bawaan, bukan karena sebab yang baru, oleh karena itulah sulit untuk dihilangkan. Kita memohon pengampunan dan keselamatan dari Allah.

11. Dampak buruk hasad

a. Ghibah dan mengadu domba

b. Kezaliman dan kebencian

c. Pencurian dan pembunuhan

12. Penyembuhan hasad

a. Orang yang hasad wajib bertaubat kepada Allah, dan mengetahui bahwa Allah adalah yang memberi dan menahan, memuliakan dan merendahkan, semua itu berdasarkan kepada hikmah Allah yang sempurna,

tidaklah Allah memberi kecuali karena suatu hikmah, dan tidak pula menahan kecuali karena suatu hikmah yang Dia ketahui.

b. Berhenti dari memperhatikan manusia, hendaknya ia menggantungkan hatinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan meminta karunia dari-Nya.

c. Jika ia melihat ada orang yang bersaing dengannya dalam perkara dunia, maka saingilah dia dalam amal saleh yang dengan amal itu derajatnya di sisi Allah akan menjadi tinggi pada hari kiamat.

d. Pendidikan sedari kecil agar suka berbuat baik kepada orang lain.

e. Membiasakan diri untuk mengucapkan:

مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.

“Apa yang Allah kehendaki, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.

Ketika ada susuatu yang membuatnya takjub.

f. Saat ada hasad yang tercela dalam dirinya, hendaknya ia bersegera mendoakan kebaikan bagi yang dihasadi, agar dia diberikan tambahan keutamaan dari Allah ta’ala; 

terkadang seseorang memiliki hasad namun ia menyembunyikannya, sehingga hasadnya sama sekali tidak mengakibatkan keburukan:

keburukan dengan perbuatan, lisan dan tidak pula dengan tangannya, ia tidak memperlakukan saudaranya kecuali dengan perlakuan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, tidak seorang pun yang selamat dari hasad seperti ini kecuali orang yang dilindungi oleh Allah. Oleh sebab itu, dikatakan:

“Tidak ada satu tubuh pun yang tidak terjangkiti hasad, hanya saja orang tercela menampakkan hasad itu, sedangkan orang mulia menyembunyikannya”.

13. Orang yang hasad terkadang pandangan matanya dapat mendatangkan musibah, maka wajib bagi orang yang hasad untuk tidak mencelakai saudaranya.

Tidak diragukan, bahwa orang yang matanya menyebabkan terjadinya musibah, adalah orang hasad yang khusus, dia lebih berbahaya daripada orang yang sekedar hasad,

karena setiap orang yang matanya menyebabkan musibah, dia pasti orang yang hasad, namun tidak setiap orang yang hasad, matanya mengakibatkan musibah.

Ketika seorang muslim berlindung kepada Allah dari keburukan orang yang hasad, maka sudah otomatis dia pun berlindung dari orang yang matanya menimbulkan musibah. Ini termasuk keluasan Al-Quran, kemukjizatanya dan kefasihannya.

14. Sepuluh kiat untuk menolak keburukan orang yang hasad, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullaah:

a. Berlindung kepada Allah dari keburukannya

b. Bertakwa kepada Allah dan bersabar terhadap orang yang hasad

c. Tidak berkata kepada diri untuk melakukan keburukan kepada orang yang hasad

d. Bertawakal kepada Allah

e. Jangan biarkan hati memikirkannya dan disibukan dengannya

f. Mendekat kepada Allah dan ikhlash

g. Bertaubat dari segala dosa

h. Bersedekah dan berbuat baik

i. Memadamkan api hasad dengan berbuat baik kepada orang yang hasad dan mendoakan kebaikan baginya, ini adalah hal yang paling berat bagi jiwa

j. Sebab yang paling penting adalah mentauhidkan Allah ta’ala.

 

Diterjemahkan oleh Ustadz Hafizh Abdul Rohman, Lc. (Abu Ayman) dari kitab:
Salaamatush Shadri wa Khatharul Hiqdi wal Hasad wat Tabaaghudh wasy Syahnaa wal Hajr wal Qathii’ah Mafhuum wa Asbaab wa Aadaab wa Ahkaam wa ‘Ilaaj Fii Dhauil Kitaabi was Sunnah, Doktor Sa’iid bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaani.